BNPB soal Kayu Gelondongan Terbawa Banjir: Di Tapsel, Buat 2 Desa Rusak Berat

kumparan.com • 7 jam yang lalu
Cover Berita

Video kayu gelondongan besar yang berceceran dan ikut hanyut bersama banjir di Sumatera Utara sempat jadi perbincangan di media sosial. Dalam video itu juga tampak warga berhamburan menghindari terjangan banjir bandang.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, setelah ditelusuri, kayu gelondongan besar itu berada di Tapanuli Selatan. Karena itu pula, Tapanuli Selatan jadi daerah dengan dampak banjir-longsor terparah.

“Ada dua desa, yang mungkin kalau pernah muncul di video itu ada kayu-kayu gelondongan besar segala macam, ternyata itu di Tapanuli Selatan. Itu makanya kayu-kayu besar sampai masuk rumah segala macam itu,” ujar Suharyanto dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Banjir-Longsor di Aceh dan Sumatera yang digelar secara daring, Minggu (30/11).

Suharyanto juga menyebut, untuk dampak bencana di Sumatera Utara, kerusakan terberat berada di Tapanuli Selatan.

“Kalau yang Sibolga dengan Tapanuli Tengah sebetulnya dampak bencananya itu enggak parah. Parah tapi misalnya (sampai) lumpuh gitu, tidak. Sekarang setelah 2 hari 3 hari tidak hujan, rumah-rumah itu sudah membersihkan lumpur-lumpur itu,” kata Suharyanto.

“Jadi rusak sedang banyak, rusak ringannya enggak ada, tapi rusak beratnya itu lebih banyak di Tapanuli Selatan,” lanjutnya.

Kendati demikian, Suharyanto menegaskan kehidupan masyarakat di luar dua desa terdampak sudah berangsur pulih. Fasilitas dasar dan akses komunikasi perlahan membaik.

“Itu parah ya, tapi untuk kehidupan masyarakat di luar dua desa ini sudah relatif pulih. Karena itu tadi, kebutuhan-kebutuhan dasar, kemudian akses transportasi, akses komunikasinya ini tidak terlalu terganggu,” jelasnya.

Suharyanto juga memastikan komunikasi di sejumlah titik dapat dilakukan meski belum sepenuhnya lancar.

“Termasuk alat komunikasi, di beberapa titik walau belum lancar, tidak harus menggunakan Starlink itu bisa berkomunikasi dengan dunia luar,” tandasnya.

Sibolga-Tapanuli Tengah

Sejumlah dampak lainnya mulai dirasakan di Sibolga dan Tapanuli Tengah. Salah satunya, pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM). Warga harus antre untuk mendapatkan BBM.

“Kemudian BBM masih tersedia meskipun antre ya. Kemudian listrik, listrik ini tadi kami langsung berkomunikasi dengan Dirut PLN. Jadi memang banyak tower, gardu-gardu besar itu yang ambruk,” ucap Suharyanto.

Untuk mengatasi kendala listrik, pihaknya berkoordinasi dengan PLN agar suplai bisa dialihkan sementara menggunakan frekuensi rendah di wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah.

“Sehingga langkahnya untuk Tapanuli Tengah dan Sibolga itu nanti menggunakan frekuensi rendah. Seperti apa itu nanti tanya ke ahlinya yaitu PLN. Tapi artinya nanti kalau gardu rendah, frekuensi rendah itu sudah terpasang. Ya itu sudah normal,” ujar Suharyanto.

“Sekarang masih pakai genset. Besok dari PLN akan dilayani oleh BNPB. Mereka minta satu unit heli untuk masuk ke Sibolga, Tapanuli Tengah. Mudah-mudahan besok itu untuk listrik di dua daerah itu bisa normal,” lanjutnya.

Masalah air bersih juga masih berlangsung karena sistem distribusi bergantung pada suplai listrik. Banyak pipa yang tertutup lumpur sehingga proses normalisasi masih dilakukan bertahap.

“Air juga masih banyak yang mati, tentu saja air kan berhubungan dengan listrik. Kemudian juga yang punya pemerintah, airnya sedang proses normalisasi,” tutur Suharyanto.

“Karena banyak yang pipa-pipanya atau ujung-ujung pipanya tertutup lumpur. Nah mudah-mudahan ini semakin lama semakin baik,” tambahnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Baca juga:

thumb
thumb
thumb
thumb
thumb
Berhasil disimpan.