JAKARTA – Keberadaan ChatGPT bukan lagi dipandang sebagai hal yang aneh. Kini ChatGPT justru menjadi sahabat bagi sebagian orang.
Chatbot kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT awalnya digunakan untuk membantu meningkatkan produktivitas dan pekerjaan. Namun, kini para pengguna juga menggunakan ChatGPT sebagai temat curhat untuk menceritakan masalah hidup.
Tanpa disadari, ternyata ada potensi bahaya yang mungkin terjadi jika terlalu sering curhat dengan ChatGPT.
Seorang pria di Belgia melakukan bunuh diri pada 2023, setelah mengalami kecemasan terhadap lingkungan dan curhat kepada chatbot AI selama enam minggu. Ia bertanya-tanya tentang masa depan planet ini. Sang istri yang ditinggalkannya meyakini, tanpa percakapan tersebut suaminya akan tetap berada di sini.
Di Indonesia, curhat dengan ChatGPT juga menjadi hal lumrah, setelah sebelumnya manusia sering curhat di media sosial. Psikolog Forensik Kasandra Putranto mengingatkan bahaya curhat dengan ChatGPT tanpa pendampingan manusia.
Curhat dengan ChatGPT menjadi tren belakangan ini, terutama di kalangan kaum muda. (Unsplash)“Anak lahir bagaikan kertas putih. Tugas orang tua, ayah, ibu sebagai pilar keluarga, juga masyarakat, media, dan pemerintah, memastikan proses tumbuh kembang berjalan dengan lancar dan bebas dari risiko seperti ini,” ujarnya.
AI Menghadapi GugatanPerusahaan pengembang kecerdasan buatan OpenAI menghadapi tujuh gugatan hukum di pengadilan Negara Bagian California, Amerika Serikat. Gugatan itu menuduh produk ChatGPT mendorong beberapa penggunanya bunuh diri, mengalami delusi, dan menderita gangguan mental. Empat orang tercatat meninggal.
Gugatan itu menuding OpenAI melakukan kelaiaian, pembunuhan tidak disengaja, dan membantu bunuh diri (assisted suicide), demikian dilaporkan kantor berita Associated Press.
Menurut berkas gugatan, OpenAI disebut menyadari risiko psikologis CHatGPT. Namun perusahaan tersebut tetap merilis model GPT-4o secara terburu-buru tanpa pengujian keamanan memadai.
Model yang diluncurkan pada Mei 2024 itu dituding manipulatif dan didesain terlalu menyenangkan pengguna (sycophantic). Hal ini akhirnya dapat memicu ketergantungan emosional, gangguan mental, bahkan mendorong bunuh diri pada pengguna yang rapuh.
Salah satu gugatan atas nama Amaurie Lacey (17), siswa SMA Calhoun di Georgia, AS, yang meninggal karena bunuh diri pada Juni 2025. Menurut gugatan yang didaftarkan di Pengadilan Tinggi San Francisco, Lacey awalnya menggunakan ChatGPT untuk mencari bantuan dan dukungan emosional.
Tapi obrolannya dengan ChatGPT justru membuat dia kecanduan dan depresi. Pada akhirnya, ChatGPT memberi saran tentang cara paling efektif membuat jerat serta berapa lama ia dapat bertahan tanpa bernapas. Lacey kemudian ditemukan meninggal.
Pengguna ChatGPT di Indonesia pun terus mengalami peningkatan. Indonesia menempati peringkat kelima secara global dalam jumlah pengunjung ChatGPT tertinggi. Terdapat sekitar 17,5 juta pengunjung asal Indonesia yang mengakses chatgpt.com pada periode Januari hingga Juli 2025.
Tingginya minat ini didorong oleh pengguna AI untuk berbagai kebutuhan seperti pekerjaan (54 persen), edukasi (15 persen), dan mencari informasi dan nasihat. Mayoritas pengguna AI di Indonesia adalah usia muda (18-25 tahun), dan frekuensi penggunaannya meningkat hingga lebih dari sekali sebulan.
Tidak Berikan Dukungan PsikologisMengutip the Guardian, para ahli memperingatkan bahwa beralih ke chatbot AI saat krisis kesehatan mental justru dapat memperburuk situasi. Para ahli percaya bahwa chatbot-chatbot ini disancang untuk menjadi “penjilat” dan menyenangkan pengguna, bukan sebagai pengganti bantuan psikiater yang tepat.
Psikolog Klinis Kasandra Putranto mengingatkan adanya risiko serius terhadap anak dan remaja yang berinteraksi dengan mesin tanpa pendampingan manusia. Menurut Kasandra, orang tua memiliki peran sangat penting dalam mengawasi tumbuh kembang anak di era digital. Ia pun menekankan bahwa anak membutuhkan interaksi manusiawi yang penuh empati, bukan sekadar jawaban dari mesin.
“Anak lahir bagaikan kertas putih. Tugas orang tua, ayah, ibu sebagai pilar keluarga, juga masyarakat, media, dan pemerintah, memastikan proses tumbuh kembang berjalan dengan lancar dan bebas dari risiko seperti ini,” ujarnya.
Kasandra juga berperan agar generasi muda tidak menggantungkan diri pada AI untuk mencari solusi emosional atau pribadi. Karena, Chat GPT hanyalah mesin, tidak punya analisis secara humanis.
Sementara itu, Dosen Psikologi Universitas Islam Riau (UIR) Icha Herawati, S.Psi, M.Soc., SC secara umum menyebut penggunaan ChatGPT bagus untuk dijadikan tempat diskusi karena mampu memberikan respons, meski jawaban tersebut belum tentu ilmiah karena tidak mencantumkan referensi yang jelas.
Anak-anak perlu pendampingan orang tua dalam berinteraksi dengan teknologi seperti ChatGPT. (Unsplash)Terkait fenomena curhat di ChatGPT, Icha tidak memandang sepenuhnya negatif. Sisi baiknya, ChatGPT dapat memberikan respons dan masukan yang masuk akal dibandingkan seseorang curhat pada orang yang salah.
Meski demikian, ia menekankan teknologi ini tidak mampu memberikan dukungan psikologis. Padahal, ketika seseorang curhat membutuhkan telinga untuk didengar dan penguatan, sedangkan ChatGPT tidak dapat memberikan itu.
Icha menjelaskan, memang ada beberapa curhatan yang direspons benar secara logika, tapi tidak benar secara manusiawi. Ketika curhat, ada hal lain yang tidak bisa didapatkan melalui ChatGPT, yaitu respons berupa sentuhan dan tatapan mata. Karena itulah, bagaimana pun, manusia tidak bisa digantikan ChatGPT.
“Jika kita curhat dengan manusia, respons yang ia berikan dari sentuhan atau tatapan mata saja sudah mampu menguatkan kita, dan hal ini yang tidak akan bisa diberikan oleh AI”, tutup Icha.