PT GTS International Tbk (GTSI), perusahaan pelayaran energi nasional yang fokus pada transportasi dan logistik Gas Alam Cair (LNG), berencana menambah armada baru. Hal itu dilakukan setelah mengamankan pendanaan sekitar US$50 juta dari perbankan atau Rp836,15 miliar (asumsi kurs Rp16.723). Pembelian satu kapal pengangkut LNG bernama Danaputri 1 dengan nilai US$26 juta, atau sekitar Rp434,80 miliar.
"Ini merupakan alat produksi pertama setelah lebih dari 25 tahun," ujar Direktur Utama GTSI Ari Askhara dalam paparan publik yang digelar secara daring, Kamis (18/12).
Penambahan kapal ini sejalan dengan rencana ekspansi perseroan. Anak usaha dari PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) itu menargetkan penambahan satu kapal pada 2025 dan dua kapal tambahan pada 2026, guna menangkap lonjakan permintaan jasa transportasi LNG di pasar domestik maupun kawasan.
Saat ini, GTSI telah mengoperasikan beberapa kapal LNG, salah satunya Ekaputra 1, yang memiliki kapasitas tangki LNG terbesar di Indonesia.
"Komitmen kami untuk mendatangkan tiga alat produksi," tegas Ari.
Untuk pengadaan kapal berikutnya pada 2026, rmiten transportasi LNG milik Tommy Soeharto ini tengah melakukan negosiasi dengan satu pihak, meski belum dapat mengungkapkan mitra maupun nilai transaksi. Ari berpandangan bisnis LNG memiliki potensi besar di Indonesia, tidak hanya sebagai jasa pengangkutan, tetapi juga sebagai bagian dari rantai pasok energi nasional.
"GTSI menilai masih banyak wilayah, baik di dalam maupun luar negeri, yang membutuhkan pasokan gas dari Indonesia," ucapnya.
Dalam operasionalnya, GTSI melayani pelanggan internasional dan domestik seperti BP Tangguh, Kilang Bontang milik Pertamina, dan PT PLN.
Ke depan, lanjut Ari, perseroan memperluas bisnis ke segmen LNG ritel dengan membentuk anak usaha Solusi Prisma Metana (SPM) yang akan menangani penjualan LNG secara komersial untuk hotel, restoran, dan kafe, dimulai dari Jakarta. Untuk mendukung pasokan LNG yang konsisten, SPM akan bekerja sama dengan mitra dan investor asal Tiongkok guna mendatangkan kapal yang mampu mengangkut LNG dari sumber gas terisolasi (stranded gas), khususnya di wilayah Indonesia bagian timur dan daerah terpencil di Sumatra.
"Langkah ini diharapkan memperkuat keamanan pasokan LNG bagi segmen ritel," ucapnya.
Dari sisi kinerja keuangan, GTSI mencatat pertumbuhan aset sebesar 18% secara tahunan (year-on-year) dari 2024 hingga November 2025. Perseroan berharap tren pertumbuhan tersebut berlanjut pada 2026, meski tetap membutuhkan dukungan pendanaan dari investor dan perbankan, termasuk dari BNI dan BRI. (E-4)





