Berani Menjadi Diri Sendiri

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Beberapa hari lalu, aku melihat sebuah video di TikTok yang mengatakan, "Kalau kamu nggak meluangkan waktu untuk mengenal diri sendiri, orang lain yang akan membuatmu menerima apa yang mereka katakan."

Dan itu sangat menyentuh. Seberapa sering kita membiarkan itu terjadi? Seberapa sering kita membiarkan dunia, teman, keluarga, bahkan orang asing menentukan siapa diri kita?

Coba pikirkan. Jika kamu tidak meluangkan waktu untuk mengenali apa yang kamu suka, apa yang kamu yakini, dan apa yang benar-benar membuatmu hidup, orang lain yang akan menentukannya untukmu.

Dan yang lebih mengerikan, kamu mungkin tidak sadar kapan itu terjadi. Tiba-tiba, suatu hari kamu akan terbangun dan menyadari bahwa hidup yang kamu jalani selama ini dibentuk oleh pendapat orang lain, bukan oleh dirimu sendiri.

Itu tidak terjadi begitu saja. Ketika seseorang bilang, "Kamu terlalu sensitif," kamu mulai menahan diri untuk tidak mengekspresikan emosimu.

Dan saat mereka bilang, "Kamu terlalu pendiam," kamu memaksakan diri untuk lebih banyak bicara, padahal sebenarnya kamu tidak nyaman.

Untuk apa? Agar disukai? Atau agar kamu dapat diterima?

Ingat: tidak ada yang berhak mendefinisikan dirimu. Bukan teman-temanmu, bukan orang tuamu, bukan juga masyarakat. Hanya kamu yang bisa.

Namun, hal itu butuh usaha. Butuh keberanian untuk duduk dengan diri sendiri, menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit, dan jujur sepenuhnya tentang apa yang kamu mau dan siapa kamu sebenarnya.

Tidak mudah. Kadang berantakan, ada rasa tidak nyaman, bahkan terasa sepi. Namun percayalah, itu sepadan.

Karena kalau tidak demikian, kamu akan menjalani hidup seperti cermin yang memantulkan harapan orang lain tanpa pernah benar-benar jadi diri sendiri. Sampai suatu hari, kamu terbangun dan menyadari bahwa kamu bahkan tidak mengenal siapa dirimu.

Jadi, sekarang mari berefleksi: Kapan terakhir kali kamu benar-benar meluangkan waktu untuk mengenal dirimu sendiri?

Kapan terakhir kali kamu bertanya, "Apa yang sebenarnya aku mau? Apa yang bikin aku benar-benar bahagia? Apa yang sebenarnya aku yakini?"

Kalau kamu belum punya jawabannya, tidak masalah. Namun, mulailah bertanya. Perhatikan apa yang membuat kamu bersemangat dan apa yang justru menguras energimu.

Belajarlah untuk mengatakan "tidak" untuk hal-hal yang membuatmu tidak nyaman saat melakukannya, meskipun itu mengecewakan orang lain.

Dan mulailah mengatakan "iya" pada bagian dari dirimu yang sudah terlalu lama kamu abaikan.

Kamu berhak menjalani hidup yang benar-benar milikmu, hidup di mana kamu tahu siapa dirimu dan tetap teguh pada itu.

Karena dunia akan selalu mencoba mendiktemu. Namun pada akhirnya, pilihan ada di tanganmu: memilih untuk mendengarkan atau tetap menjadi diri sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dari Timur ke Barat, Ini Urutan Negara-negara Rayakan Tahun Baru 2026
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Tapsel Berlarian Sambut Prabowo di Jembatan Bailey Sungai Garoga
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Kenapa Laga Madura United vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton?
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
AIxiety: Kecemasan Generasi Z Menghadapi Masa Depan Kerja
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Belum Dieksekusi, Kejagung Masih Buru Silfester Matutina
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.