Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2025 terbukti menjadi tahun yang penuh paradoks bagi pasar keuangan global. Di saat bursa saham utama seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Indonesia sedang menikmati pesta bull market, segelintir pasar saham justru terperosok dalam ke dalam koreksi bear market.
Fenomena ini menunjukkan bahwa arus likuiditas global sangat selektif. Investor cenderung meninggalkan pasar yang memiliki risiko geopolitik tinggi atau yang fundamental ekonominya sedang terguncang. Berdasarkan data perdagangan akhir tahun, Lebanon dan Denmark memimpin daftar pasar saham dengan rapor merah paling pekat di dunia.
Berikut adalah 5 indeks saham dengan kinerja terburuk (top losers) secara YTD sepanjang tahun 2025:
//FMG_Tag - IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - expandedFloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);//
Beban Geopolitik dan Risiko Sistemik
Faktor utama yang menekan kinerja pasar di papan bawah tahun ini adalah ketidakpastian geopolitik dan krisis ekonomi domestik. Lebanon (BLOM Index) menjadi pasar dengan kinerja terburuk di dunia dengan koreksi mencapai 25,00%.
Penurunan ini mencerminkan lumpuhnya kepercayaan investor terhadap sistem keuangan negara tersebut yang masih didera krisis perbankan dan hiperinflasi. Selain itu, posisi Lebanon yang berada di pusaran konflik Timur Tengah membuat premi risiko investasi melonjak, memicu arus keluar modal asing (capital outflow) secara persisten.
Narasi serupa terjadi pada Ukraina (PFTS Index), yang terkoreksi 8,26%. Konflik berkepanjangan terus menggerus aktivitas ekonomi riil dan infrastruktur, membuat valuasi aset di pasar tersebut terdiskoun besar-besaran karena persepsi risiko keamanan yang tinggi.
Anomali Pasar Maju dan Rotasi Sektor
Kejutan terbesar tahun ini datang dari Eropa Utara. Denmark (OMX Copenhagen 20), yang berstatus sebagai developed market, justru anjlok 23,51%. Koreksi tajam di pasar negara maju ini mengindikasikan adanya rotasi sektor global yang agresif.
Investor institusi tampaknya melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada sektor defensif dan farmasi-yang memiliki bobot sangat besar di indeks Denmark-untuk memindahkan likuiditasnya ke sektor teknologi dan artificial intelligence (AI) di Amerika Serikat.
Dinamika ini diperburuk oleh kebijakan moneter di Eropa yang masih relatif ketat sepanjang paruh pertama 2025, yang turut menyeret bursa Islandia (ICEX) ke zona merah dengan penurunan hampir 9%. Likuiditas yang mengetat membuat pasar dengan kapitalisasi yang lebih kecil menjadi sangat rentan terhadap volatilitas.
Ketergantungan Komoditas Energi
Di kawasan Teluk, Arab Saudi (TASI) menutup tahun dengan koreksi double digit sebesar 12,84%. Kinerja negatif ini menegaskan tantangan bagi pasar yang memiliki korelasi tinggi dengan harga komoditas tunggal.
Fluktuasi harga minyak mentah dunia dan kebijakan penyesuaian produksi OPEC+ memberikan tekanan langsung pada profitabilitas emiten raksasa energi dan petrokimia yang mendominasi bursa Saudi.
Di tengah transisi energi global dan perlambatan permintaan dari beberapa negara konsumen utama, investor cenderung mengurangi eksposur mereka di sektor energi konvensional, yang berimbas pada performa indeks acuan Arab Saudi sepanjang tahun ini.
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)




