Langit masih gelap ketika Dahlan (50) mulai menyapu kawasan Bundaran HI selepas perayaan malam tahun baru 2026.
Ia sudah berseragam lengkap, berdiri di tengah jalan, membersihkan sisa-sisa botol plastik dan kemasan makanan sejak pukul 04.00 WIB.
“Shift pagi dari jam 4 sampai jam 12,” kata dia di sela istirahatnya.
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang sudah bekerja sejak 2015 itu mengatakan, volume sampah bekas perayaan tahun baru di kawasan Bundaran HI diperkirakan mencapai 1 ton.
“Ya sekitar satu ton lebih. Umumnya sih paling banyak jenis-jenis plastik ya, kemasan,” ujar dia.
Namun, di balik tumpukan sampah itu, ada kisah lain yang jarang tersingkap. Bagi Dahlan dan rekan-rekannya, bekerja tanpa makan bukan hal yang asing. Mereka menahan lapar karena tak kantongi uang untuk membeli makan.
“Kadang-kadang puasa. Kalau ikhlas pasti sehat-sehat aja,” ungkap Dahlan lirih.
Puasa yang dimaksud bukan hanya menahan lapar beberapa jam. Dalam sepekan, Dahlan mengaku bisa tidak makan hingga lima atau enam hari.
“Makan sekali. Pagi makan, ya sudah, ketemu pagi lagi bisa,” ungkapnya.
Air putih dan kopi menjadi penahan perut saat tenaga harus terus diperas.
“Ya kayak begini nih. Ngopi aja, air putih. Ganjal mulut. Kadang-kadang kalau Jumat, suka ada nasi Jumat berkah,” timpal rekannya, Listyo, yang juga tengah beristirahat.
Di luar itu, mereka bertahan dengan apa yang ada. Seperti yang Dahlan, Listyo, dan Jaeni lakukan hari ini. Bekerja 8 jam sehari dengan menenggak satu botol air mineral yang sama.
“Airnya begini, barengan bertiga. Pokoknya mau gimana, yang penting sehat aja,” tutur Dahlan.
Pekerjaan PPSU bukan hanya soal menyapu. Risiko selalu mengintai, terutama saat bekerja subuh di jalan raya. Dahlan pernah nyaris tertabrak motor. Listyo bahkan pernah hampir ditendang pengendara mabuk saat sedang bekerja.
Hujan juga menjadi tantangan tersendiri. Tubuh yang sudah berkeringat harus kembali diguyur air.
“Fisiknya harus benar-benar kuat. Kita kerja dalam posisi hujan, ada yang sanggup enggak? Pasti kan otomatis badan kita kan udah keluar keringat, kena air,” kata Dahlan, dalam balutan seragamnya yang penuh keringat.
Meski begitu, mereka tetap bekerja cepat. Sampah dikumpulkan tanpa dipilah agar jalan segera terlihat bersih. “Sistemnya cepat, biar orang tidak melihat kotornya. Dipilah nanti di DLH (Dinas Lingkungan Hidup),” tambah Listyo.
Di sela lelahnya, harapan sederhana terucap. Menjelang usia pensiun, Dahlan dan rekan-rekannya menyadari tak ada jaminan hari tua.
“Harapannya mungkin tunjangan. Tunjangan hari tuanya tuh diadakan gitu. Kita pengabdiannya udah benar-benar,” pungkas Listyo.


