Pantau - Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki dan mengelola jaringan irigasi secara berkelanjutan guna mempercepat tercapainya swasembada beras nasional.
Langkah ini mencakup pembangunan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi di berbagai daerah.
Pengelolaan Air Jadi Kunci Ketahanan PanganDirjen Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, menyampaikan bahwa pengelolaan air yang tepat tidak hanya menyangkut aspek teknis, tapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional.
"Pengelolaan air yang tepat bukan sekadar teknis semata, tetapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan," ujarnya.
Dengan perhitungan yang akurat, petani dapat memaksimalkan penggunaan air, mengurangi risiko kekurangan air di musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas pertanian.
Ditjen LIP terus menerapkan prinsip pengelolaan irigasi berkelanjutan dengan menjalin koordinasi intensif bersama Kementerian PUPR melalui Ditjen SDA dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS/BWS) di daerah.
"Melalui perbaikan jaringan irigasi tersier dan koordinasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), distribusi air ke lahan pertanian dapat dijaga dengan baik," tambah Hermanto.
Inpres 2/2025 Percepat Rehabilitasi Irigasi NasionalUpaya ini sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi, yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 30 Januari 2025.
Inpres tersebut ditujukan untuk mempercepat perbaikan irigasi di Daerah Irigasi (DI), di mana sekitar 60 persen kondisinya belum optimal.
Realisasi Inpres 2/2024 Tahap 1 dengan target 280.880 hektare tercapai 99,93 persen.
Tahap 2 dengan target 225.775 hektare menunjukkan realisasi:
Jaringan utama: 83,46 persen
Jaringan tersier: 98,66 persen
Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT): 92,25 persen
Untuk Tahap 3 dengan target 146.503 hektare:
Jaringan utama: 67,67 persen
Jaringan tersier: 87,57 persen
Jaringan JIAT: 93,91 persen
"Ini adalah hasil kerja keras dan kolaborasi bersama dengan Kementerian PU, termasuk dukungan kuat dari pemerintah daerah," ujar Hermanto.
Produksi Beras Naik, Optimasi Lahan dan CSR Jadi Fokus LanjutanBadan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 34,77 juta ton, naik 13,54 persen dari tahun sebelumnya.
Peningkatan ini didorong oleh kenaikan luas panen hampir 13 persen, dengan potensi produksi padi mencapai 60,34 juta ton gabah kering giling (GKG).
Capaian tersebut menunjukkan bahwa penguatan sistem irigasi pertanian menjadi fondasi utama dalam mendukung swasembada pangan nasional.
"Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya implementasi Inpres 2/2025 akan dilanjutkan yang juga diperkuat dengan kegiatan strategis lain seperti Optimasi Lahan (Opla) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR)," tambah Hermanto.
Ia menegaskan bahwa seluruh program ini merupakan bentuk komitmen Kementan dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2022%2F06%2F02%2F0d20ec82-cc31-4d3a-9f2d-44c564141375.jpg)


