Membaca Bencana dari Langit

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sebuah unggahan foto citra satelit tentang wilayah yang dilanda bencana—dengan jejak kerusakan hutan yang mencolok—menjadi pemantik renungan yang tidak saya duga sebelumnya. Bukan hanya tentang bencana itu sendiri, melainkan juga tentang cara kita membaca tanda-tanda alam yang sebenarnya telah lama terbentang di hadapan mata.

Dari satu gambar, muncul dorongan untuk menengok lingkungan sekitar saya sendiri, seolah-olah baru kali itu saya benar-benar melihatnya.

Pada titik itu, rasa menyesal pun hadir. Mengapa gagasan sesederhana ini tidak terpikir lebih awal? Mengapa butuh bencana di tempat lain untuk menyadarkan saya akan kondisi di sekitar saya sendiri? Beberapa kali ego saya terasa runtuh, kalah oleh kenyataan bahwa cara berpikir saya selama ini terlalu sempit, terlalu reaktif, dan terlalu bergantung pada narasi “kejadian” alih-alih “pertanda”.

Berangkat dari rasa itu, saya membuka Google dan mengetikkan “foto satelit kabupaten X”. Dalam hitungan detik, Google Maps menampilkan bentang wilayah dari sudut pandang langit. Saya memperbesar tampilan, perlahan, hingga detail-detail mulai tampak.

Di sana terlihat perbedaan warna yang tegas: hijau yang menandai vegetasi, cokelat atau abu-abu yang menunjukkan lahan terbuka, dan blok-blok padat yang merepresentasikan permukiman. Pada bagian tertentu, saya mengambil tangkapan layar.

Dari pengamatan kasar saja, dugaan mulai terbentuk. Pola-pola itu berbicara, meski tanpa kata. Ada sesuatu yang sedang terjadi, sesuatu yang bergerak ke arah tertentu.

Namun dugaan tetaplah dugaan. Untuk memperoleh keyakinan awal—atau setidaknya indikasi yang lebih terstruktur—saya teringat pada kemampuan kecerdasan buatan (AI) yang kini mampu menganalisis gambar dengan ketelitian yang mengagumkan.

Saya unggah tangkapan layar tersebut ke aplikasi AI, lalu menambahkan pertanyaan sederhana, tetapi fundamental: Apa yang Anda lihat? Apa yang sedang terjadi di wilayah ini? Apa yang kemungkinan terjadi dalam 5 hingga 10 tahun ke depan?

Hasilnya jauh melampaui ekspektasi saya. Analisis yang muncul bukan sekadar deskripsi visual, melainkan juga pembacaan pola, kecenderungan, dan konsekuensi. Bahkan, AI itu menawarkan analisis lanjutan, seolah-olah membuka lapisan-lapisan realitas yang sebelumnya tak saya sadari.

Tentu saja, hasil tersebut bukan kebenaran mutlak. Data semacam itu tetap membutuhkan pendalaman, verifikasi lapangan, dan pembacaan kontekstual. Namun sebagai indikasi awal, ia sudah lebih dari cukup untuk membunyikan alarm.

AI bahkan menyajikan skenario: jika kondisi ini dibiarkan, risiko tertentu akan meningkat; jika dilakukan intervensi, arah perubahan bisa berbeda. Dalam satu unggahan gambar, saya seperti diperlihatkan peta masa depan—lengkap dengan cabang-cabang kemungkinan.

Di titik inilah saya sampai pada kesadaran penting: apa yang saya lakukan ini sesungguhnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Citra satelit tersedia secara bebas tersedia di Google Maps. Aplikasi AI pun kini hadir dalam berbagai bentuk dan pilihan. Artinya, kemampuan membaca tanda-tanda ekologis bukan lagi monopoli akademisi, lembaga riset, atau institusi negara. Ia telah menjadi pengetahuan yang terdemokratisasi.

Kesadaran itu membawa imajinasi saya melangkah lebih jauh. Saya membayangkan seorang kepala daerah melakukan hal yang sama: membuka peta wilayahnya, memperhatikan perubahan warna dan pola, lalu meminta bantuan AI untuk membaca kecenderungan. Dari sana, ia memperoleh gambaran awal tentang risiko ekologis yang sedang tumbuh—sebelum risiko itu menjelma menjadi bencana.

Bayangan itu berlanjut. Kepala daerah tersebut kemudian memanggil jajarannya, termasuk pihak-pihak tertentu, dinas terkait, dan unsur forkopimda. Ia tidak datang dengan kepanikan, tetapi dengan data awal dan analisis indikatif.

Hasil pembacaan itu dipaparkan, didiskusikan, dikritisi, dan diverifikasi. Forum itu menjadi ruang konfirmasi, evaluasi, sekaligus perumusan langkah mitigasi yang berbasis bukti, bukan sekadar intuisi atau tekanan situasional.

Dalam kerangka seperti itu, pencegahan tidak lagi terdengar sebagai jargon, tetapi sebagai praktik nyata. Tidak perlu menunggu laporan kerusakan, korban jiwa, atau status tanggap darurat. Upaya preventif bisa dimulai sejak tanda-tanda awal terbaca. Negara—dalam hal ini pemerintah daerah—hadir bukan sebagai pemadam kebakaran, melainkan sebagai pembaca arah angin.

Memang, aktivitas semacam ini mungkin tampak sepele. Bahkan, bisa dianggap “kurang kerjaan” oleh sebagian orang. Mengamati peta, memperbesar layar, dan berdiskusi tentang kemungkinan yang belum terjadi sering kali kalah menarik dibanding merespons kejadian yang sudah viral.

Namun, justru di situlah ironi terbesar kita: ketika bencana benar-benar datang, penyesalan yang muncul nyaris selalu sama—mengapa tanda-tandanya tidak dibaca sejak awal.

Dalam konteks hari ini, ketika teknologi telah menyediakan alat yang begitu mudah diakses, alasan untuk abai menjadi semakin rapuh. Kita tidak lagi kekurangan data; kita justru sering kekurangan kemauan untuk melihat dan keberanian untuk bertindak lebih awal. Padahal, membaca bencana sebelum ia terjadi adalah bentuk tanggung jawab paling rasional yang bisa kita lakukan.

Barangkali, yang kita perlukan bukan teknologi yang lebih canggih, melainkan cara berpikir yang lebih jernih. Bahwa dari langit, alam telah lama memberi isyarat. Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: Apakah kita mau membacanya, atau terus menunggu sampai semuanya terlambat?


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Adu Taji Emiten Konglomerat Haji Isam, Hapsoro dan Bakrie, Mana Paling Cuan?
• 52 menit lalukatadata.co.id
thumb
Minta Maaf, Prabowo Akui Dengar Keluhan Korban Banjir Pertanyakan Kehadiran Presiden
• 2 jam lalukompas.com
thumb
5 Manfaat Luar Biasa Bit bagi Kesehatan Tubuh, Jaga Jantung hingga Otak
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Legenda Liverpool Jamie Carragher Bisa Picu Permusuhan Gabriel Jesus dan Viktor Gyokeres di Arsenal
• 19 jam laluharianfajar
thumb
 Kisah Inspiratif: Utang Kehidupan
• 23 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.