JAKARTA, KOMPAS — Pimpinan Pusat Muhammadiyah memandang kedewasaan bangsa sebagai kunci utama dalam menghadapi tahun 2026 yang diperkirakan sarat tantangan nasional dan global. Di tengah ujian bencana alam dan dinamika kehidupan berbangsa, kematangan berpikir, bersikap, dan bertindak dipandang menentukan keutuhan serta arah kemajuan Indonesia.
Seruan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam pidato Refleksi Akhir Tahun 2025 bertajuk Bangkit Bersama untuk Indonesia lewat video yang diunggah di akun Muhammadiyah Channel di kanal youtube. Seperti dikutip Kompas, Kamis (1/1/2026), refleksi itu disampaikan di tengah suasana duka akibat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Haedar menuturkan, bencana bukan hanya peristiwa kemanusiaan, tetapi juga momentum untuk bercermin tentang kualitas kehidupan berbangsa. Cara negara, elite, maupun masyarakat dalam merespons musibah akan mencerminkan tingkat kedewasaan kolektif dalam menghadapi ujian bersama.
Menurutnya, tuntutan kedewasaan tidak hanya berlaku saat bangsa berada dalam krisis, tetapi juga dalam kondisi normal. Kedewasaan tersebut menjadi prasyarat agar Indonesia tetap utuh dan mampu melangkah maju.
“Dalam suasana kritis maupun normal, bangsa ini dituntut semakin dewasa untuk berpikir, bersikap, dan bertindak yang serba utama, agar Indonesia tetap utuh dan maju dalam segala bidang kehidupan,” ujarnya.
Haedar menilai, Indonesia akan memasuki fase yang cukup berat di tahun 2026. Konstelasi global yang makin kompleks, disertai persoalan politik, ekonomi, sosial budaya, keagamaan, perkembangan ekosistem, serta perubahan iklim, menuntut kewaspadaan dan kecermatan dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai persoalan tersebut saling terkait dan tidak dapat dihadapi secara parsial.
“Masalah politik, ekonomi, sosial budaya, keagamaan, perkembangan ekosistem, perubahan iklim, dan problematika lainnya yang berat dan kompleks menuntut transformasi kehidupan yang bermakna agar Indonesia mampu melangsungkan kehidupan dan memproyeksikan masa depan ke jalan yang semakin pasti dan benar arah perjalanannya,” katanya.
Pluralitas kebangsaan yang kian bebas ke arah serbabebas atau liberal menuntut rujukan konstitusional dan penguatan nilai yang kokoh bersendikan Pancasila
Lebih jauh, Haedar juga menyinggung kehidupan demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralitas kebangsaan yang kian terbuka. Kebebasan yang berkembang pesat dinilai membawa peluang sekaligus risiko apabila tidak disertai rujukan nilai dan konstitusi yang kokoh.
“Kehidupan demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralitas kebangsaan yang kian bebas ke arah serbabebas atau liberal menuntut rujukan konstitusional dan penguatan nilai yang kokoh bersendikan Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa,” tuturnya.
Dalam refleksi tersebut, Muhammadiyah juga menekankan pentingnya menjadikan persatuan bukan sekadar slogan, tetapi sebagai nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perbedaan pandangan dan dinamika kebangsaan, persatuan Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika dipandang sebagai fondasi hidup bersama yang harus terus dirawat, terutama ketika bangsa menghadapi situasi sulit.
Muhammadiyah, kata Haedar, juga mengingatkan agar ruang publik, termasuk media sosial, tidak berkembang menjadi arena saling hujat dan mempertajam perbedaan. Kedewasaan dalam bermedia sosial dipandang penting agar kebebasan berekspresi tetap berada dalam koridor keadaban dan tidak berkembang menjadi konflik sosial yang justru melemahkan persatuan nasional.
Haedar mengingatkan peran penting elite bangsa sebagai faktor penting dalam menjaga arah perjalanan Indonesia.
Di sisi lain, Haedar mengingatkan peran penting elite bangsa sebagai faktor penting dalam menjaga arah perjalanan Indonesia. Para tokoh politik, pejabat negara, dan pemimpin publik dipandang memikul tanggung jawab besar untuk memberi keteladanan dan orientasi kenegarawanan, terutama dalam situasi penuh tantangan dan tekanan. Kepemimpinan yang matang dan berjiwa negarawan dinilai berpengaruh besar terhadap kepercayaan publik serta kohesi sosial, terlebih saat bangsa menghadapi bencana dan berbagai persoalan kebangsaan yang kompleks.
Namun demikian, kedewasaan bangsa tidak hanya bertumpu pada elite. Seluruh rakyat Indonesia juga dituntut semakin terdidik dan dewasa agar mampu menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan lebih baik di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Seluruh rakyat Indonesia dituntut semakin terdidik dan dewasa agar mampu menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan lebih baik di tengah persaingan tinggi dengan bangsa-bangsa lain di berbagai kawasan,” ujar Haedar.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga mengajak seluruh rakyat Indonesia menghadapi tahun 2026 dengan penuh semangat serta optimisme di tengah situasi pemulihan pascabencana. Di balik berbagai tantangan yang dihadapi, kekuatan bangsa justru terus tumbuh melalui kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat.
“Kita hadapi masa depan, kita hadapi tahun yang akan datang dengan penuh semangat dan optimisme. Kita semakin kuat, negara kita akan semakin kuat,” kata Prabowo saat malam pergantian tahun bersama warga terdampak bencana di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (31/12/2025).
Di hadapan warga, Prabowo kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak akan meninggalkan rakyat dalam situasi sulit. Ia menyebut mandat pemerintahan yang dijalankan saat ini sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan rakyat.
“Kita harus bersama-sama menghadapi kesulitan dan percayalah bahwa pemerintahmu, bahwa pemimpin-pemimpinmu, bahwa presidenmu tidak akan pernah meninggalkan saudara-saudara sekalian,” ujarnya.
Presiden menuturkan, upaya memperkuat bangsa juga diarahkan pada peningkatan kesejahteraan jangka panjang, termasuk pemenuhan gizi anak-anak. Ia mengakui bahwa program makan bergizi belum sepenuhnya merata, namun pemerintah berkomitmen mempercepat pelaksanaannya agar generasi muda tumbuh sehat, kuat, dan siap menjadi masa depan bangsa. “Kami dipilih oleh rakyat untuk bekerja untuk rakyat,” kata Prabowo.





