Di balik konsistensi performa tim putri Cipta Cendikia Football Academy (FA) di HYDROPLUS Soccer League U-15 Jakarta, ada sosok pelatih bernama Daary Zhafraan Syam.
Di usia yang masih muda, ia memikul dua peran sekaligus. Selain berkarier sebagai pelatih, Zhafraan juga merupakan mahasiswa kedokteran, sebuah kombinasi yang jarang ditemui di dunia sepak bola.
Perjalanan Zhafraan sebagai pelatih Cipta Cendikia FA bermula selepas lulus SMA. Berbekal status sebagai mantan pemain Cipta Cendikia, ia mendapat tawaran langsung untuk bergabung sebagai pelatih.
“Awalnya setelah saya lulus SMA, karena saya nggak tau mau kuliah di mana, akhirnya karena saya dulu pemain Cipta Cendikia juga, lalu saya dapat tawaran dari Coach Dede sama Bu Intan buat melatih di sekolah, buat melatih di Cipta Cendikia, lalu saya terima,” katanya kepada kumparanBOLANITA di Ayo Arena, Sentul, Bogor, Kamis (24/12).
Zhafraan mulai aktif melatih sejak 2022. Hingga kini, perjalanannya bersama Cipta Cendikia FA sudah berjalan hampir empat tahun.
Kurikulum Latihan Berbasis Pengembangan UsiaSebagai pelatih tim putri, Zhafraan terlibat langsung dalam penyusunan dan penerapan kurikulum latihan. Program yang diterapkan disesuaikan dengan usia pemain yang telah memasuki tahap pengembangan permainan, dengan mengacu pada kurikulum Filanesia.
“Jadi kebanyakan isi latihan kalau di sepak bolanya isi tentang passing, tentang movement, tentang bagaimana cara kita build-up dari bawah ke depan, gimana caranya kita kita mempersiapkan mereka karena mereka mau main di timnas,” ucap pria kelahiran 24 Mei 2005 itu.
Menurutnya, variasi latihan menjadi hal wajib agar pemain berkembang dari fondasi paling dasar. Tujuannya adalah meminimalisir kesalahan sejak dini agar pemain siap melangkah ke level yang lebih tinggi.
“Kita mau meminimalisir kesalahan-kesalahan yang ada karena pada akhirnya mereka jadi bakal jadi penggawa buat Pertiwi Muda nantinya,” jelas Zhafraan.
Antara Lapangan dan Ruang Kuliah KedokteranDi tengah kesibukannya sebagai pelatih, Zhafraan juga menjalani peran sebagai mahasiswa semester tiga Fakultas Kedokteran di Universitas Gunadarma, Depok. Membagi waktu antara dua dunia ini jelas bukan perkara mudah.
Zhafraan mengungkapkan bahwa jadwal kuliah yang tak menentu kerap menjadi tantangan. Namun, bantuan dari rekan sesama pelatih membuatnya tetap bisa menjalankan kedua peran tersebut.
“Terkadang… jadwal kuliahnya nggak tentu. Makanya saya alhamdulillah dapat bantuan dari Coach Arifin dan Coach Danang. Saya emang waktu istirahatnya jadi menyempit, cuma itu risiko yang saya harus ambil,” ungkap Zhafraan.
Dinamika Melatih Tim PutriMelatih tim putri menghadirkan tantangan tersendiri bagi Zhafraan. Ia menilai para pemain putri memiliki karakter yang berbeda dibandingkan tim putra.
“Suka-dukanya melatih tim putri... sukanya anak-anaknya lebih ceria, lebih talkative dibanding yang putra,” kata Zhafraan. “Ya dukanya mereka suka batu aja sih.”
Untuk menyikapi hal tersebut, Zhafraan memilih pendekatan yang lebih personal dalam membangun komunikasi dengan para pemainnya.
“Saya kadang suka ngebujuk-bujuk mereka gitu biar mereka bisa dapat target yang kita mau. Ya, mungkin bujukannya lebih beda dibanding laki-laki,” pungkasnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5315894/original/028992700_1755175870-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__69_of_75_.jpg)