Konferensi Pers Bersama Pemimpin AS–Israel, Kedua Pihak Sepakat Mendorong Perdamaian Gaza

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (29/12/2025) menggelar pertemuan bilateral di Mar-a-Lago, Florida. Dalam konferensi pers bersama setelah pertemuan tersebut, kedua pihak menyatakan telah mencapai banyak kesepakatan untuk terus mendorong perdamaian di Timur Tengah.

 Pada saat yang sama, ketegangan antara dua sekutu utama di kawasan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), justru meningkat tajam, setelah Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Yaman dan menuntut penarikan pasukan UEA dari negara itu.

Pemimpin AS–Israel Sepakat Dorong Perdamaian Gaza

Dalam konferensi pers bersama, Presiden Trump menyatakan harapannya untuk terus mendorong perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas agar memasuki tahap kedua. Ia menekankan bahwa Israel telah memenuhi kewajibannya pada tahap pertama, serta mendesak Hamas untuk segera melucuti senjata.

Presiden AS Donald Trump mengatakan:  “Jika mereka (Hamas) gagal melucuti senjata sesuai kesepakatan—padahal mereka telah menyetujuinya—maka mereka akan menanggung konsekuensi yang sangat berat.”

Israel dan Hamas saling menuduh telah melanggar ketentuan tahap pertama perjanjian. Hamas pada Senin kembali menegaskan penolakannya untuk melucuti senjata. Israel dengan tegas menyatakan bahwa jika pelucutan senjata Hamas tidak dapat dicapai melalui cara damai, maka operasi militer akan dilanjutkan untuk mencapai tujuan tersebut.

Ketika ditanya apakah Israel perlu kembali menyerang Hizbullah, Trump mengatakan bahwa kelompok tersebut bertindak sangat buruk dan menyatakan akan meninjau kembali situasi. Ia juga mengumumkan rencana untuk memperluas cakupan Perjanjian Abraham, serta memprediksi bahwa Arab Saudi pada akhirnya akan menormalisasi hubungan dengan Israel.

Sementara itu, Netanyahu menyatakan bahwa Presiden Trump telah menetapkan prasyarat reformasi yang jelas bagi Otoritas Palestina untuk dapat berpartisipasi dalam pemerintahan masa depan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkata:  “Saya pikir Presiden Trump telah dengan jelas menyatakan bahwa ia berharap Otoritas Palestina melakukan reformasi sebagai dasar keterlibatan mereka. Ia secara tegas menginginkan reformasi yang nyata.”

Kesepakatan AS–Israel Terkait Suriah

Kedua pihak juga mencapai kesepakatan mengenai isu Suriah.

Trump mengatakan:  “Saya berharap ia dapat menjalin hubungan yang baik dengan Suriah, karena presiden baru Suriah sedang berupaya keras melakukan pekerjaan yang baik. Ia memang melakukannya. Saya tahu dia adalah sosok yang tangguh.”

Netanyahu menambahkan bahwa Israel berharap dapat memastikan perbatasan yang damai dengan Suriah dan tidak menginginkan kehadiran teroris di wilayah tersebut.

Netanyahu juga mengumumkan akan menganugerahkan Penghargaan Perdamaian Israel kepada Presiden Trump sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya yang luar biasa bagi Israel dan bangsa Yahudi. Ia sekaligus mengundang Trump untuk kembali mengunjungi Israel dan merayakan Hari Kemerdekaan bersama.

Netanyahu berkata:
“Kami memutuskan untuk melanggar kebiasaan, atau menciptakan preseden—tahun ini kami akan menganugerahkan Penghargaan Israel kepada Presiden Trump. Dalam hampir 80 tahun sejarah kami, penghargaan ini belum pernah diberikan kepada warga non-Israel.”

Perpecahan Antar Sekutu Memburuk: Saudi Minta Pasukan UEA Mundur dari Yaman

Pada Selasa (30 Desember), koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke pelabuhan Mukalla di Yaman selatan. Targetnya adalah senjata yang dikirim UEA kepada kelompok separatis Yaman Selatan. Langkah ini menandai eskalasi tajam ketegangan antara dua sekutu lama tersebut.

Kedua negara Teluk ini sebelumnya bekerja sama melawan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran, namun dalam beberapa tahun terakhir perbedaan kepentingan mereka semakin membesar.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sama-sama merupakan anggota penting Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Setiap perpecahan di antara keduanya berpotensi mempengaruhi kemampuan organisasi tersebut untuk mencapai konsensus terkait kebijakan produksi minyak.

Diperkirakan pada Minggu (4 Januari), kedua negara akan menggelar pertemuan daring dengan enam anggota lain dari OPEC+ untuk membahas isu-isu terkait. (Hui)

Laporan gabungan oleh Zhao Fenghua, New Tang Dynasty Television.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Antusiasme Warga Rayakan Malam Tahun Baru di Jakarta meski Tanpa Kembang Api
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Dicecar Soal Isu Aura Kasih dan Safa Marwah, Atalia Praratya Beri Respon Ini di Pengadilan
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Trump Terang-terangan Ingin Segera Rudal Iran, Teheran Respons Begini
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Daftar negara yang lolos ke babak 16 besar Piala Afrika
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Intelijen Ukraina : Kredit Bermasalah Dapat Menghancurkan Ekonomi Rusia
• 4 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.