Sebagian warga Jawa Barat melewati tahun 2025 di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Di tahun baru, ada yang mencoba optimis meski tidak sedikit yang belum sepenuhnya yakin bahwa tahun 2026 akan jauh lebih bersahabat.
Gerimis mulai membasahi sepanjang Jalan Ganesha, depan pintu masuk Institut Teknologi Bandung, Kota Bandung, Rabu (31/12/2025), sekitar pukul 11.00 WIB. Di antara guyuran hujan, Dadang (56) belum ingin berhenti bekerja.
Tukang sol sepatu itu berjalan cepat sambil memikul kotak berisi peralatan kerjanya. Bapak tiga anak asal Garut ini tetap berusaha semangat bekerja di penghujung tahun. Itu semua demi Rp 25.000-Rp 50.000 per hari.
”Meski hujan jangan berhenti menjemput rezeki,” kata dia.
Untuk menghemat pengeluaran, ia tinggal di salah satu kos sederhana di daerah Dago. Dalam sebulan sekali, Dadang pulang ke kampung halamannya di Cilawu, Garut, berjarak 73 kilometer dari Kota Bandung.
Saat ditanya tentang masa depannya di tahun 2026, Dadang tidak bisa memprediksi. Namun, ia masih bermimpi bisa punya penghasilan lebih baik. Namun, kendala utamanya, ia belum tahu bakal berbuat hal baru apa di tahun 2026.
"Yang pasti, doanya hanya tetap sehat. Kalau sehat, saya pasti bisa melakukan apa saja,” kata dia.
Baharudin (43), warga Cipelang, Kota Sukabumi, mengatakan, dirinya tidak sepenuhnya yakin 2026 akan lebih baik ketimbang tahun lalu. Bahkan bukan tidak mungkin bakal lebih berat.
Kini, kedua orang tua dan seorang mertuanya tengah sakit. Ada yang menderita kanker hingga tuberkulosis. Sejauh ini, semua biaya pengobatan menggunakan pendanaan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
“Cuma memang ongkos untuk ke rumah sakit hingga perawatan lainnya butuh biaya dan tenaga yang tidak sedikit,” kata dia, Kamis (1/1/2026).
Dengan kondisi itu, ia berencana menyisihkan sebagian uang untuk ongkos orangtua ke rumah sakit. Berat. Namun, ia mesti melakukannya bila ingin menata keuangannya.
“Pendapatan saya tidak tambah, tapi pengeluaran tahun ini pasti meningkat. Mau mengerjakan lainnya juga bingung karena waktu pasti tersita untuk kerja dan antar jemput yang sakit,” kata dia.
Dunia usaha juga punya harapan lebih baik di tahun baru. Dilanda konflik panjang, pekerja Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo, misalnya, ingin perselisihan segera reda. Semua demi kesejahteraan satwa hingga hidup keluarga.
Pada Rabu siang, mereka tetap bekerja dengan semangat Bandung Zoo yang memiliki 711 satwa ini dibuka secara terbatas hingga pukul 13.00 WIB dan tidak dikenakan tarif tiket masuk. Pengunjung hanya membawa sumbangan, bisa uang maupun pakan ternak.
Sebelumnya, penutupan Bandung Zoo sudah berlangsung selama empat bulan terakhir. Penutupan sejak 6 Agustus 2025 itu terjadi akibat konflik pengelolaan Bandung Zoo yang melibatkan dua kubu pengurus Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT).
"Kami optimis Bandung Zoo bisa beroperasi normal tahun depan. Tempat ini salah satu ruang terbuka hijau dan pusat edukasi bagi anak-anak di Jawa Barat, " harap Ketua Serikat Pekerja Bandung Zoo Yaya Suhaya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/3017476/original/007049000_1578564284-20200109-Waspadai-Gelombang-Tinggi-dan-Banjir-Rob-IMAM-3.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/3380435/original/060063000_1613636027-20210218-Langit-mendung-Jakarta-IMAM-2.jpg)