Kisah di Balik Ketidakstabilan Sosial : Partai Komunis Tiongkok Memandang Pemuda Pengangguran Sebagai Risiko Nomor Satu

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Berbagai sumber menunjukkan bahwa internal Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menetapkan “internet” sebagai medan utama pertama dalam menjaga stabilitas, karena pengetatan fiskal daerah, penutupan perusahaan, dan meningkatnya pengangguran kaum muda telah menyebabkan akumulasi cepat emosi sosial. 

Masalah upah tertunggak serta petani migran yang pulang kampung namun kesulitan mencari nafkah dipandang sebagai titik rawan berisiko tinggi. Pada saat yang sama, PKT gencar mengangkat istilah populer “garis pemusnahan (cut-off)” yang dikaitkan dengan Amerika Serikat, dan langkah ini dipertanyakan sebagai upaya mengalihkan konflik. Para pengamat menilai, justru Tiongkoklah yang dipenuhi “garis pemusnahan” di mana-mana.

Menurut seorang sumber dari dalam sistem, rapat internal PKT belakangan ini berulang kali menekankan bahwa “internet telah menjadi arena pertama”, dan meminta pemerintah daerah memperkuat pemantauan opini publik serta menyiapkan rencana kontinjensi sejak dini. 

Tahun depan, kondisi keuangan daerah diperkirakan akan semakin ketat; penutupan perusahaan berpotensi memicu pengangguran kaum muda dan membentuk titik akumulasi emosi sosial.

Seorang peneliti dari salah satu lembaga di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok mengakui bahwa risiko sosial pada 2026 terutama berasal dari tumpang tindih berbagai tekanan, bukan satu masalah tunggal yang sudah diketahui.

Data dari China Dissent Monitor (di bawah Freedom House) menunjukkan bahwa pada kuartal ketiga 2025 terjadi 1.392 insiden kolektif di daratan Tiongkok, meningkat sekitar 45% dibanding periode yang sama pada 2024. Kelompok yang terlibat protes terutama pekerja, pemilik properti, dan warga desa, serta juga melibatkan orang tua, pelajar, investor, dan kelompok minoritas.

Warga di berbagai daerah melaporkan bahwa kesulitan operasional perusahaan dan upah tertunggak telah menjadi masalah umum. Buruh migran yang terpaksa kembali ke desa juga menghadapi perampasan lahan dan hambatan mata pencaharian.

Sumber yang mengetahui situasi di Provinsi Jiangsu menyebutkan bahwa otoritas khawatir insiden ekstrem yang tersebar dapat meledak secara terpusat. Karena itu, tahun depan langkah penjagaan stabilitas akan mencakup pembangunan mekanisme peringatan dini di kawasan permukiman padat (desa-kota).

Analisis menilai bahwa mengandalkan pengetatan pengawasan semata tidak akan menyelesaikan masalah sosial secara substantif; tekanan sosial di masa depan berpotensi semakin memanas.

Isu “Garis Pemusnahan” AS Disorot, Dinilai Alihkan Konflik

Sementara itu, istilah “garis pemusnahan” tentang Amerika Serikat yang gencar dipromosikan PKT belakangan ini menjadi viral. Narasi tersebut menyebut adanya “garis hidup-mati” tak kasatmata di masyarakat AS, di mana satu pengeluaran tak terduga dapat menyeret seseorang ke ambang kebangkrutan finansial.

Pandangan ini mendapat penolakan warganet, yang menilai Amerika Serikat memiliki jaring pengaman seperti asuransi pengangguran dan bantuan pangan. Sebaliknya, sistem kesejahteraan sosial Tiongkok dinilai lebih terbatas. Dalam konteks perlambatan ekonomi berkelanjutan, fenomena “garis pemusnahan” di Tiongkok diperkirakan lebih meluas dan berdampak lebih berat.

Para analis menilai PKT memanfaatkan istilah populer tersebut untuk mengalihkan kontradiksi sosial.

Ketua Aliansi Pengacara HAM Tiongkok di Luar Negeri, Wu Shaoping, mengatakan:
“Sebagian besar digerakkan oleh blogger terkait PKT yang mengangkat isu ‘garis pemusnahan Amerika’ untuk menyoroti masalah masyarakat AS, terutama lapisan bawah. Menurut saya, ini adalah teknik propaganda untuk mengalihkan fokus konflik, karena apa yang mereka sebut sebagai ‘garis pemusnahan’ di AS pada dasarnya hampir tidak mungkin terjadi.”

Analisis juga menunjukkan bahwa fenomena “garis pemusnahan” di Tiongkok tidak hanya ada di kota besar, tetapi juga meluas di pedesaan. Masalah seperti pengungsi finansial dan krisis properti telah mendorong banyak warga ke jurang kesulitan hidup.

 “Terutama sejak 2014, berbagai skandal P2P, dana investasi yang kolaps, banyak di antaranya melibatkan modal BUMN PKT. Banyak orang menginvestasikan tabungan puluhan tahun—bahkan lintas generasi—dan akhirnya bangkrut total. Jadi, di Tiongkok, ‘garis pemusnahan’ ada di mana-mana; di mana-mana orang bisa ‘dipangkas’,” tambah Wu Shaoping. 

Laporan wawancara oleh Chen Yue dan Qiu Yue, New Tang Dynasty Television.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Merinding! Hard Gumay Terawang Ada Artis Pria Meninggal Dunia di Penjara
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Pemkot Medan tak tutup jalan pada libur tahun baru
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Lengangnya Jakarta di Pagi Pertama Tahun 2026
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Pencarian Korban KM Putri Sakinah Diperluas ke Selat Lintah dan Pulau-Pulau Sekitar Komodo
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Sesuai Arahan Prabowo Subianto, MBG untuk Lansia Dilengkapi Perawat
• 12 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.