Washington: Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba. Dalam operasi terbaru tersebut, militer AS menyatakan sedikitnya tiga orang tewas dan telah meminta Penjaga Pantai Amerika Serikat untuk melakukan pencarian terhadap kemungkinan korban selamat.
Komando Selatan AS (US Southern Command) dalam pernyataan resminya pada Rabu, 31 Desember 2025 tidak mengungkapkan lokasi pasti serangan. Namun, serangan-serangan sebelumnya diketahui terjadi di kawasan Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur.
Rekaman video yang diunggah oleh Komando Selatan di media sosial memperlihatkan sejumlah kapal bergerak dalam formasi rapat. Militer AS menyebut kapal-kapal tersebut berlayar dalam konvoi di jalur yang dikenal sebagai rute perdagangan narkotika dan telah memindahkan muatan narkoba antar kapal sebelum serangan dilancarkan.
Militer tidak menyertakan bukti independen untuk mendukung klaim tersebut.
“Dalam kontak pertama, tiga narco-teroris di atas kapal pertama tewas,” demikian pernyataan Komando Selatan, dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 1 Januari 2026.
Disebutkan pula bahwa awak dari dua kapal lainnya melompat ke laut dan menjauh sebelum serangan lanjutan menenggelamkan kedua kapal tersebut.
Pihak militer menyatakan telah memberi tahu Penjaga Pantai AS untuk “mengaktifkan sistem pencarian dan penyelamatan”. Namun, tidak ada keterangan rinci mengenai nasib individu yang melompat ke laut.
Permintaan pencarian ini menjadi perhatian karena sebelumnya, militer AS menuai kritik tajam setelah serangan lanjutan pada awal September menewaskan para penyintas dari kapal yang telah dilumpuhkan.
Sejumlah anggota parlemen Demokrat dan pakar hukum menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum, sementara pemerintahan Presiden Donald Trump dan beberapa legislator Partai Republik menegaskan bahwa operasi tersebut sah secara hukum.
Kantor berita Reuters, mengutip seorang pejabat AS, melaporkan bahwa delapan orang meninggalkan kapal mereka dan saat ini tengah dicari di Samudra Pasifik. Penjaga Pantai AS juga mengonfirmasi telah mengerahkan pesawat C-130 serta bekerja sama dengan kapal-kapal di sekitar lokasi untuk mendukung operasi pencarian. Eskalasi Serangan Maritim AS Insiden ini bukan kali pertama serangan AS menyisakan korban selamat. Pada Oktober lalu, dua penyintas dipulangkan ke negara asal mereka setelah selamat dari serangan militer AS. Di bulan yang sama, otoritas Meksiko melakukan upaya pencarian setelah serangan lain menyisakan seorang penyintas yang hingga kini tidak ditemukan.
Serangan pada Rabu tersebut menambah daftar panjang operasi maritim AS. Sejak awal September, tercatat 33 serangan terhadap kapal, dengan jumlah korban tewas sedikitnya mencapai 110 orang, berdasarkan data yang diumumkan oleh pemerintahan Trump.
Presiden Trump berulang kali membenarkan operasi tersebut sebagai langkah eskalatif yang diperlukan untuk menekan arus masuk narkoba ke Amerika Serikat. Ia juga menegaskan bahwa Washington tengah terlibat dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba.
Sebagai bagian dari tekanan yang meningkat terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, pemerintahan Trump telah memperkuat kehadiran militer di kawasan, termasuk pengerahan lebih dari 15.000 personel. Washington menuduh Maduro terlibat dalam praktik narco-terorisme, tudingan yang dibantah keras oleh Caracas.
Pemerintah Venezuela menegaskan tidak terlibat dalam perdagangan narkoba dan menuduh Amerika Serikat berupaya menggulingkan Maduro demi menguasai cadangan minyak negara tersebut yang terbesar di dunia.
Trump pada Senin menyatakan bahwa AS telah “menghantam” sebuah wilayah di Venezuela yang disebut sebagai lokasi pemuatan narkoba ke kapal, menandai pertama kalinya Washington diketahui melakukan operasi darat di negara tersebut
Namun, para pejabat menyebutkan bahwa serangan darat itu tidak dilakukan oleh militer AS. Trump sebelumnya juga mengakui telah memberikan kewenangan kepada Badan Intelijen Pusat (CIA) untuk menjalankan operasi rahasia di Venezuela.

