Washington: Pejabat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) menyimpulkan bahwa Ukraina tidak menargetkan Presiden Rusia Vladimir Putin maupun salah satu kediamannya dalam insiden serangan drone baru-baru ini. Temuan tersebut dilaporkan The Wall Street Journal pada Rabu, 31 Desember 2025.
Mengutip seorang pejabat AS yang mendapat pengarahan intelijen, laporan itu menyebutkan kesimpulan tersebut diperkuat oleh penilaian Badan Intelijen Pusat (CIA), yang tidak menemukan adanya upaya serangan terhadap Putin.
Baca Juga :
Klaim Serangan 91 Drone ke Kediaman Putin Diragukan Ukraina dan EropaMenurut pejabat AS tersebut, Ukraina sebenarnya bermaksud menyerang sasaran militer yang sebelumnya pernah dihantam Kyiv. Target itu berada di wilayah yang sama dengan kediaman Putin di pedesaan, namun tidak berdekatan secara langsung.
Dilansir dari Anadolu, Kamis, 1 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha pada Selasa menyatakan bahwa Rusia gagal menyajikan bukti yang kredibel untuk mendukung klaim dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman presiden di wilayah Novgorod.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu juga terkesan meremehkan pernyataan Rusia mengenai upaya serangan yang berhasil digagalkan. Ia membagikan tautan editorial New York Post di platform Truth Social dengan judul, “Putin ‘attack’ bluster shows Russia is the one standing in the way of peace.”
Trump dilaporkan sempat menyampaikan kekhawatirannya terkait insiden tersebut dalam percakapan dengan Putin. Namun, ia kemudian mengakui kemungkinan bahwa serangan itu “tidak terjadi.”
Ketika ditanya apakah AS memiliki konfirmasi bahwa serangan tersebut benar-benar berlangsung, Trump mengatakan pada Minggu, berdampingan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, “Anda mengatakan mungkin serangan itu tidak terjadi, itu juga mungkin, saya kira, tetapi Presiden Putin mengatakan kepada saya pagi ini bahwa itu terjadi.”
Zelensky membantah tudingan tersebut. Ia menilai tuduhan itu bertujuan untuk “merusak seluruh capaian dari upaya diplomatik bersama kami” dengan tim Trump serta “membenarkan serangan tambahan terhadap Ukraina.”

