3 Kebutuhan Penting yang Sering Kita Lupakan di Awal Tahun

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Setiap awal tahun, banyak dari kita yang sibuk menyusun daftar resolusi. Target karier, pencapaian finansial, tubuh ideal, hingga ingin hidup yang terasa lebih baik dari tahun sebelumnya. Kalender baru seolah memberi harapan bahwa kita bisa memulai segalanya dari nol, dengan versi diri yang lebih kuat dan lebih berhasil.

Namun di balik semangat itu, ada satu hal yang sering luput kita tanyakan pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya kita butuhkan agar bisa bertahan, bukan sekadar berlarisepanjang tahun?” Sebab tanpa disadari, resolusi yang terlihat positif justru bisa berubah menjadi tekanan baru ketika fondasi diri kita rapuh.

“Kita sering mengejar hal-hal yang kita kira akan membuat bahagia, tapi justru mengabaikan kebutuhan psikologis dan emosional dasar yang menopang kesejahteraan,” ujar dr. Laurie Santos, Psikolog dari Yale University.

Kebutuhan Fisik: Tubuh yang Sering Dipaksa, Tapi Jarang Didengar

Di awal tahun, tubuh kerap dijadikan alat untuk mencapai target. Bangun lebih pagi, bekerja lebih lama, olahraga lebih keras, diet lebih ketat. Semua dilakukan atas nama disiplin dan resolusi. Tapi jarang ada yang benar-benar berhenti untuk mendengarkan sinyal tubuh, seperti lelah, lapar, tegang, atau butuh istirahat.

Padahal, kebutuhan fisik bukan soal memaksa diri agar lebih kuat, melainkan merawat tubuh agar tetap berfungsi dengan baik. Tidur cukup, makan dengan sadar, bergerak dengan cara yang menyenangkan, dan memberi waktu pemulihan adalah fondasi dasar. Tanpa tubuh yang sehat dan didengar kebutuhannya, resolusi apa pun akan terasa berat sejak awal.

Kebutuhan Psikis: Pikiran yang Terus Bekerja, Tapi Jarang Diistirahatkan

Awal tahun juga membawa tekanan mental yang halus tapi konsisten. Rasa takut tertinggal, takut gagal, hingga takut hidup terasa biasa saja. Media sosial memperparahnya, dengan pencapaian orang lain yang seolah datang lebih cepat dan lebih gemilang.

Kebutuhan psikis sering kali tidak terlihat, tapi dampaknya nyata. Pikiran yang terus dipaksa produktif tanpa jeda bisa menumpuk menjadi kelelahan emosional. Emosi yang dipendam, kecemasan yang diabaikan, dan rasa bersalah karena tidak cukup perlahan membentuk beban mental. Merawat kebutuhan psikis berarti memberi ruang untuk merasa, beristirahat secara mental, dan berhenti menuntut diri secara berlebihan.

Kebutuhan Spiritual: Makna yang Sering Hilang di Tengah Kesibukan

Ada fase di mana hidup terasa terus berjalan, tapi kosong. Target tercapai, rutinitas berjalan, namun hati tidak benar-benar hadir di dalamnya. Di sinilah kebutuhan spiritual sering kali terasa paling senyap, tapi paling penting.

Spiritual di sini adalah tentang menemukan makna hal-hal yang kita lakuan tiap hari. Makna dari kita bangun setiap pagi, nilai yang kita pegang, dan arah hidup yang ingin dituju. Tanpa koneksi pada makna, pencapaian terasa hampa dan kelelahan terasa lebih berat.

Di awal tahun ini, mungkin kita tidak perlu resolusi yang terlalu banyak. Cukup pastikan tiga kebutuhan dasar ini tidak terlewat. Karena bertumbuh bukan soal berlari paling cepat, tapi tentang bertahan dengan utuh, sadar, dan penuh makna.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
10 Orang Terkaya di Indonesia Menurut Forbes Desember 2025, Ini Daftarnya!
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Di Balik Feeding Time Ragunan, Ini Kisah Perawat Harimau Sumatera
• 7 jam laludisway.id
thumb
Macron Tegaskan Tak Akan Mundur dan Akan Menjabat Hingga Detik Terakhir Masa Kepresidenannya
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Jelang semester baru, Kodim Aceh Tengah bersihkan sekolah dari lumpur
• 16 menit laluantaranews.com
thumb
Wisatawan Berjubel di Pantai Sanur, Bali, Nikmati Libur Tahun Baru 2026
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.