Catat Kinerja Buruk, Pelemahan Dolar Amerika Serikat Diproyeksi Akan Berlanjut di 2026

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dlar Amerika Serikat (AS) mencatatkan kinerja yang suram meski berakhir dengan tanda-tanda stabilisasi di 2025. Investor menilai pelemahan mata uang tersebut belum berakhir dan berpotensi berlanjut pada 2026.

Dilansir dari Reuters, Jumat (2/1), sepanjang tahun lalu, dolar merosot lebih dari 9%. Hal tersebut menandai kinerja terburuknya dalam delapan tahun terakhir.

Baca Juga: BI Rate Berpotensi Tertahan Akibat Risiko Inflasi 2026

Pelemahan dolar dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga, menyempitnya selisih suku bunga dengan negara maju lain serta kekhawatiran terhadap defisit fiskal dan ketidakpastian politik di Amerika Serikat (AS).

Kepala Strategi Pasar Corpay, Karl Schamotta memperkirakan dolar akan terus melemah seiring bank sentral utama lainnya menahan atau bahkan mengetatkan kebijakan moneter, ditambah dengan proyeksi arah kebijakan yang lebih dovish dari kepemimpinan baru di Federal Reserve (The Fed).

Secara historis, dolar cenderung tertekan saat bank sentral memangkas suku bunga karena imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi kurang menarik, sehingga mengurangi permintaan terhadap mata uang tersebut.

“Faktanya, dolar masih tergolong overvalued dari sudut pandang fundamental,” kata Schamotta.

Arah pergerakan dolar menjadi krusial bagi investor mengingat perannya yang sentral dalam sistem keuangan global. Dolar yang lebih lemah dapat meningkatkan laba perusahaan multinasional karena nilai pendapatan luar negeri menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke dolar.

Selain itu, pelemahan dolar juga meningkatkan daya tarik pasar internasional melalui keuntungan nilai tukar di luar kinerja aset dasarnya.

Baca Juga: Bank Papua Dukung Pemkab Merauke Tingkatkan Kebersihan Kota

Meski dolar menunjukkan penguatan dalam beberapa bulan terakhir, para analis valuta asing secara umum masih mempertahankan proyeksi pelemahan dolar pada 2026. Hal itu seiring berlanjutnya siklus pelonggaran moneter dan membaiknya pertumbuhan ekonomi global.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kapan Hari Pertama Puasa Ramadan 2026? Ini Perkiraannya
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pihak Inara Rusli Singgung Kesiapan Wardatina Mawa Dipoligami Insanul Fahmi: Kalau Siap, Bismillah
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Isi Surat Mahasiswi Unima yang Tewas Tergantung di Kos, Ngaku Dilecehkan Dosen
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Riset Ungkap 9 Pekerjaan yang Bisa Bikin Burnout di 2026, Ada Kerjaanmu?
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
BNPB: 1.050 Hunian Sementara untuk Warga Telah Terbangun di Aceh
• 16 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.