Bel tanda masuk sekolah ketiga itu berbunyi dengan nada yang berbeda. Namun di telinga, suaranya terdengar sama, seperti lonceng dimulainya sebuah babak penyiksaan yang halus.
Ada pintu kelas baru di depan sana, wajah-wajah asing, dan lingkaran pertemanan yang sudah solid serta harus ditembus. Napas panjang ditarik, senyum paling ramah dipasang meski sebenarnya cadangan energi itu sudah terkuras habis di dua sekolah sebelumnya.
Hari itu, sebuah peran harus dimainkan. Bukan sebagai diri yang asli, melainkan sebagai aktor yang berjuang keras agar tidak tenggelam dalam kepasifan dan kesunyian.
Akar yang Tercabut di Tengah KenyamananKepindahan ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan konsekuensi dari tugas orang tua yang menuntut mobilitas tinggi. Di sekolah pertama, dunia terasa begitu utuh. Masih segar dalam ingatan bagaimana setiap malam dihabiskan dengan bermain game bersama teman-teman melalui video call.
Tak ada hari yang absen tanpa suara tawa di balik layar ponsel. Namun, seiring dengan kepindahan, frekuensi itu perlahan memudar hingga akhirnya benar-benar sunyi. Ritual itu hilang, meninggalkan ruang hampa yang sulit diisi kembali.
Memasuki sekolah kedua, sempat muncul rasa ragu dan takut. Namun, takdir membawa pada sebuah circle pertemanan yang luar biasa. Di sana, rasa luwes itu ditemukan. Tak perlu berpura-pura, tak perlu menjaga citra. Kehangatan sekolah kedua sempat membuat diri lupa bahwa status sebagai pengembara belum benar-benar berakhir.
Ada keyakinan bahwa perjalanan telah sampai di tujuan akhir, sebelum akhirnya keadaan harus memaksa untuk meninggalkan sekolah kedua. Musnah sudah fondasi yang sudah dibuat dan harus mengulang dari awal lagi.
Topeng Ramah yang Menguras EnergiMemasuki gerbang sekolah ketiga, kejenuhan emosional berada di titik nadir. Menjadi murid baru untuk ketiga kalinya dalam waktu singkat adalah sebuah kerja keras yang sunyi. Ada kesadaran pahit bahwa menjadi pendiam adalah resep instan menuju pengasingan. Maka, mesin sosial dipaksa bekerja lembur.
Menyapa orang-orang yang belum dikenal dengan nada riang, melemparkan pertanyaan basa-basi, hingga mencoba masuk ke dalam percakapan yang sudah memiliki "bahasa kalbu" sendiri. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan, yaitu agar segera memiliki tempat.
Namun, di balik tawa yang dibagikan pada teman-teman baru, ada energi yang terkuras habis. Setiap langkah menuju rumah di sore hari selalu diiringi rasa lelah dan ingin menanggalkan topeng si anak aktif yang dipakai sejak pagi.
Dunia yang Ternyata Lebih LuasNamun, di balik lelahnya pengulangan ini, sebuah perspektif baru mulai tumbuh. Jika kepindahan itu tidak pernah terjadi, mungkin pandangan tentang dunia hanya akan sebatas pagar sekolah pertama.
Meski menyakitkan, perpindahan yang bertubi-tubi justru membuka mata bahwa dunia ini ternyata sangat luas, beragam, dan dinamis. Ada pelajaran mahal tentang bagaimana tidak ada yang benar-benar permanen dan kemampuan untuk beradaptasi adalah satu-satunya senjata yang akan selalu dibawa ke mana pun.
Muncul rasa syukur yang mendalam di akhir perjalanan ini. Dipaksa berganti lingkungan telah menempa mentalitas menjadi lebih tangguh. Ketakutan akan perubahan telah digantikan oleh kesiapan untuk menghadapi ketidakpastian.
Tiga sekolah mungkin telah merampas konsistensi masa remaja, tetapi mereka memberikan satu pemahaman berharga: rumah bukan sekadar gedung sekolah atau tempat duduk di kelas, melainkan juga kemampuan diri untuk berdamai dengan perubahan dan tumbuh di mana pun kaki berpijak.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4272386/original/027863400_1671968209-20221225-NATAL-ANCOL-IQBAL-1.jpg)