Widiyanti Putri Wardhana, yang kini menjabat sebagai Menteri Pariwisata menggantikan Sandiaga Uno, tengah menjadi sorotan publik. Sayangnya, perhatian yang diarahkan padanya lebih banyak bernuansa negatif.
Sejumlah pihak menilai kinerjanya belum terlihat menonjol. Bahkan, seorang ASN di lingkungan Kementerian Pariwisata sampai meluapkan kekecewaannya lewat akun Instagram @cabinetcouture_idn. Dalam unggahan itu, sang ASN menuding Widiyanti kurang menunjukkan kepemimpinan yang tegas.
“Aku juga kerja di pariwisata. Ini orang ngaco bikin kebijakan sama programnya,” tulis akun tersebut.
Menteri Pariwisata 2025, Widiyanti Putri (instagram)Tak hanya itu, kualitas kerja kementerian yang ia pimpin disebut menurun drastis. Kritik juga diarahkan pada staf ahli yang dinilai tidak menjalankan tugas dengan baik.
Sorotan lain muncul dari kemampuan bahasa Inggris Widiyanti. Sebuah video pidatonya dalam bahasa asing menuai komentar pedas. Banyak yang menilai sebaiknya ia menggunakan bahasa Indonesia bila belum fasih, agar tidak terkesan memaksakan diri.
Yang membuat publik heran, Widiyanti sebenarnya lulusan universitas ternama di Amerika Serikat. Ia pernah menempuh pendidikan di Pepperdine University, California, dan lulus tahun 1993 dengan gelar Bachelor of Science di bidang Administrasi Bisnis. Meski begitu, hingga kini ia belum melanjutkan studi ke jenjang magister.
Sandiaga Uno (tribun news)Kritik ini pun semakin kencang ketika latar belakang pendidikan Widiyanti dibandingkan dengan pendahulunya, Sandiaga Uno. Sandi dikenal menempuh pendidikan lebih panjang, mulai dari Wichita State University, Kansas, di mana ia lulus dengan predikat Summa Cum Laude, kemudian meraih gelar MBA di The George Washington University, AS.
Tak berhenti di sana, ia melanjutkan hingga program doktor di Universitas Pelita Harapan (UPH) dan mendapatkan gelar Doctor of Research in Management (DR). Dedikasinya dalam bidang riset membuat George Washington University menganugerahinya gelar kehormatan Distinguished Research Professor in Residence.
Perbedaan latar belakang pendidikan dan rekam jejak akademis inilah yang kerap dijadikan alasan mengapa kinerja keduanya dianggap jauh berbeda.



