UEA mendukung Dewan Transisi Selatan, sementara Arab Saudi mendukung pemerintah pusat dan pasukan suku sekutunya.
EtIndonesia. Arab Saudi mengebom kota pelabuhan Mukalla di selatan Yaman pada 30 Desember 2025. Pihak Saudi berdalih serangan itu menargetkan pengiriman senjata yang diklaim telah tiba dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendukung pasukan separatis.
Riyadh menindaklanjuti serangan tersebut dengan menuntut agar pasukan UEA meninggalkan Yaman dalam waktu 24 jam. Saudi juga memperingatkan bahwa keamanan nasional Arab Saudi merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar. UEA kemudian menyatakan akan menarik seluruh sisa pasukannya dari negara itu.
Arab Saudi dan UEA sama-sama merupakan anggota berpengaruh OPEC, yang dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada 4 Januari 2026. Setiap perselisihan berkepanjangan antara keduanya berpotensi mempersulit upaya mempertahankan konsensus kebijakan produksi minyak, dengan implikasi langsung terhadap harga minyak mentah.
Yaman telah dilanda perang sejak 2014, ketika kelompok Houthi yang didukung Iran merebut ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah yang diakui secara internasional melarikan diri ke wilayah selatan. Arab Saudi dan UEA melakukan intervensi pada tahun berikutnya, mendukung pemerintah dalam upaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Meski Riyadh dan Abu Dhabi awalnya memasuki perang sebagai mitra, keduanya kemudian mendukung sekutu yang saling bersaing.
UEA mendukung Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), sebuah faksi kuat di selatan yang berupaya memulihkan kemerdekaan Yaman Selatan. Sebaliknya, Arab Saudi mendukung pemerintah pusat dan pasukan suku sekutunya.
Serangan Udara Menargetkan Dugaan Pengiriman SenjataMiliter Arab Saudi dalam pernyataan 30 Desember yang disiarkan Kantor Berita Resmi Saudi mengatakan bahwa serangan dini hari itu menargetkan senjata dan kendaraan militer yang dibongkar di pelabuhan Mukalla. Serangan dilakukan setelah dua kapal tiba tanpa izin dari pelabuhan Fujairah di UEA.
Militer menyebut kapal-kapal itu mematikan sistem pelacakannya saat tiba dan membongkar “sejumlah besar senjata dan kendaraan tempur” yang dimaksudkan untuk mendukung pasukan separatis STC yang didukung UEA.
“Mengingat persenjataan tersebut merupakan ancaman yang segera dan sebuah eskalasi yang mengancam perdamaian serta stabilitas, Angkatan Udara Koalisi pagi ini melaksanakan serangan udara terbatas yang menargetkan senjata dan kendaraan militer yang dibongkar dari dua kapal tersebut di Mukalla,” demikian bunyi pernyataan itu.
Operasi tersebut, menurut militer, dilakukan pada malam hari untuk menghindari korban sipil dan kerusakan tambahan.
Televisi pemerintah Saudi menayangkan rekaman yang diklaim memperlihatkan kendaraan lapis baja bergerak dari pelabuhan ke area penyiapan. Televisi pemerintah Yaman menyiarkan gambar asap hitam membumbung dari pelabuhan serta kendaraan yang hangus terbakar. The Epoch Times tidak dapat memverifikasi secara independen apa yang sebenarnya terkena serangan atau asal muatan tersebut.
Perpecahan di Dalam Kubu Anti-HouthiMenyusul serangan Mukalla, dewan presiden Yaman yang didukung Arab Saudi mengumumkan pembatalan pakta pertahanan dengan UEA dan memerintahkan seluruh pasukan Emirat untuk meninggalkan Yaman dalam waktu 24 jam, menurut kantor berita resmi Yaman.
Dalam pidato yang disiarkan televisi, ketua dewan presiden Rashad al-Alimi menuduh UEA memicu konflik internal dengan mengarahkan dan mendukung kemajuan militer STC belakangan ini.
“Sayangnya, telah dipastikan bahwa Uni Emirat Arab menekan dan mengarahkan STC untuk merongrong serta memberontak terhadap otoritas negara melalui eskalasi militer,” ujarnya.
Arab Saudi mendesak UEA agar mematuhi tuntutan Alimi, sambil memperingatkan bahwa tindakan lebih lanjut yang mengancam kepentingan keamanannya tidak akan ditoleransi.
Beberapa jam setelah Arab Saudi mendukung tuntutan penarikan pasukan Emirat, UEA mengumumkan akan menarik seluruh sisa pasukannya dari Yaman. Kementerian Luar Negeri UEA juga menyatakan terkejut atas serangan udara di Mukalla dan kecewa terhadap pernyataan Arab Saudi mengenai Yaman.
“Kementerian menegaskan bahwa pengiriman yang dimaksud tidak mencakup senjata apa pun, dan kendaraan yang dibongkar tidak ditujukan bagi pihak Yaman mana pun, melainkan dikirim untuk digunakan oleh pasukan UEA yang beroperasi di Yaman, serta menegaskan bahwa tuduhan yang beredar tidak mencerminkan sifat maupun tujuan pengiriman tersebut,” demikian pernyataan kementerian.
Eskalasi ini menyusul ofensif mendadak STC bulan ini, yang secara resmi merupakan bagian dari pengaturan berbagi kekuasaan yang didukung Arab Saudi untuk mengelola Yaman selatan dan memegang kursi di dewan presiden. Pemimpinnya, Aidarous al-Zubaidi, juga menjabat sebagai wakil ketua dewan tersebut.
Dalam pernyataan bersama dengan tiga anggota dewan lainnya, Zubaidi menolak perintah Alimi, dengan menyatakan bahwa UEA tetap menjadi mitra inti dalam perang melawan Houthi dan menegaskan bahwa tidak ada satu otoritas pun yang dapat mengeluarkan anggota koalisi pimpinan Arab Saudi.
Mukalla terletak di Provinsi Hadramout, Yaman, yang dalam beberapa hari terakhir direbut STC setelah menyingkirkan pasukan yang berafiliasi dengan unit yang didukung Arab Saudi. Kemajuan ini memecah kebuntuan militer bertahun-tahun di Yaman selatan.
STC dan pasukan lain yang didukung UEA kini menguasai sebagian besar wilayah selatan negara itu, termasuk beberapa pelabuhan utama dan fasilitas minyak. Sementara itu, Houthi terus mengendalikan Yaman utara, termasuk Sanaa, sehingga negara tersebut tetap terpecah di antara otoritas-otoritas yang bersaing, di tengah meningkatnya ketegangan di antara para sekutu anti-Houthi.
Reuters dan The Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.





