Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan pasar keuangan di awal 2026 dibuka hari ini, Senin (2/1/2026). Pelaku pasar menaruh harapan pada kemunculan January Effect yang berpotensi mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuju level 9.000
Secara sederhana, January Effect merujuk pada kecenderungan pasar saham untuk mencatatkan penguatan pada bulan Januari.
Fenomena musiman ini pertama kali dicatat oleh bankir investasi Sidney B. Wachtel pada 1942. Banyak analis menilai reli di awal tahun terjadi karena investor kembali masuk ke pasar setelah melakukan penataan ulang portofolio pada akhir tahun sebelumnya.
//FMG_Tag - IMPULSE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=impl'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - VIBE var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=vibe'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - RC var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=rc'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter); //FMG_Tag - expandedFloor var _ContextAdsPublisher = window.parent.document.createElement('script'); _ContextAdsPublisher.type = 'text/javascript'; _ContextAdsPublisher.async = true; _ContextAdsPublisher.id = "cads-generic"; _ContextAdsPublisher.src = window.parent.document.location.protocol + '//cdn.contextads.live/publishers/cads-generic.min.js?product=sf'; var _scripter = window.parent.document.getElementsByTagName('script')[0]; _scripter.parentNode.insertBefore(_ContextAdsPublisher, _scripter);Selain itu, aliran dana segar juga kerap menjadi pemicu. Bonus akhir tahun dan akumulasi kas yang belum terpakai sering kali mulai dialokasikan kembali ke instrumen saham saat memasuki Januari. Kondisi ini menciptakan tambahan permintaan yang mendorong pergerakan harga.
Terdapat beberapa faktor lain yang sering dikaitkan dengan munculnya January Effect.
Salah satunya adalah aksi tax loss selling pada Desember, ketika investor menjual saham yang mengalami kerugian untuk kepentingan pajak, lalu membelinya kembali di awal tahun.
Faktor berikutnya adalah masuknya dana baru, baik dari tabungan, bonus, maupun penambahan alokasi investasi. Selain itu, manajer investasi juga biasanya melakukan penyeimbangan ulang portofolio setelah penutupan buku tahunan.
Dari sisi psikologis, awal tahun umumnya diwarnai optimisme yang lebih tinggi. Hal ini membuat sentimen pasar cenderung lebih positif dibandingkan periode sebelumnya.
Dampaknya, January Effect lebih sering terlihat pada saham berkapitalisasi kecil dan lapis kedua, karena likuiditasnya relatif lebih terbatas sehingga lebih sensitif terhadap arus beli. Saham-saham yang sempat tertekan menjelang akhir tahun dan emiten dengan valuasi menarik juga kerap menjadi sasaran akumulasi.
Sebaliknya, saham berkapitalisasi besar cenderung bergerak lebih stabil dan tidak terlalu melonjak akibat faktor musiman tersebut.
Meski demikian, January Effect tidak selalu muncul setiap tahun. Fenomena ini bukan jaminan pasar akan bergerak naik, karena sangat bergantung pada kondisi eksternal seperti arah suku bunga global, dinamika geopolitik, sentimen risiko, arus dana asing, serta kondisi makroekonomi di awal tahun.
Secara historis, dalam satu dekade terakhir IHSG tercatat menutup perdagangan Januari di zona hijau sebanyak lima kali, dan lima kali lainnya berakhir melemah. Meski demikian, secara rata-rata kinerja IHSG pada bulan Januari masih berada di wilayah positif, dengan kenaikan sekitar 0,23%.
//
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(saw/saw)



