EtIndonesia. Gelombang gerakan anti-pemerintah berskala nasional di Iran resmi memasuki hari kelima pada Rabu, 1 Januari 2026, dengan skala dan intensitas yang terus meningkat. Aksi protes yang semula dipicu oleh krisis ekonomi kini berkembang menjadi gerakan politik terbuka yang secara langsung menantang fondasi sistem teokrasi Republik Islam Iran.
Hingga awal Tahun Baru 2026, demonstrasi dilaporkan telah meluas ke lebih dari 50 kota di berbagai provinsi. Para pengamat menilai situasi ini sebagai salah satu tantangan paling serius terhadap kekuasaan ulama sejak Revolusi Islam 1979.
Krisis Ekonomi Jadi Pemicu Awal
Akar gelombang protes ini bermula dari krisis nilai tukar rial Iran yang anjlok tajam dalam waktu sangat singkat. Dalam kurun dua hari terakhir Desember 2025, nilai tukar merosot dari 1 dolar AS = 1,38 juta rial menjadi sekitar 1,44 juta rial.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada devisa impor, kejatuhan mata uang ini membuat aktivitas perdagangan lumpuh. Banyak pedagang melaporkan bahwa mereka tidak lagi mampu menentukan harga, bahkan terpaksa menutup toko.
Menariknya, demonstrasi awal dipimpin oleh kalangan pebisnis dan pedagang, sebuah fenomena yang relatif jarang terjadi di Iran. Hal ini menandakan bahwa krisis telah menghantam kelas menengah dan kelompok ekonomi mapan, sehingga mengubah struktur ketidakpuasan publik secara mendasar.
Dari Protes Ekonomi ke Seruan Ganti Rezim
Dalam waktu singkat, tuntutan ekonomi bertransformasi menjadi seruan politik radikal. Di berbagai kota, massa terdengar meneriakkan slogan seperti:
- “Tumbangkan diktator”
- “Khamenei mati”
- “Hidup Raja”
Nama Ali Khamenei secara terbuka diserang, sementara dukungan terhadap Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran, semakin lantang disuarakan di ruang publik.
Penyerbuan Kantor Gubernur dan Retaknya Aparat
Pada 1 Januari 2026, eskalasi signifikan terjadi di Kota Fasa, Iran selatan. Massa demonstran menyerbu kantor gubernur dan berhasil masuk secara paksa. Dalam peristiwa ini, Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan menolak perintah untuk melepaskan tembakan.
Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan pengunjuk rasa merebut perisai dan perlengkapan keamanan dari aparat, sebuah simbol kuat bahwa otoritas negara mulai kehilangan kendali di sejumlah wilayah.
Bentrok di Kota Suci Qom dan Wilayah Strategis
Ketegangan juga merambah Qom, kota suci yang selama ini dianggap sebagai jantung ideologis kekuasaan teokrasi Iran. Bentrokan jalanan dilaporkan pecah di beberapa titik.
Sementara itu, di Provinsi Hamadan, Fars, dan Khuzestan, sejumlah basis Garda Revolusi, markas milisi Basij, serta wilayah yang dikuasai rezim Islam diklaim telah direbut oleh demonstran. Di Marvdasht, pasukan keamanan terlihat mundur, sementara massa terus bergerak maju.
Perempuan di Garis Depan
Salah satu ciri paling mencolok dari gelombang protes kali ini adalah peran sentral kaum perempuan Iran. Banyak perempuan berdiri di garis depan, memimpin yel-yel “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan”.
Di sejumlah lokasi, perempuan secara terbuka melepaskan jubah hitam Islam di tempat umum. Gerakan ini turut diikuti oleh mahasiswa, sopir truk, perawat, dan serikat guru, membentuk aliansi lintas profesi yang luas.
Para demonstran juga menargetkan kamera pengawas milik pemerintah, yang dihancurkan sebagai simbol perlawanan terhadap sistem pengawasan negara.
Kecaman terhadap Kebijakan Luar Negeri
Slogan-slogan terbaru tak lagi hanya menyasar kepemimpinan domestik, tetapi juga kebijakan luar negeri Iran. Massa mengecam aliran dana dan sumber daya ke Suriah, Lebanon, Yaman, dan Gaza, sementara rakyat Iran sendiri terperosok dalam kemiskinan dan inflasi ekstrem.
Respons Pemerintah: Lunak di Permukaan, Keras di Lapangan
Berbeda dari pola sebelumnya, media pemerintah dan media pro-rezim belum langsung melabeli demonstran sebagai perusuh.
Presiden Masoud Pezeshkian mengakui bahwa rakyat memiliki hak untuk memprotes kenaikan harga. Dia memerintahkan Kementerian Dalam Negeri membuka dialog dengan perwakilan demonstran. Gubernur bank sentral pun berjanji mengendalikan inflasi dan merombak sistem perbankan.
Namun di sisi lain, sejak 31 Desember 2025, pemerintah menutup sekolah, kantor, dan pasar di 26 provinsi selama empat hari. Alasan resmi adalah penghematan energi dan gelombang dingin, tetapi publik menilai langkah ini sebagai upaya meredam momentum protes.
Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei juga menunjuk Ahmad Vahidi, tokoh garis keras yang dikenal dalam penindasan internal dan tercatat sebagai buronan Interpol, sebagai wakil komandan Garda Revolusi.
Kekerasan, Penyamaran, dan Retaknya Barisan
Di berbagai wilayah dilaporkan terjadi penembakan dengan peluru tajam, penangkapan massal, serta operasi pasukan khusus yang menyamar sebagai warga sipil untuk memprovokasi kerusuhan dan menjebak demonstran.
Meski demikian, aparat keamanan disebut kekurangan personel dan tidak mampu mengendalikan banyak kota secara bersamaan. Di beberapa daerah, polisi dan militer memilih mundur, bahkan muncul laporan sejumlah ulama melepas jubah dan meninggalkan kota demi keselamatan.
Rencana Transisi dari Reza Pahlavi
Dari pengasingan selama 46 tahun, Reza Pahlavi meluncurkan rencana pemulihan Iran pasca-rezim. Dia mengusulkan masa transisi darurat 3–6 bulan untuk menjaga pasokan air, listrik, dan energi, serta menyiapkan program kebangkitan nasional.
Arah masa depan Iran, menurutnya, akan ditentukan melalui referendum nasional. Dia juga menjanjikan amnesti bagi aparat keamanan dan pejabat tingkat bawah. Disebutkan bahwa puluhan ribu anggota militer dan polisi telah diam-diam menyatakan dukungan, menjadi faktor utama keraguan pasukan di lapangan.
Tekanan Internasional dan Peran Amerika Serikat
Dalam konflik Israel–Iran tahun sebelumnya, Israel dilaporkan mengerahkan sekitar 200 jet tempur untuk menyerang markas komando Garda Revolusi, menewaskan perwira tinggi dan melumpuhkan sistem komando militer Iran. Tekanan ini diperkuat oleh manuver diplomatik Amerika Serikat.
Presiden AS, Donald Trump menilai kebutuhan paling mendesak rakyat Iran adalah kebebasan informasi. AS dilaporkan membantu warga Iran menembus blokade internet, memungkinkan video protes menyebar luas.
Trump secara terbuka mengecam penembakan warga sipil Iran, menyebut situasi ini sebagai “momen Tiananmen”, yang justru mendongkrak semangat demonstran. Dia menegaskan tidak ingin terlibat perang berkepanjangan, namun tidak menyesalkan jika rezim teokrasi anti-Amerika runtuh oleh gelombang rakyatnya sendiri.
Reaksi Global dan Retaknya Aliansi Otoriter
Seorang akademisi ilmu politik AS, Schatz, menyoroti ironi global: kelompok yang selama dua tahun lantang mengutuk Israel di berbagai kota Barat kini menghilang saat perempuan Iran dipukuli, dipenjara, bahkan dibunuh. Menurutnya, krisis Iran membuka wajah asli aktivisme ideologis yang selektif.
Dukungan terhadap rakyat Iran kini menggema hingga Jerman, Amerika Serikat, Arab Saudi, Prancis, Kanada, dan Inggris. Seorang warganet Arab menyatakan solidaritas penuh dan menyerukan kebebasan bagi Iran.
Sementara itu, Tiongkok dan Rusia—yang selama ini dipandang bersama Iran sebagai “segitiga besi” penyeimbang Barat—memilih diam. Beijing fokus pada kepentingan energi dan Jalur Sutra, sedangkan Moskow tersedot penuh oleh perang di Ukraina.
Awal Bab Baru Iran?
Dengan cetak biru pasca-Khamenei dari Reza Pahlavi, tekanan militer Israel, serta gelombang rakyat yang kian berani, banyak pengamat menilai awal Tahun Baru 2026 bisa menjadi titik balik sejarah Iran.
Apakah ini benar-benar fajar baru bagi Iran, atau justru awal dari konfrontasi yang lebih keras, kini menjadi pertanyaan besar yang jawabannya sedang ditulis di jalanan kota-kota Iran.


