IHSG Butuh Katalis Ekstra Untuk Ulangi Capaian 2025

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pasar modal tahun 2026 dengan penguatan. Namun, pelaku pasar menilai pencapaian kenaikan lebih dari 20 persen seperti yang terjadi sepanjang 2025 tidak akan mudah diulang tanpa dukungan banyak katalis, baik dari kebijakan domestik maupun perbaikan sentimen global.

Pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (2/1/2026), IHSG naik 36,17 poin atau 0,42 persen ke level 8.683,11. Sepanjang sesi pagi, indeks bergerak di zona hijau seiring dengan minat beli investor yang masih terjaga di awal tahun.

Penguatan tersebut ditopang oleh 371 saham yang menguat, sementara 92 saham melemah dan 495 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 301,6 miliar dengan volume 429,6 juta saham yang diperdagangkan dalam 67.930 kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 15.928 triliun.

Kinerja awal tahun ini melanjutkan reli IHSG sepanjang 2025. Pada penutupan perdagangan 30 Desember 2025, IHSG berada di level 8.646,94 atau menguat 22,13 persen secara tahunan, mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

Baca JugaPasar Modal Tutup 2025 dengan Positif, BEI Matangkan Pendalaman

Kendati tidak dihadiri Presiden Prabowo Subianto seperti harapan banyak pelaku pasar modal, seremoni pembukaan pasar modal di awal tahun ini dihadiri oleh para pemangku kebijakan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Mereka adalah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.

Dalam pidato pembukaan perdagangan pasar modal, Mahendra Siregar menilai penguatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas dan kedalaman pasar modal. Menurut dia, masih terdapat ruang perbaikan yang besar agar pasar modal Indonesia berfungsi lebih efisien dan berkelanjutan.

Ia menyoroti kinerja indeks saham unggulan LQ45 yang hanya tumbuh 2,41 persen sepanjang 2025, jauh tertinggal dibandingkan kenaikan IHSG secara keseluruhan. “Hal ini menunjukkan bahwa penguatan pasar belum ditopang secara merata oleh saham-saham berkapitalisasi besar,” ujarnya.

Di sisi lain, kontribusi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat signifikan, dari 56 persen pada akhir 2024 menjadi 72 persen pada akhir 2025. Namun, angka tersebut masih berada di bawah negara-negara kawasan seperti India, Thailand, dan Malaysia, sehingga potensi pengembangan pasar modal Indonesia dinilai masih sangat besar.

Porsi transaksi investor ritel juga meningkat pesat, dari 38 persen pada akhir 2024 menjadi sekitar 50 persen berdasarkan data terakhir. Proporsi ini relatif tinggi dibandingkan negara lain yang lebih mengandalkan investor institusi, baik domestik maupun asing, dalam menopang aktivitas pasar.

Meningkatnya dominasi investor ritel, menurut Mahendra, menuntut penguatan pelindungan investor dan integritas pasar. “Risiko praktik goreng saham, transaksi tidak wajar, dan berbagai bentuk manipulasi dinilai perlu diantisipasi secara lebih ketat,” ujar Mahendra.

Investasi jangka panjang

Mahendra menambahkan, lebih dari 70 persen investor ritel di pasar modal Indonesia berasal dari generasi Y dan Z. Kelompok ini perlu didorong agar tidak semata-mata memandang pasar saham sebagai sarana perdagangan jangka pendek, melainkan sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang.

Untuk itu, pada 2026 OJK bersama para pemangku kepentingan berkomitmen menjalankan berbagai program pendalaman pasar yang difokuskan pada peningkatan integritas dan kualitas ekosistem pasar modal, termasuk melalui penguatan peran self-regulatory organization/lembaga pengatur mandiri (SRO).

Baca JugaIHSG Membaik, Saham-saham Ini Jadi Perhatian Investor 

Langkah tersebut mencakup penyempurnaan persyaratan pencatatan emiten, peningkatan free float termasuk penerapan continuous free float, peningkatan transparansi kepemilikan manfaat akhir (ultimate beneficial owner), serta penerapan kebijakan exit yang lebih jelas.

Peningkatan transparansi kepemilikan manfaat akhir dinilai penting untuk meminimalkan transaksi efek yang tidak wajar sekaligus meningkatkan likuiditas riil pasar. “Langkah ini juga diharapkan dapat menjawab keraguan investor global, termasuk lembaga internasional,” kata Mahendra

Selain itu, OJK mendorong peningkatan basis investor institusi melalui penguatan peran reksa dana, asuransi, dan dana pensiun. Seiring membaiknya tata kelola dan manajemen risiko di sektor tersebut, ruang investasi institusi di pasar modal dinilai semakin terbuka.

Dihubungi secara terpisah, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada menilai tantangan IHSG pada 2026 masih cukup besar. Kondisi global dinilai belum sepenuhnya kondusif karena sejumlah negara masih berupaya memulihkan perekonomiannya.

IHSG pada 2025 lebih banyak ditopang saham lapis kedua dan ketiga, sementara saham-saham blue chip tertinggal.

Ketidakpastian arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat di sepanjang 2026 juga dinilai menjadi faktor yang perlu diwaspadai, mengingat negara ini masih memegang peran dominan dalam perekonomian dan pasar keuangan global, termasuk melalui kebijakan suku bunga, perdagangan, serta kebijakan proteksionisme yang dapat memicu volatilitas pasar.

”Sementara di dalam negeri, pergerakan nilai tukar rupiah, realisasi kebijakan pemerintah, serta sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter akan sangat menentukan arah pasar,” ujar Reza.

Katalis ekstra

Secara matematis, Reza memperkirakan IHSG berpeluang menuju level 10.500 pada 2026 jika mampu mengulang kenaikan sekitar 22 persen seperti tahun lalu. Namun, pencapaian tersebut sangat bergantung pada keberlanjutan sentimen positif dan realisasi berbagai katalis.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai langkah otoritas memperbaiki struktur pasar dapat menjadi fondasi penting bagi penguatan IHSG yang lebih sehat. Menurut dia, saham-saham di Indonesia selama ini relatif mudah dimanipulasi karena free float yang kecil.

Ia mencatat kenaikan IHSG pada 2025 lebih banyak ditopang saham lapis kedua dan ketiga, sementara saham-saham blue chip tertinggal. Kondisi ini membuat pergerakan indeks kurang mencerminkan fundamental emiten dan ekonomi riil.

Menurut Wafi, valuasi saham-saham LQ45 saat ini relatif murah, sementara saham small dan mid cap sudah menunjukkan gejala gelembung harga. Pada 2026, pasar berpotensi memasuki fase pembalikan arah dengan volatilitas yang lebih tinggi.

Untuk mendorong IHSG bergerak lebih kencang dan berkelanjutan pada 2026, ia menilai keterlibatan investor institusi besar perlu terus diperkuat agar pergerakan pasar lebih kredibel dan efisien di mata investor global.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tahun berganti, banjir bandang terus terjadi di Pasar Maninjau, Agam
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Revisi UU Sisdiknas Digodok, DPR Tekankan Integrasi Nilai Budaya dalam Pendidikan
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Tanggul Jebol, Aceh Tamiang Kembali Terendam Banjir Luapan Sungai
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Deretan Penyebab Enzo Maresca Dipecat dari Chelsea: Hasil Buruk, Konflik Internal hingga Kontrak Baru yang Ditolak
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Harga Emas Antam Menguat di Awal Tahun, Buyback Ikut Naik
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.