EtIndonesia. Suatu hari, ketika saya membawa para siswa berkunjung ke Caterham School di Inggris, seorang siswa saya pergi bermain ke pantai bersama seorang anak dari sekolah tersebut. Tak disangka, mereka terjebak gelombang besar.
Dalam sekejap, tempat yang mereka pijak berubah menjadi sebuah pulau kecil terisolasi. Menghadapi air laut yang mengamuk dan angin kencang, kedua anak itu diliputi ketakutan yang mendalam. Namun mereka sama-sama menyadari satu hal: jika tidak menyelamatkan diri, cepat atau lambat air laut akan menelan pulau berbahaya itu.
Anak dari Tiongkok segera terpikir untuk menelpon minta pertolongan, tetapi tak lama kemudian dia menyadari bahwa ponselnya sudah tidak ada sinyal. Sementara itu, anak Inggris bertindak berbeda—dia mencari dua batang kayu.
Setelah sekitar setengah jam, kondisi laut mulai sedikit mereda. Anak Inggris mengamati dengan cermat dan memperkirakan bahwa jarak dari pulau kecil itu ke daratan membutuhkan sekitar 10 menit berenang. Dia kemudian melepaskan pakaiannya, merobeknya, dan membuat dua tali, lalu mengikatkan tubuhnya dengan kuat ke batang kayu tersebut. Dia juga membantu mengikatkan kayu itu pada tubuh anak dari Tiongkok.
Jarak yang seharusnya hanya 10 menit berubah menjadi perjuangan hidup dan mati. Dihantam sisa ombak, keduanya berkali-kali tersedak air laut. Anak Inggris hampir kehabisan napas. Ketika dia menoleh ke temannya, anak dari Tiongkok sudah tidak sadarkan diri. Dia pun mendekat dengan susah payah dan mendorong tubuh temannya sambil terus berenang maju.
Setelah hampir tiga puluh menit, mereka akhirnya mencapai pantai. Anak Inggris yang sudah kelelahan memberikan napas buatan kepada anak Tiongkok, lalu mencari tim penyelamat yang telah tiba. Keduanya segera dibawa ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa mereka hanya mengalami beberapa luka ringan.
Ketika anak Tiongkok itu siuman, saya bertanya kepadanya: “Apakah kamu tahu mengapa dia bisa menyelamatkan diri, sementara kamu hanya bisa menunggu untuk diselamatkan?”
Dia menggelengkan kepala.
Saya berkata pelan namun tegas : “Itu karena kamu terbiasa dibantu. Sedangkan dalam pemikiran anak Inggris itu, segala sesuatu harus diusahakan sendiri. Karena hidupmu adalah milikmu—kamu itu unik, dan tak seorang pun bisa menggantikanmu.”
Pesan Kehidupan
Mengandalkan bantuan orang lain mungkin terasa aman, tetapi bertanggung jawab atas hidup sendiri adalah kekuatan sejati.
Karena pada saat paling genting dalam hidup, tak ada siapa pun yang bisa menggantikanmu untuk bertahan dan melangkah.(jhn/yn)



