Luka Lama di Tahun Baru: Saat Pesta Rakyat Jakarta Berubah Jadi Arena Tawuran

suara.com
2 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Pesta tahun baru Jakarta diwarnai tiga insiden tawuran antarwarga.
  • Tawuran adalah penyakit kronis dengan ratusan kasus setiap tahun di Jakarta.
  • Solusi menuntut penataan kota dan pemberdayaan pemuda, bukan seremoni sesaat.

Suara.com - Langit Jakarta malam itu seharusnya menjadi kanvas harapan yang sempurna. Tepat pukul 00.00, pertunjukan cahaya drone yang membentuk formasi '2026' berpadu dengan pekik meriah ratusan ribu warga yang memadati Bundaran Hotel Indonesia hingga kawasan Tugu Monas. Wajah-wajah penuh senyum menengadah ke angkasa, merekam momen magis itu.

NAMUN, hanya dalam hitungan menit, euforia itu pecah menjadi teror.

Di salah satu sudut jalan yang padat, gesekan kecil antarpemuda yang dipicu saling ejek membesar menjadi bara api. Pekik 'Selamat Tahun Baru' berubah drastis menjadi makian kasar, diikuti melayangnya botol kaca dan batu yang membelah kerumunan. Jakarta tidak menyambut 2026 dengan semangat pembaruan, melainkan dengan luka lama masalah sosial yang kembali menganga.

Ironisnya, malam pergantian tahun itu didedikasikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, sebagai ajang solidaritas bagi para korban bencana di Sumatra. Sayangnya, niat baik itu justru dicoreng oleh segelintir kelompok pemuda yang menjadikan keramaian sebagai arena adu kekuatan.

Infografis kasus tawuran pemuda di Jakarta sepanjang tahun 2025. [Suara.com/Syahda]

Cerita dimulai dari Flyover Klender, Jakarta Timur, hanya beberapa menit setelah tahun berganti. Dua kelompok pemuda menjadikan suara petasan sebagai kode untuk memulai serangan.

Tak lama kemudian, pemandangan serupa terjadi di turunan Flyover RS Harapan Bunda, Ciracas, di mana dua kelompok saling serang dengan batu dan petasan, menebar kepanikan bagi pengguna jalan.

Menjelang petang di hari pertama tahun yang baru, api konflik kembali menyala di Manggarai, Jakarta Selatan. Ledakan petasan memicu ketegangan antara dua kelompok warga yang memang memiliki riwayat konflik menahun.

Penyakit Kronis Bernama Tawuran

Tawuran seolah telah menjadi penyakit kronis di Jakarta. Gubernur silih berganti, tetapi gesekan sosial ini tak kunjung reda.

Baca Juga: Tawuran Awali Tahun Baru di Jakarta, Pengamat Sebut Solusi Pemprov DKI Hanya Sentuh Permukaan

Data akhir tahun dari Polda Metro Jaya pada 2025 mencatat ada 440 kasus keributan antarkelompok. Beberapa titik seperti Matraman, Kemayoran, dan Manggarai bahkan telah dicap sebagai zona merah tawuran.

Salah satu kasus terbesar terjadi di kawasan elite Menteng pada 9 Juni 2025, di mana lebih dari 100 orang, mayoritas pemuda dan remaja di bawah umur, diamankan.

Tangkapan layar aksi tawuran remaja di Pondok Gede, Bekasi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bukannya tanpa upaya. Pada Mei 2025, Pramono Anung sempat menggelar acara "Manggarai Bersholawat" di salah satu titik rawan, berharap pendekatan kultural dan religius dapat meredam konflik.

Namun, di mata pengamat sosial, Rissalwan Habdy Lubis, pendekatan ini tak lebih dari sekadar obat pereda nyeri.

"Itu agak saya ketawain juga tuh," ujarnya kepada Suara.com pada Jumat (2/1/2026).

Menurut Rissalwan, pendekatan religius memang sah-sah saja, tetapi itu hanya menyentuh permukaan.

"Ibarat mengobati rasa sakit, hanya hilangkan sakitnya sesaat. Tapi akar masalahnya tidak disembuhkan," katanya.

Program aduan 'Jaga Jakarta' pun dinilai hanya mampu menekan angka kejadian, bukan menyembuhkan penyakitnya.

Tiga Resep Menyembuhkan Luka Jakarta

Alih-alih seremoni sesaat, Rissalwan menawarkan tiga resep fundamental yang bisa diterapkan Pemprov DKI untuk memutus mata rantai kekerasan ini.

Pertama, penataan ulang kawasan. Pramono Anung, menurutnya, wajib merencanakan penataan ulang kawasan rawan seperti Manggarai pada 2026.

"Perbaiki pola pemukimannya. Sekarang ini kan gesekan, suntuk, stres, dan sebagainya itu membuat orang gampang terpicu juga," papar Rissalwan.

Kedua, menyediakan panggung eksistensi. Pemprov DKI harus memperbanyak wadah kreativitas bagi anak-anak muda di wilayah rawan.

"Kasih mereka panggung eksistensi. Contohnya tuh di Korea, kreativitas anak-anak muda itu disalurkan dengan kompetisi, yang kalau perlu berhadiah," terangnya.

Ketiga, memutus rantai dendam. Rissalwan mengusulkan program beasiswa khusus bagi generasi muda di lingkungan rawan tawuran untuk memutus siklus kebencian yang diwariskan dari orang tua.

"Anak-anak ini kan mendengar obrolan orang tuanya ya. Jadi anaknya denger, terinternalisasi dia. Nah, itu saya bilang sebagai akar masalah juga tuh, yang harusnya distop," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rahasia notasi Ragadupa yang lahir dari jalanan sepi kota Padang
• 5 jam lalubrilio.net
thumb
KPK Terima 5.020 Laporan Gratifikasi Senilai Rp16,4 Miliar Sepanjang 2025
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Crystal Palace vs Fulham, Marco Silva Kecewa Fulham Gagal Menang di Selhurst Park: Kami Layak Dapat Lebih
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Aksi Israel Akui Somaliland Tuai Kecaman Sana-sini Termasuk dari RI
• 7 jam laludetik.com
thumb
Viral Gudeg 3 Porsi Rp 85 Ribu di Malioboro, Pengelola Beri Penjelasan
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.