Cairan pendingin mesin atau coolant merupakan jenis fluida yang kerap terlupakan dalam perawatan radiator. Jika tidak diganti secara rutin, maka akan menimbulkan karat hingga kerusakan serius pada mesin mobil.
Jumai, pemilik bengkel Roni Radiator, menjelaskan waktu ideal mengganti coolant adalah setiap enam bulan sekali atau per jarak tempuh 10 ribu kilometer. Namun, banyak pemilik mobil yang mengabaikan jadwal tersebut hingga akhirnya mengalami kerusakan radiator.
“Idealnya coolant radiator mobil diganti enam bulan sekali apabila mobilnya sering digunakan. Patokan jarak tempuhnya ya mungkin sekitar 10 ribu kilometer,” ujar Jumai saat ditemui kumparan di Kalibata, Jakarta Selatan belum lama ini.
Ia mengatakan, masih banyak pengemudi yang menyepelekan siklus mengganti coolant. Ada pengemudi yang tidak mengganti coolant selama satu tahun atau lebih. Ada pula pengemudi yang baru mengganti cairan itu saat radiator sudah bocor dan perlu direparasi.
Menurut Jumai, coolant yang tidak diganti akan menyebabkan bagian dalam radiator berkerak. Korosi tersebut semakin lama akan menumpuk, kemudian memperkecil saluran ke dalam mesin yang akhirnya membuat aliran coolant tersendat.
“Akan menimbulkan kerak di dalam radiator dan bagian blok mesin nanti juga bisa karatan. Air radiator yang enggak diganti warnanya keruh gitu seperti air empang,” imbuhnya singkat.
Lebih lanjut, Jumai menuturkan aliran yang tersumbat bisa berakibat fatal ke mesin. Dijelaskannya, coolant yang telat mengalir menyebabkan jaket mesin kering sehingga lapisan gasket akan terbakar.
“Kan ini masuk (coolant), kalau di mesin telat atau kosong maka packing-nya pada kebakar karena bagian head mesin sudah kena. Salah satu ciri bagian head telat dialiri coolant adalah ketika buka bagian kap mesin terus distater itu tutup radiatornya langsung lompat ke atas,” terangnya.
Selain itu, radiator yang jarang diganti cairannya juga membuat sistem pendingin tidak bekerja optimal. Suhu mesin menjadi lebih cepat panas, terutama saat kendaraan digunakan dalam waktu lama di lalu lintas padat atau kondisi jalan menanjak.
Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat mempengaruhi performa mesin secara keseluruhan. Pembakaran menjadi tidak efisien, lalu risiko kerusakan komponen lain seperti thermostat serta pompa air ikut meningkat.
Adapun, pengemudi wajib mengetahui tanda-tanda coolant harus ditambahkan atau diganti. Salah satu tandanya adalah komponen lain pada radiator mulai rusak. Kerusakan ini kerap berdampak pada pengurangan coolant yang menyebabkan suhu mesin panas.
“Radiator kotor otomatis alirannya mampet yang ditandai suhu mesin panas mendadak. Itu harus dicek, apakah kipas radiator mati, sekring dan switch kipas putus, atau bagian thermostat rusak. Kalau sudah seperti itu coolant biasanya berkurang, bisa ditambah atau langsung diganti saja,” tutup Jumai.





