Punya Anak Usia Berdekatan, Praktis atau Malah Bikin Kewalahan?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Mengurus anak memang bukan perkara mudah. Lalu, bagaimana jika orang tua memiliki anak dengan jarak usia berdekatan? Apakah terasa lebih praktis karena fase pengasuhan dijalani sekaligus, atau justru menghadirkan tantangan baru di rumah?

Dikutip dari laman The Bump, memiliki anak dengan jarak usia berdekatan tidak selalu identik dengan hal negatif. Ya Moms, ternyata ada sisi positif yang bisa dirasakan, baik oleh orang tua maupun anak. Berikut beberapa plus minus memiliki anak dengan jarak usia berdekatan.

Kelebihan Punya Anak dengan Jarak Usia Berdekatan

1. Punya teman bermain seumur hidup

Dengan jarak usia yang dekat, anak otomatis memiliki teman bermain di rumah. Kehadiran kakak dan adik membuat mereka tidak mudah merasa kesepian dan terbiasa berinteraksi sejak dini, Moms.

2. Melewati fase milestone bersama

Perbedaan usia yang tipis membuat anak-anak melewati fase tumbuh kembang atau milestone hampir bersamaan. Hal ini kerap memudahkan orang tua karena fase pengasuhan tidak terpaut terlalu jauh.

3. Pengasuhan terasa lebih efisien

Meski terasa melelahkan di awal, banyak orang tua menilai pengasuhan anak dengan jarak usia berdekatan menjadi lebih efisien karena tidak perlu mengulang fase bayi atau balita dalam rentang waktu yang berjauhan.

4. Terbiasa memiliki saudara sejak dini

Anak dengan jarak usia yang dekat biasanya lebih mudah menerima kehadiran adik, karena belum terlalu lama merasakan perhatian penuh sebagai anak tunggal.

Tantangan Punya Anak dengan Jarak Usia Berdekatan

Di sisi lain, ada pula beberapa tantangan yang bisa dirasakan orang tua yang memiliki anak dengan jarak usia berdekatan, di antaranya:

1. Dua anak kecil di fase yang sama

Mengasuh dua anak yang sama-sama masih kecil dapat memicu kelelahan fisik dan emosional pada orang tua. Energi dan kesabaran pun benar-benar diuji.

2. Waktu satu-satu dengan orang tua lebih terbatas

Anak yang lebih besar bisa merasa kehilangan perhatian individual. Menurut The Bump, kemampuan orang tua untuk membagi ketersediaan emosional menjadi semakin menantang ketika anak-anak berada di fase yang sama dan sama-sama membutuhkan pendampingan.

3. Potensi sibling rivalry sejak dini

Karena berada di tahap perkembangan yang serupa, anak-anak sedang sama-sama membutuhkan perhatian orang tua. Kondisi ini membuat potensi sibling rivalry lebih mungkin terjadi, terutama pada balita yang masih belajar mengelola emosi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menata Hilirisasi Karet untuk Keberlanjutan Petani Karet Rakyat
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Populer Ekonomi: Kenaikan Gaji ASN 2026 hingga Purbaya Pede IHSG Tembus 10.000 di 2026
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
[FULL] Debat Ketua YLBHI Vs LISAN soal Hukum Kerja Pidana Sosial Berlaku 2 Januari 2026
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Sunderland vs Man City: Bernardo Silva Kecewa Dominasi The Citizens Gagal Berbuah Gol
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Universitas Aufa Royhan Padang kirim tim bantu korban bencana di Sumut
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.