GenPI.co - Ketegangan di Selat Taiwan kembali meningkat setelah China mengumumkan telah menyelesaikan latihan militer besar-besaran.
Latihan yang mencakup simulasi blokade dan serangan terhadap target maritim ini memicu kecaman dari Taiwan serta menuai kritik dari sejumlah negara.
Taiwan mengecam latihan itu sebagai tindakan yang sangat provokatif dan sembrono.
Meski Partai Komunis China tidak pernah memerintah Taiwan, Beijing tetap mengeklaim pulau berpenduduk sekitar 23 juta jiwa itu sebagai bagian dari wilayahnya.
China berulang kali mengancam akan menggunakan kekuatan untuk mencaplok Taiwan.
Dalam pesan tahun baru 2026 dari Beijing, Presiden China Xi Jinping mengatakan penyatuan kembali tanah air merupakan tren zaman yang tidak bisa dihentikan.
Juru bicara Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) Kapten Senior Li Xi menyebut latihan berkode "Misi Keadilan 2025" telah selesai.
"Pasukan China akan terus berlatih guna menggagalkan upaya separatis kemerdekaan Taiwan dan campur tangan pihak luar," ujarnya, dilansir AFP, Kamis (1/1).
Presiden Taiwan Lai Ching-te menyebut latihan militer China bukan kejadian tunggal dan akan menimbulkan risiko serius bagi kawasan.
"Ekspansi otoriter China dan peningkatan tekanan militer mengancam stabilitas regional. Ini berdampak pada jalur pelayaran, perdagangan, dan perdamaian global," tutur Lai.
Gelombang kritik internasional pun bermunculan.
Jepang menilai latihan tersebut memperburuk ketegangan di Selat Taiwan dan mengaku telah menyampaikan kekhawatiran kepada Beijing.
Australia mengutuk manuver militer yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan, sementara Filipina menyatakan keprihatinan serius karena latihan itu berpotensi merusak perdamaian regional.
Menanggapi kritik tersebut, Beijing menyebutnya tidak bertanggung jawab.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menuduh negara-negara tersebut menutup mata terhadap kekuatan separatis di Taiwan (*)
Jangan lewatkan video populer ini:



