Migi Rihasalay Sambut 2026 dengan Doa dan 1.000 Lilin, Wujud Empati untuk Sumatera

tabloidbintang.com
6 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Desainer Migi Rihasalay memilih cara berbeda untuk menyambut Tahun Baru 2026. Bersama keluarga dan kerabat terdekat, ia menggelar perayaan yang sarat makna dengan menyalakan 1.000 lilin dan memanjatkan doa bersama sebagai simbol cahaya, harapan, serta empati bagi para korban banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatera, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Momen reflektif tersebut berlangsung saat Migi dan keluarga merayakan Malam Tahun Baru 2026 yang digelar bergiliran di dua lokasi eksotis, yakni Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, serta Kampung Joglo di Kabupaten Pandeglang, Banten. Perayaan ini dihadiri para undangan dari kalangan keluarga dan sahabat dekat.

“Tentu, saya pun tak lupa harus menyampaikan terima kasih khususnya kepada suami Andrew James, keluarga, kerabat serta teman-teman yang turut berpartisipasi dalam mensukseskan perayaan Malam Tahun Baru,” ungkap Migi Rihasalay kepada wartawan di Jakarta, Kamis (1/1).

Migi menjelaskan, konsep pelepasan tahun 2025 dan penyambutan 2026 memang sengaja dibuat berbeda agar menjadi kenangan tersendiri bagi keluarganya. Namun, ia menegaskan bahwa perayaan kali ini digelar jauh lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya. Alasannya, Indonesia tengah berduka akibat bencana alam yang menimpa sejumlah wilayah di Sumatera.

“Makanya dalam perayaan kali ini, kami lebih fokus pada pembacaan doa untuk saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat. Juga untuk daerah lain yang saat ini masih berjuang mengentaskan diri dari musibah banjir bandang,” papar Migi.

Selama acara berlangsung, suasana dibuat khidmat tanpa nuansa hura-hura. Rangkaian kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, dilanjutkan doa bersama, prosesi menyalakan 1.000 lilin, serta hiburan sederhana.

“Jadi, perayaan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, dilanjutkan dengan doa, menyalakan 1.000 lilin serta hiburan seadanya. Karena saat ini masih dalam rangka berbelasungkawa,” ucap Migi lagi.

Pemilihan lilin bukan tanpa alasan. Menurut Migi, lilin memiliki banyak makna simbolis, seperti kedamaian, keikhlasan, cahaya, harapan, dan kehidupan. Ia berharap simbol tersebut dapat menjadi penguat semangat bagi para korban bencana.

“Harapannya, semoga simbol ini memotivasi saudara-saudara kita yang tengah tertimpa musibah agar senantiasa ikhlas, punya harapan kedepan dan sebagainya,” imbuh Migi yang selalu didampingi sang suami, Andrew James, arsitek asal Australia.

Adapun pemilihan Karimunjawa dan Kampung Joglo sebagai lokasi perayaan juga memiliki nilai emosional tersendiri bagi pasangan ini. Karimunjawa, yang berada di Kabupaten Jepara, merupakan daerah yang kerap dikunjungi Migi dan Andrew untuk berburu kayu rumah joglo. Kayu-kayu jati tersebut menjadi cikal bakal pembangunan Kampung Joglo di kawasan Pantai Tanjung Lesung, Pandeglang.

Tak kurang dari delapan tahun, pasangan suami istri ini mengumpulkan material kayu jati dari Jepara untuk kemudian diboyong ke Tanjung Lesung. Kampung Joglo yang terdiri dari enam unit rumah joglo ini dirancang sebagai rumah kreatif seni sekaligus destinasi pelesiran berbasis heritage, yang diharapkan dapat memberi kontribusi positif bagi pengembangan pariwisata di Kabupaten Pandeglang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Koster Bantah Isu Bali Sepi, Ungkap Wisman 2025 Tertinggi dalam 10 Tahun
• 17 jam laludetik.com
thumb
Polri dan Kejagung Gelar Perkara Kasus Kayu Gelondongan Banjir Sumatera
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Laga Tottenham Hotspur lawan Brentford berakhir imbang tanpa gol
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
OJK Relaksasi Kredit Korban Banjir Sumatra, Potensi Terdampak Hampir Rp400 Triliun
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Pasar modal RI fokus integritas, likuiditas dan ekonomi hijau di 2026
• 8 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.