Pasar modal RI fokus integritas, likuiditas dan ekonomi hijau di 2026

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mendorong pasar modal Indonesia untuk fokus peningkatan integritas pasar, pendalaman likuiditas, penguatan basis investor institusi, serta percepatan pembangunan ekosistem Bursa Karbon yang kredibel dan berstandar internasional pada tahun 2026.



Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar memastikan komitmennya untuk terus menjaga sinergitas dan kolaborasi di antara seluruh pemangku kepentingan di pasar modal Indonesia.

“Sinergi dan kolaborasi Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KSSK) tentu menjadi prioritas utama dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan peran sektor keuangan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional,” ujar Mahendra dalam Seremoni Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Jakarta, Jumat.

Ia melanjutkan, OJK akan mendorong peningkatan perlindungan investor minoritas dan retail melalui penegakan aspek perilaku atau market conduct termasuk penguatan pengawasan perilaku influencer keuangan (finfluencer).

Baca juga: OJK minta PPATK telusuri transaksi keuangan PT Dana Syariah Indonesia

OJK saat ini tengah menyiapkan aturan baru bagi finfluencer, yang dalam tahap finalisasi dan ditargetkan terbit pada pertengahan 2026, dengan penekanan pada kapabilitas, transparansi, serta kepatuhan perizinan untuk mendukung literasi investasi yang bertanggung jawab.

Menurut Mahendra, masih terdapat ruang lebar untuk memperbesar pasar modal Indonesia, seiring dengan kontribusi pasar saham Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang masih di bawah negara-negara kawasan.

Kontribusi pasar saham Indonesia terhadap PDB tercatat sebesar 72 persen, atau berada di bawah negara kawasan seperti India sebesar 140 persen, Thailand sebesar 101 persen sebesar, serta Malaysia sebesar 97 persen.

Selain itu, pihaknya menyoroti kinerja indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2,41 persen year to date (ytd) atau masih jauh di bawah IHSG yang tumbuh 22,13 persen secara (ytd) per akhir tahun 2025.

Baca juga: OJK dan BEI tengah kaji demutualisasi demi cegah konflik kepentingan

“Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan besar dan menjadi rujukan investasi Fund Manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41 persen, jauh di bawah kenaikan IHSG,” ujar Mahendra.

Pada akhir tahun 2025, IHSG ditutup berada pada level 8.646,94 poin atau menguat 22,13 persen secara (ytd) dan mencatatkan 24 kali All Time High (ATH) sepanjang tahun 2025.

Dari sisi penghimpunan dana, hingga 31 Desember 2025, tercatat sebanyak 215 penawaran umum dengan total nilai Rp275 triliun, termasuk 18 emiten baru dengan nilai IPO sebesar Rp14,41 triliun.

Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) juga meningkat menjadi Rp18,1 triliun, dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp12,9 triliun, seiring pertumbuhan Single Investor Identification (SID) yang mencapai 20,2 juta SID atau meningkat 36 persen secara (ytd), dengan dominasi investor berusia di bawah 40 tahun.

Baca juga: IHSG menguat seiring pasar sambut "Santa Claus Rally"


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BisKita Bogor Berhenti Beroperasi, Warga: Jangan Tiba-tiba Hilang, Kita Jadi Bingung
• 4 jam lalukompas.com
thumb
4 Tips Self Care di Awal Tahun
• 21 jam lalubeautynesia.id
thumb
Tawuran Antarwarga Pecah di Terowongan Manggarai, Saling Lempar Batu-Petasan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Ketua Komisi III soal KUHP-KUHAP Baru Berlaku: Hukum Alat Rakyat Cari Keadilan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Polda Metro Usut Teror Bangkai Ayam dan Molotov di Rumah Dj Donny
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.