Mengapa Tumbuh Dewasa di Zaman Sekarang Terasa Lebih Melelahkan—Dan Solusinya yang Kongkrit

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Kay Rubacek

Anda sering diminta “lebih santai”, “kurangi main gawai”, “fokus saja”, atau “jangan terlalu dipikirkan”. Namun nasihat-nasihat seperti itu kerap tidak sinkron dengan realitas hidup pada hari ini.

Setiap hari perhatian Anda diseret ke berbagai arah: notifikasi, linimasa media sosial, tenggat kerja, grup WhatsApp, tuntutan akademik, ekspektasi keluarga, serta tekanan sosial yang nyaris tidak pernah benar-benar berhenti. Tekanan bukan datang lalu pergi—ia menumpuk sejak pagi, terus berlapis sepanjang hari, dan kerap ikut terbawa hingga larut malam.

Karena itu, ketika seseorang berkata “coba santai saja”, kalimat itu sering terdengar asing dan terasa jauh dari dunia yang benar-benar Anda jalani.

Ini bukan soal Anda lemah, rapuh, atau gagal mengelola diri. Ini soal Anda tumbuh dalam sistem yang sejak awal melatih tubuh dan pikiran agar dalam mode siaga.

Artikel ini ditulis untuk generasi muda masa kini, tetapi juga ditujukan bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana kondisi tumbuh dewasa saat ini telah berubah dan mengapa penting diperhatikan.

Tubuh Anda Menyadari Perbedaannya—Meski Anda Sulit Menjelaskannya

Cobalah perhatikan apa yang terjadi saat Anda berada di alam terbuka tanpa ponsel, atau duduk bersama orang-orang yang tidak sibuk menggulir layar, tidak mengejar citra, dan tidak berpindah fokus setiap detik.

Tubuh Anda bereaksi. Napas melambat. Bahu mengendur. Pikiran berhenti melompat-lompat. Ketegangan latar belakang yang biasanya Anda pikul perlahan mereda—meski hanya sebentar.

Kontras inilah yang membuat pengalaman “offline” terasa begitu menenangkan.

Itulah sebabnya semakin banyak anak muda kembali ke aktivitas yang lambat: merajut, memperbaiki pakaian, merawat tanaman, berburu buku fisik, mendaki tanpa gawai, dan mendengarkan piringan hitam. Ini bukan sekadar tren gaya hidup. Ini refleks biologis tubuh yang sedang mencari ruang aman.

Namun kebanyakan orang tidak menyebutnya demikian. Yang sering terdengar justru nasihat klise: “kelola stresmu lebih baik”.

Anda Dibentuk oleh Lingkungan yang Selalu Menekan

Otak manusia berkembang hingga usia pertengahan 20-an. Pada masa inilah tubuh belajar apa yang disebut “normal”: seberapa cepat harus merespons, seberapa sering harus waspada, dan kapan aman untuk benar-benar beristirahat.

Masalahnya, Anda tumbuh di dunia yang tidak pernah benar-benar sunyi. Perbandingan sosial hidup 24 jam sehari. Pesan tidak pernah berhenti masuk. Tuntutan selalu berada di genggaman tangan.

Akibatnya, tubuh Anda menjadi ahli dalam satu hal: selalu siap.

Namun pada saat yang sama, tubuh tidak pernah dilatih untuk benar-benar tenang.

Mengapa Nasihat Lama Tidak Lagi Ampuh

Generasi sebelumnya hidup dengan batas yang jelas. Jam sekolah berakhir. Jam kerja berakhir. Ketika malam datang, tekanan benar-benar turun, dan tubuh belajar bahwa saat itulah ia boleh melepas kewaspadaan.

Struktur itulah yang membentuk sistem saraf mereka.

Anda tidak dibesarkan dalam struktur itu.

Hari-hari Anda tidak pernah benar-benar “tutup”. Grup obrolan terus aktif. Notifikasi tetap berbunyi. Bahkan waktu istirahat sering datang bersama rangsangan baru.

Jadi bukan nasihat mereka yang sepenuhnya salah—tetapi kerangka hidup yang melahirkannya memang berbeda.

Bukan Anda yang Lemah—Tubuh Anda Sedang Bertahan

Banyak konflik lintas generasi hari ini bukanlah soal siapa yang paling benar, melainkan soal tubuh-tubuh yang dibentuk oleh dua dunia yang tidak sama.

Stres, cemas, dan kelelahan bukan tanda kegagalan pribadi.

Itu tanda bahwa sistem saraf Anda sedang bekerja keras dalam lingkungan yang menuntut terlalu banyak.

Kabar Baiknya: Tubuh Bisa Dilatih Ulang

Sistem saraf manusia belajar dari pengulangan. Apa yang Anda alami setiap hari akan diperlakukan tubuh sebagai “keadaan normal”.

Jika hari-hari Anda selalu penuh tekanan, tubuh akan menganggap tekanan sebagai standar hidup.

Namun pola ini bisa diubah.

Di setiap generasi, tubuh manusia menenangkan diri dengan cara yang sama: ritme hidup yang teratur, sentuhan nyata, waktu di alam, serta batas tegas antara kerja dan istirahat.

Tumbuh dewasa di zaman ini memang lebih berat.

Namun Anda tidak harus selamanya hidup dalam mode “siaga”.

Kesadaran memberi Anda ruang untuk memilih: lebih sering berada dalam kondisi yang menenangkan tubuh, dan lebih jarang berada dalam kondisi yang mengurasnya.

Dan di tengah dunia yang makin bising, pilihan itu bukan kemunduran—melainkan strategi bertahan hidup yang paling masuk akal.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sunderland vs Man City: Bernardo Silva Kecewa Dominasi The Citizens Gagal Berbuah Gol
• 12 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Agak Laen: Menyala Pantiku! Resmi Jadi Film Indonesia Terlaris ke-2 Sepanjang Masa, Hari Ini Berpeluang Geser Jumbo
• 7 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Prabowo: Pemerintah Siap Biayai Pemulihan Bencana, Bantuan Harus Terkoordinasi
• 10 jam lalukatadata.co.id
thumb
Penyintas Bencana di Padang Pariaman Bertahan Hidup di Tenda Darurat
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pendaki Hilang di Gunung Slamet Belum Ditemukan, Tim SAR Lanjutkan Pencarian
• 1 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.