Kisah Inspiratif: Menyerahkan Nyawa kepada Diri Sendiri

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. “Raja Ular” adalah julukannya. Dia dikenal luas sebagai pakar gigitan ular, telah menyelamatkan tak terhitung banyak nyawa. Di daerahnya, hampir tak ada racun ular yang tak mampu dia tangani. Demi meneliti obat penawar, dia bahkan memelihara ular berbisa seperti hewan peliharaan. Namun makhluk-makhluk berbahaya itu tak pernah benar-benar jinak—berkali-kali membuatnya berada di ambang maut.

Suatu hari, saat melintas di pasar tradisional, dia melihat seekor ular aneh: panjangnya tak sampai satu kaki, tubuh hijau dengan ekor putih, kepalanya berbentuk segitiga seperti besi setrika—jenis yang belum pernah dia jumpai. Nalurinya berkata, ini mungkin spesies baru yang belum tercatat. Tanpa ragu, dia membelinya dari pedagang ular dan membawanya pulang. Ular itu dia beri nama lucu: “Kepala Setrika”. Setiap hari dia rawat, amati, dan teliti dengan saksama.

Enam bulan kemudian, dia akhirnya merumuskan obat penawar racun ular tersebut. Pada suatu sore, dia dan istrinya membawa “Kepala Setrika” ke alam liar untuk dilepasliarkan. Namun musibah terjadi seketika: tepat saat dia melepas pegangan, ular itu berbalik cepat dan menggigit jari tengah tangan kirinya, lalu menghilang ke semak belukar.

Darah mengucur deras. Dia menahan nyeri yang menusuk tulang dan menyuruh istrinya segera menyalakan kamera untuk merekam bekas gigitan dan aliran darah—demi menyimpan data gigitan yang paling berharga. Keputusan itu membuatnya kehilangan waktu emas untuk penanganan awal. Lima menit kemudian, jarinya menghitam; racun menyebar cepat melalui darah.

 “Kepala Setrika” ternyata ular yang sangat mematikan.

Sesampainya di rumah, dia segera meminum obat racikan barunya. Kondisinya sempat terkendali. Namun keesokan harinya—meski ditentang keras oleh istrinya—dia menghentikan obat itu. Alasannya dua: ingin merasakan langsung reaksi fisiologis keracunan, dan menguji efektivitas obat. Dia tak menyangka, uji coba itu nyaris merenggut nyawanya.

Malamnya, luka mulai membusuk; racun kembali menyerang. Seluruh tubuhnya disergap rasa sakit tak tertahankan. Keringat dingin bercucuran, seolah setiap tulang dipanggang api. Saat dia mencoba minum obat lagi, sudah terlambat—racun telah menyerang jantung. Dia roboh tak sadarkan diri.

Raja Ular berada di ambang kematian.

Para sahabat berdatangan. Melihatnya terbaring kaku, napas tipis, wajah pucat bagai kertas, mereka menangis dan menggeleng putus asa. 

Ada yang mengusulkan: “Ke rumah sakit besar sekarang juga!” 

Istrinya panik; dalam hati dia takut obat racikan suaminya kali ini tak lagi ampuh. Barangkali rumah sakit memberi secercah harapan. Dia pun menyetujui. Ambulans dipanggil; rumah mendadak kacau.

Dia terbaring dengan kesadaran utuh, namun tubuhnya lumpuh total—tak bisa bergerak, tak bisa bicara, tak bisa membuka mata. Hanya pendengaran yang masih ada. Semua yang terjadi dia dengar jelas. Dalam hati dia berteriak: Jangan ke rumah sakit! Kalau ke sana, tamat.

Dia tahu betul: tak ada serum penawar untuk ular ini. Di rumah sakit, dia pasti kalah. Lebih baik mempertaruhkan nyawa pada obatnya sendiri. Sayangnya, tak seorang pun tahu dia masih sadar. Dia tak bisa memberi isyarat—hanya pasrah.

Ambulans tiba. Saat tubuhnya diangkat, guncangan itu membuatnya membuka mata. Dia masih tak bisa bicara, namun memutar bola mata sekuat tenaga. Istrinya memahami isyarat itu. Dengan air mata, dia meminta semua orang menurunkannya kembali.

Istrinya lalu mengikuti resep yang telah ditinggalkan suaminya—obat diminum dan dioleskan, dirawat dengan penuh ketelitian. Dia tahu risikonya besar, namun itu satu-satunya jalan.

Dua hari kemudian, keajaiban terjadi. Dia kembali dari gerbang kematian.

Ketika menceritakan pengalaman itu kepada saya, wajahnya tenang—nyaris seperti berkisah tentang orang lain. 

Saya bertanya: “Nyawamu hampir melayang. Mengapa kamu tetap begitu percaya pada dirimu sendiri?”

Dia tersenyum :  “Daripada diserahkan ke orang lain untuk ‘diobati sampai mati’, lebih baik aku obati sendiri. Kalau mati, ya pantas. Tapi kalau hidup, berarti benar.”

Ternyata, itu gigitan ular berbisa kesembilan yang dia alami. Setiap kali nyaris merenggut nyawa. Dia bahkan pernah dua kali menulis surat wasiat. Ungkapan ‘sembilan kali mati, sekali hidup’ terasa sangat tepat. 

Saya bertanya-tanya, mengapa dia selalu lolos? 

Dia bercanda: “Mungkin Raja Neraka tak mau menerimaku.”

Tentu, keberuntungan tak mungkin selalu berpihak pada orang yang sama. Terutama kali ini—yang menyelamatkannya bukanlah nasib, melainkan kepercayaan pada diri sendiri.

Kita semua tahu: percaya diri tidak menjamin sukses, tetapi tanpa percaya diri, kegagalan sudah pasti. Namun pertanyaannya— ketika hasil ditentukan oleh satu langkah, ketika hidup dan mati berjarak setipis rambut, ketika bahkan dunia meragukanmu—  masihkah kamu percaya pada dirimu sendiri? (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku, Menko Yusril: Era Hukum Pidana Kolonial Berakhir
• 2 jam lalumerahputih.com
thumb
Menteri PKP Rancang Transformasi Kawasan Menteng Jadi Destinasi Tematik Tanpa APBN
• 11 jam lalumatamata.com
thumb
Hadapi Borneo FC, Tomas Trucha Pastikan PSM Bangkit
• 47 menit lalufajar.co.id
thumb
Menolak Penghapusan Pilkada Langsung
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini 2 Januari 2026 Naik Tipis Rp3.000, Harganya Jadi Rp2.504.000 per Gram
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.