Waspada Goreng Saham, OJK Soroti Dominasi Investor Milenial dan Gen-Z

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar memberikan peringatan keras terkait integritas pasar, di tengah euforia penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menembus level 8.646,94 pada akhir 2025. OJK menyoroti meningkatnya risiko manipulasi pasar atau praktik goreng saham seiring dengan melonjaknya jumlah investor retail di Tanah Air.

Mahendra mengatakan, berdasarkan data terbaru, porsi transaksi investor retail di Indonesia meningkat pesat dari 38 persen di 2024 menjadi 50 persen pada akhir 2025. Dominasi ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain yang biasanya dikuasai oleh investor institusional.

"Porsi transaksi investor retail, meningkat pesat dari 38 persen di akhir 2024 menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir. Proporsi ini sangat besar dibandingkan negara-negara lain yang lebih mengandalkan investor institusional," kata Mahendra dalam Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026, Jumat, 2 Januari 2026.

Mahendra menegaskan, besarnya porsi investor perorangan menjadi alarm bagi regulator untuk memperketat pengawasan.

"Artinya, kembali semakin meningkatkan urgensi penguatan aspek pelindungan termasuk melindungi investor retail dari praktik kemungkinan goreng-menggoreng saham, transaksi tidak wajar serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya," tegas dia.
 

Baca Juga :

Optimisme Awal 2026, IHSG Ditutup Naik 1,17 Persen



(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)

Milenial dan gen-Z rentan terjebak

Kekhawatiran OJK bukan tanpa alasan. Lebih dari 70 persen dari investor retail tersebut berasal dari kalangan Generasi Milenial dan Generasi Z (Gen-Z). Kelompok ini dinilai rentan terjebak dalam skema manipulasi karena adanya kecenderungan melihat pasar saham sebagai sarana mencari keuntungan cepat dibandingkan investasi jangka panjang.

Untuk menekan ruang gerak mafia goreng saham, OJK menekankan dua langkah strategis. Pertama, penguatan pengawasan terhadap transaksi tidak wajar yang menyimpang dari fundamental perusahaan. Kedua, menekankan literasi yang masif agar investor tidak sekadar mengejar kekayaan jangka pendek, tetapi memahami risiko investasi yang sehat.

"Penguatan literasi dan edukasi yang lebih masif, target dan berkualitas menjadi sangat krusial untuk memastikan partisipasi investor retail yang sehat dan berkelanjutan, sehingga investor retail kita yang lebih 70 persen di antaranya adalah milenial dan Gen-Z tidak melihat pasar saham sebagai transaksi perdagangan harian yang semata-mata mengejar kekayaan dalam jangka pendek," kata dia. (Surya Mahmuda)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Tangkap 20 Tersangka Judol Internasional Sejak Agustus 2025
• 5 jam laludetik.com
thumb
Diburu Interpol, Buron Asuransi RI Hidup Mewah di Amerika
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
SBY Pertimbangkan Somasi Terkait Tuduhan Ijazah Palsu Jokowi Agar Tidak Jadi Isu Liar
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bakom: Pemerintah kecam intimidasi dan teror terhadap konten kreator
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Anak Bunuh Ibu Kandungnya di Medan, Kemen PPPA Tekankan Prinsip SPPA
• 23 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.