Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan seluruh SPBU swasta sudah mengajukan usulan kuota impor BBM untuk sepanjang tahun ini.
"SPBU swasta sudah mengajukan kuota untuk 2026. Seharusnya itu sudah tahap penyelesaian di Dirjen migas. Untuk tahun 2026 itu menyesuaikan dengan penjualan, ya kemudian itu juga ada asumsi kenaikan," katanya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/1).
Pada tahun 2025, kuota impor BBM untuk SPBU swasta naik 10 persen dari alokasi tahun 2024. Meski begitu, kuota tersebut masih kurang karena lonjakan permintaan, sehingga perlu menambah pasokan melalui PT Pertamina (Persero).
Yuliot mengaku pihaknya membuka peluang kuota impor bensin untuk badan usaha SPBU swasta dinaikkan pada tahun 2026. Namun belum bisa menyebutkan berapa persen kenaikannya, karena masih dikonsolidasikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi.
"Kita akan lihat terlebih dulu, berapa realisasi penjualan tahun 2025 kan kita belum dapat. Ini lagi dikonsolidasikan sama Dirjen Migas," tandas Yuliot.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, masih menghitung penentuan kuota impor BBM pada tahun depan berdasarkan data yang diserahkan badan usaha swasta.
"Belum ditetapkan. Kalau itu masih berproses dan data sudah masuk ke kami," katanya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (7/11).
Meskipun belum ditetapkan, Laode membuka peluang kuotanya ditambah dari kebutuhan tahun 2025 ini, sebesar 10 persen.
"Kemungkinan seperti itu polanya, 100 persen plus 10 persen. Tapi kan referensi tahunnya beda kan, kalau kemarin tahun 2024, sekarang tahun 2025," ungkapnya.
"Polanya itu harus ada prognosa dulu sampai dengan Desember, maksudnya bukan berarti akhir Desember ya, kira-kira kita sudah akhir November, sudah lihat polanya di Desember seperti apa, kurang lebih kita tetapkan," kata Laode.





