JAKARTA, KOMPAS.com - Siang itu, Siti (38) menunggu dengan sabar di tepi jalan kawasan Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Duduk di atas sepeda motornya, ia memegang celana bahan yang baru saja diukur oleh tukang jahit langganannya.
Mesin jahit manual di atas gerobak kecil berdetak ritmis, menyatu dengan suara kendaraan yang melintas di belakangnya.
Baca juga: Kisah Para Ibu Rumah Tangga Kampung Perca Ubah Kain Bekas Jadi Penghasilan
“Dari dulu saya selalu ke Pak Edi kalau mau permak celana atau baju. Sudah cocok sama hasil jahitannya,” ujar Siti kepada Kompas.com, Selasa (30/12/2025).
Bagi Siti, tukang jahit keliling bukan sekadar alternatif, melainkan solusi praktis.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=tukang jahit, tukang jahit keliling, indepth, cerita tukang jahit&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wMi8yMDM2NDYzMS9idWthbi1hZHUtdW5nZ3VsLXR1a2FuZy1qYWhpdC1rZWxpbGluZy1kYW4tdG9rby1qYWhpdC1zYWxpbmctbWVsZW5na2FwaQ==&q=Bukan Adu Unggul, Tukang Jahit Keliling dan Toko Jahit Saling Melengkapi§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Ia mengaku telah lebih dari 10 tahun menggunakan jasa penjahit keliling di Lenteng Agung, sejak masih mangkal di depan pasar lama sebelum area tersebut direvitalisasi.
Alasan utama Siti memilih tukang jahit keliling adalah harga dan kecepatan layanan.
Menurut dia, ongkos jahit di gerobak jauh lebih terjangkau dibandingkan toko jahit di ruko atau pusat perbelanjaan.
“Kalau ke toko jahit sekarang mahal, bisa dua kali lipat. Di sini masih manusiawi harganya,” kata dia.
Selain itu, ia bisa langsung menunggu hasil jahitan.
"Kadang cuma motong celana sedikit, bisa langsung jadi. Kalau ke toko, disuruh balik besok atau lusa,” ujar Siti.
Namun, tidak semua kebutuhan menjahit bisa dipenuhi oleh penjahit keliling.
Baca juga: Saat Limbah Menjadi Berkah: Kisah Ibu-ibu Kampung Perca Bogor Bangkit dari Pandemi
Dewi (34), karyawan swasta yang juga tinggal di Jakarta Selatan, mengaku kerap membagi pilihan antara tukang jahit keliling dan tukang jahit yang memiliki toko tetap.
Tergantung dengan kebutuhannya.
“Kalau cuma permak atau potong celana, saya biasanya ke tukang jahit keliling. Cepat dan harganya juga lebih murah,” ujar Dewi.
Namun, ketika ingin membuat pakaian dari awal, ia memilih mendatangi toko jahit.
“Kalau mau bikin baju dari awal, kebanyakan tukang jahit keliling tidak terima. Mereka rata-rata fokusnya permak saja,” kata dia.
Dewi menilai menjahit pakaian dari nol membutuhkan ruang kerja lebih memadai, waktu lebih panjang, serta peralatan yang lebih lengkap.
"Di toko jahit kan bisa konsultasi model, ukurannya lebih detail, dan hasilnya biasanya lebih rapi,” kata dia.
Meski begitu, Dewi menegaskan tukang jahit keliling tetap memiliki peran penting.
"Dua-duanya saling melengkapi. Tukang jahit keliling cocok buat kebutuhan cepat, sementara toko jahit buat pekerjaan yang lebih kompleks,” ucap dia.
Rudi (29), karyawan swasta, mengaku memilih tukang jahit keliling karena kepraktisan.
"Kadang pulang kerja sudah capek. Kalau ke mal ribet. Di sini tinggal datang, ukur, jadi,” kata dia.





