REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kamu sering merasa stres atau cepat lelah secara emosional tanpa alasan jelas? Penyebabnya bisa jadi bukan satu masalah besar, melainkan kebiasaan sehari-hari yang membuat hormon stres tetap aktif.
Dokter spesialis anestesi dan pengobatan nyeri intervensi, dr Kunal Sood, mengatakan kortisol dapat membantu tubuh menghadapi stres, namun kebiasaan sehari-hari tertentu bisa membuatnya terus tinggi atau mengganggu ritmenya. "Hal ini memengaruhi tidur, metabolisme, suasana hati, dan pemulihan. Kelebihan kortisol biasanya muncul karena stres harian yang menumpuk. Dengan memperbaiki tidur, waktu pemulihan, jadwal makan, dan konsumsi stimulan, beban stres bisa berkurang," kata dr Sood.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Akhir Tahun Rawan Burnout, Psikolog Bagikan Tips Mengelola Stres
- Film Agak Laen: Menyala Pantiku! Jadi Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa
- Labubu dan K-Pop Demon Hunters Dominasi Tren Konsumen Asia pada 2025
la kemudian membagikan enam kebiasaan sehari-hari yang diam-diam bisa mengganggu keseimbangan kortisol dan meningkatkan respons stres tubuh. Berikut seperti dilansir laman Hindustan Times, Sabtu (3/1/2026):
1. Kurang tidur
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Tidur yang cukup menurunkan kadar kortisol malam hari. Sebaliknya, kurang tidur menyebabkan hormon ini meningkat, menambah beban stres tubuh. Satu malam tanpa tidur saja bisa meningkatkan kadar kortisol, dan kurang tidur kronis membuat stres terasa lebih berat keesokan harinya.
2. Olahraga berlebih
Olahraga memang bisa menaikkan kortisol jangka pendek, namun setelah itu biasanya kembali normal. Adapun jika olahraga berlebih tanpa istirahat yang cukup, dapat membuat kortisol tetap tinggi dan mengganggu keseimbangan stres tubuh.



