Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Sumatera Barat, menegaskan bahwa normalisasi sungai menjadi langkah utama untuk memitigasi risiko banjir berulang akibat meluapnya debit air sungai di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengatakan ketersediaan alat berat sangat dibutuhkan untuk melakukan pengerukan sedimen sungai yang mengalami pendangkalan.
“Yang kita butuhkan adalah alat berat untuk menormalisasi sungai. Jika tidak, maka kondisinya akan seperti ini terus,” kata Hendri kepada wartawan, dikutip Sabtu, 3 Januari 2026.
Akses Utama Batu Busuak Terputus
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul terputusnya akses utama di kawasan Batu Busuak, Kecamatan Pauh, sepanjang kurang lebih 15 meter, akibat diterjang arus Sungai Batang Kuranji.
Menurut Hendri, kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan karena jalan yang terputus merupakan satu-satunya akses utama masyarakat setempat, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Sedimen Pascagalodo Masih Menumpuk
Hendri menjelaskan, pengerukan sedimen sungai menjadi krusial pascabanjir bandang atau galodo yang terjadi pada akhir November 2025. Meski sejumlah alat berat telah dikerahkan, kerusakan dan perubahan alur sungai belum sepenuhnya teratasi.
“Jadi, kita harus mengeruk sedimen sungai kemudian membuat cekdam. Jika tidak, maka kondisinya akan berlarut-larut seperti ini,” ujarnya.
Pengerukan dan Cekdam Dinilai Mendesak
BPBD menilai pengerukan sungai dan pembangunan cekdam merupakan langkah mendesak dan vital untuk mencegah meluapnya air sungai saat curah hujan tinggi.
Saat ini, kondisi Sungai Batang Kuranji di Batu Busuak telah mengalami pendangkalan dan pelebaran ke sisi kanan dan kiri, sehingga menggerus badan jalan.
Kondisi tersebut menyebabkan akses utama warga putus total dan berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar apabila tidak segera ditangani.
“Jadi solusinya datangkan alat berat sebanyak-banyak,” kata Hendri.
Editor: Redaktur TVRINews



