Bisnis.com, JAKARTA — Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi berencana mengunjungi Presiden AS Donald Trump pada musim semi ini, di tengah eskalasi ketegangan hubungannya dengan China.
“Atas undangan Presiden Trump, kami juga sepakat untuk berkoordinasi secara rinci guna mewujudkan kunjunganku ke Amerika Serikat pada musim semi ini,” tulis Takaichi dalam postingannya di X pada Jumat, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (3/1/2026).
Percakapan antara kedua pemimpin sekutu ini terjadi setelah militer China mensimulasikan blokade Taiwan, sebuah pulau otonom yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya, selama dua hari dengan latihan tembak langsung.
China juga meluncurkan proyektil jarak jauh ke Selat Taiwan—salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia—untuk pertama kalinya sejak 2022.
Pada awalnya, Trump mengabaikan latihan tersebut sebagai kelanjutan dari aktivitas China yang sudah berlangsung lama dan memuji hubungan yang baik dengan Presiden China Xi Jinping. Namun, Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan pada Hari Tahun Baru menuduh Beijing meningkatkan ketegangan secara tidak perlu.
Hubungan antara Jepang dan China pun memburuk dalam beberapa pekan terakhir setelah Takaichi secara terbuka mengatakan Tokyo dapat mengerahkan militernya jika Beijing menyerang Taiwan.
Baca Juga
- Dominasi Mobil Jepang Selama 2 Dekade Terancam Digeser Merek China
- Biaya jadi TKI ke Jepang Hingga Rp40 Juta, Pemda Cirebon Fasilitasi Lewat Bank BJB (BJBR)
- Krisis Memori, Toko PC di Jepang Mulai Hentikan Pesanan dan Naikkan Harga 2026
Beijing merespons dengan meluncurkan serangkaian tindakan balasan, termasuk membatasi impor produk laut Jepang dan mengimbau warga China untuk tidak mengunjungi Jepang.
Takaichi menolak menarik kembali pernyataannya, dengan mengatakan bahwa kebijakan Jepang terhadap Taiwan tetap tidak berubah.
Trump dan Takaichi telah berbicara pada akhir November, ketika presiden AS memberi pengarahan kepadanya tentang panggilan telepon dengan Xi dan perkembangan terbaru dalam hubungan AS-China.
Secara lebih luas, latihan militer China baru-baru ini menjadi ujian bagi dukungan Trump terhadap Taiwan setelah AS menyetujui paket senjata senilai $11 miliar untuk pulau tersebut pada Desember, yang memicu kemarahan Beijing. China telah melancarkan upaya diplomatik untuk menstabilkan hubungan dengan AS sambil juga berusaha menegaskan kepada Washington bahwa Taiwan merupakan garis merah.
Panggilan telepon antara Trump dan Takaichi juga terjadi saat AS dan Jepang bergerak untuk mempercepat rencana Tokyo untuk berinvestasi US$550 miliar di AS, sebagai bagian dari perjanjian perdagangan yang lebih luas untuk menurunkan tarif. Persetujuan akhir untuk investasi akan diberikan oleh Trump berdasarkan rekomendasi dari komite.




