Nanjing (ANTARA) - Pan Qiaoying, seorang wanita penyintas Pembantaian Nanjing, wafat pada Kamis (1/1) pada usia 95 tahun, seperti diumumkan oleh Balai Peringatan Korban Pembantaian Nanjing oleh Tentara Jepang pada Jumat (2/1).
Dengan wafatnya Pan, jumlah penyintas yang masih hidup dan terdaftar dari kekejaman tersebut kini tersisa 23 orang, kata balai peringatan itu yang terletak di Nanjing, ibu kota Provinsi Jiangsu, China timur.
Pembantaian Nanjing merujuk pada periode sejarah yang dimulai ketika pasukan Jepang merebut ibu kota China kala itu, pada 13 Desember 1937.
Dalam kurun waktu enam pekan, mereka membunuh sekitar 300.000 warga sipil dan tentara tak bersenjata China dalam salah satu episode paling kejam dalam Perang Dunia II.
Pan baru berusia enam tahun pada 1937 ketika pasukan Jepang memasuki Nanjing. Bersembunyi di dalam tungku dapur, dia menyaksikan tentara Jepang menikam kakek, ayah, dan sepupunya hingga tewas dengan bayonet.
Beberapa penyintas yang terdaftar telah meninggal dalam beberapa tahun terakhir, sehingga jumlah orang yang dapat berbagi kesaksian langsung tentang pembantaian tersebut terus menurun.
Pada 2014, badan legislatif tertinggi China menetapkan 13 Desember sebagai hari peringatan nasional bagi korban Pembantaian Nanjing. Pemerintah China juga telah menyimpan kesaksian para penyintas, yang direkam baik dalam bentuk transkrip tertulis maupun video.
Berbagai dokumen tentang pembantaian tersebut juga telah dicantumkan oleh UNESCO dalam Daftar Memori Dunia (Memory of the World Register) pada 2015.
Dengan wafatnya Pan, jumlah penyintas yang masih hidup dan terdaftar dari kekejaman tersebut kini tersisa 23 orang, kata balai peringatan itu yang terletak di Nanjing, ibu kota Provinsi Jiangsu, China timur.
Pembantaian Nanjing merujuk pada periode sejarah yang dimulai ketika pasukan Jepang merebut ibu kota China kala itu, pada 13 Desember 1937.
Dalam kurun waktu enam pekan, mereka membunuh sekitar 300.000 warga sipil dan tentara tak bersenjata China dalam salah satu episode paling kejam dalam Perang Dunia II.
Pan baru berusia enam tahun pada 1937 ketika pasukan Jepang memasuki Nanjing. Bersembunyi di dalam tungku dapur, dia menyaksikan tentara Jepang menikam kakek, ayah, dan sepupunya hingga tewas dengan bayonet.
Beberapa penyintas yang terdaftar telah meninggal dalam beberapa tahun terakhir, sehingga jumlah orang yang dapat berbagi kesaksian langsung tentang pembantaian tersebut terus menurun.
Pada 2014, badan legislatif tertinggi China menetapkan 13 Desember sebagai hari peringatan nasional bagi korban Pembantaian Nanjing. Pemerintah China juga telah menyimpan kesaksian para penyintas, yang direkam baik dalam bentuk transkrip tertulis maupun video.
Berbagai dokumen tentang pembantaian tersebut juga telah dicantumkan oleh UNESCO dalam Daftar Memori Dunia (Memory of the World Register) pada 2015.



