EtIndonesia. Huruf mencerminkan kehidupan. Setiap kali menulis satu huruf, seolah kita sedang menafsirkan hidup itu sendiri. Setiap goresan dan tarikan membentuk keindahan hidup; setiap jeda dan langkah menggambarkan lika-liku perjalanan; setiap menahan dan melepaskan menghadirkan ritme tegang dan rileks dalam kehidupan. Dan aku, melalui penulisan satu demi satu huruf Han, telah melewati badai dan akhirnya menyambut pelangi.
Suatu malam, aku menggenggam kuas dan menirukan tulisan dari buku contoh. Ujung kuas meluncur di atas kertas, meninggalkan jejak tinta hitam satu per satu. Entah mengapa, biasanya saat berlatih menulis aku selalu tenang, tetapi malam itu hatiku terasa gelisah. Kegelisahan itu seperti seekor serangga yang buruk rupa, merayap canggung di depan mataku, sesekali mengangkat kepalanya yang jelek dan mengibaskan kaki-kakinya dengan liar, membuat hatiku terus-menerus tidak tenang dan sulit berkonsentrasi.
Aku menghela napas pelan. Tanganku bergerak, pergelangan kuas diputar dengan lembut, sebuah huruf pun terbentuk di atas kertas. Namun saat kuperhatikan dengan saksama, selalu terasa ada yang janggal—sesuatu yang sulit dijelaskan.
Saat itu, ayah masuk ke kamarku karena suatu keperluan.
Dia berdiri di belakangku, memperhatikan sejenak, lalu berkata : “Huruf-huruf ini belum ditulis dengan baik. Lihat, bagian vertikal ini seharusnya tebal, sedangkan garis horizontalnya seharusnya tipis. Tapi justru kamu menebalkan bagian yang tidak perlu dan menipiskan bagian yang seharusnya kuat. Hasilnya jadi terlihat lemah dan tidak bertenaga.”
Setelah mendengar nasihat ayah, aku menulis beberapa lembar lagi. Namun hasilnya tetap terasa hambar—tidak ada kekuatan, bentuknya pun tidak tepat. Melihat huruf-huruf yang kehilangan irama itu, kegelisahan di dalam hatiku seperti serangga yang melekat di tulang, merayap tanpa henti. Setiap kali aku berusaha menenangkan diri, dia muncul kembali, mencakar-cakar hatiku.
Akhirnya aku meletakkan kuas, duduk di kursi untuk beristirahat, berusaha menekan kegelisahan itu.
“Kalau kondisinya sedang tidak baik, latihan saja lain kali,” pikirku.
Aku membersihkan kuas, keluar dari ruang kerja, meninggalkan beberapa lembar tulisan yang gagal. Saat itu aku sama sekali tidak menyadari bahwa masa kemacetan pertama dalam perjalanan menulisku telah diam-diam datang. Aku juga tidak tahu, demi melewati masa itu, betapa banyak badai yang harus kuhadapi.
Pada akhir pekan, aku pergi ke rumah guru untuk berlatih kaligrafi. Aku membentangkan kertas di atas meja, mengambil kuas, dan mulai menulis satu demi satu. Namun kegelisahan itu kembali muncul, seperti hewan kecil yang terus menggeram di dalam hatiku. Menatap kertas di atas meja, rasa tidak sabar mulai muncul. Perasaan mengalir yang dulu begitu alami kini menghilang entah ke mana. Setiap goresan terasa kering dan membosankan.
Huruf-huruf di bawah kuasku seperti udang berkaki lunak—mengambang di atas kertas tanpa tenaga. Melihat hasil itu, rasa kesal pun muncul, dan kegelisahan semakin menjadi-jadi. Dalam luapan emosi, aku menarik kuas dengan kuat di atas kertas, hingga sebuah “serangga” yang berat dan kikuk tercetak di sana.
Saat itu juga, guru kebetulan lewat.
Dia melihat tulisanku, mengerutkan kening, lalu berkata : “Kurangi tinta. Huruf ini sudah terlalu basah. Saat menulis, perhatikan baik-baik. Setelah selesai, bandingkan, cari bagian yang kurang baik, lalu segera perbaiki. Perhatikan perubahan tebal-tipisnya. Sudah, lanjutkan menulis.”
Aku menundukkan kepala dengan malu dan berusaha mengikuti instruksi guru. Namun huruf-huruf yang lahir dari kuasku seakan mengejek ketidakmampuanku.
Sore berlalu. Dengan perasaan cemas, aku menyerahkan hasil latihan kepada guru. Setelah melihatnya, ada kilatan kekecewaan di matanya.
Dia membetulkan beberapa kesalahan dan berpesan : “Pulanglah dan lebih banyak berlatih. Tulisan hari ini belum baik. Kamu harus terus berusaha.”
Dalam perjalanan pulang, aku masih berpikir polos bahwa ini hanya masalah sementara—asal lebih rajin berlatih, semuanya akan membaik. Namun kenyataan yang kejam menghancurkan harapanku. Selama beberapa minggu berturut-turut, tulisanku tetap seperti itu. Tatapan kecewa dan teguran guru membuatku sesak napas, sementara keraguan di mata orang tua semakin menambah penderitaanku.
Perlahan, aku mulai merasa enggan menulis. Aku tidak ingin lagi memegang kuas. Orangtuaku melihat semuanya dengan cemas.
Suatu hari, ayah akhirnya tak tahan melihat aku menyerah begitu saja.
Dia menghampiriku, tanpa memberi ceramah panjang, hanya menceritakan sebuah kisah: “Wang Xizhi, sang Mahaguru Kaligrafi, sejak kecil sudah berlatih menulis. Hari demi hari dia menulis tanpa henti, merusak satu demi satu ujung kuas, menghabiskan satu demi satu pena. Setelah selesai menulis, dia mencuci kuas-kuas itu di sebuah kolam. Lama-kelamaan, air kolam pun menjadi hitam. Itulah sebabnya dia bisa menjadi ‘Sang Mahaguru’. Kesuksesannya bukan hanya karena cintanya pada kaligrafi, tetapi juga karena ketekunannya.”
Kata-kata ayah mengguncang hatiku. Wang Xizhi pasti juga pernah menulis dengan buruk. Namun dia tetap bertahan, menulis kisah hidupnya yang gemilang. Kalau begitu, aku pun pasti bisa melewati lika-liku hidup dan menjadi versi diriku yang lebih baik.
Sejak saat itu, aku mulai belajar menenangkan diri. Saat merasa tertekan, aku mengajak ibu berjalan-jalan. Aku kembali mengangkat kuas, berlatih hari demi hari, berusaha menahan kegelisahan di dalam hati, menulis setiap goresan dengan perlahan dan penuh kesadaran. Kuas bergesekan dengan kertas, terus-menerus kubandingkan dengan buku contoh, berusaha mencapai hasil terbaik.
Tanganku jatuh perlahan, tinta hitam meresap ke kertas, dan huruf-huruf pun mulai memiliki kekuatan. Banyak malam berlalu. Tulisan di atas kertas akhirnya menunjukkan kemajuan yang nyata. Tatapan kecewa di mata orang tua dan guru pun perlahan berubah menjadi kelegaan dan kepuasan.
Satu huruf adalah satu kehidupan. Hidup pun seperti menulis: selama kita mau bertahan dan terus berusaha tanpa menyerah, kita pasti bisa melewati rintangan, menembus badai, dan menyambut pelangi.(jhn/yn)




