Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta Justin Adrian Untayana meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengevaluasi, bahkan dicabut bantuan sosialnya untuk keluarga yang anggotanya menjadi pelaku tawuran.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat meredam tawuran di Jakarta. "Tawuran ini adalah perilaku yang menular. Karena itu, setiap keluarga harus berperan aktif untuk memastikan anggotanya tidak menjadi pelaku tawuran," kata Justin di Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa awal tahun 2026 dibuka dengan gelombang tawuran yang terjadi di beberapa titik di Jakarta selama dua hari terakhir.
Tawuran terjadi di Manggarai, Klender dan Ciracas. Kejadian itu merupakan hasil dari ketidakpedulian keluarga dalam mendidik anak-anak atau anggota keluarganya agar tidak turut dalam kegiatan-kegiatan yang negatif.
Baca juga: Polisi gunakan gas air mata untuk bubarkan tawuran di Manggarai
Untuk itu, Justin mengusulkan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Sosial (Dinsos) mengevaluasi atau bilamana memungkinkan untuk mencabut bantuan-bantuan sosial (bansos) kepada keluarga yang anggotanya menjadi pelaku tawuran.
"Pemprov DKI perlu menunjukkan ketegasan. Masalah ini sudah terjadi berulangkali dan semakin larut tanpa adanya serangkaian solusi konkret yang bisa menyelesaikannya secara tuntas," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hingga saat ini terlalu banyak keluarga yang bersikap abai dengan perilaku anggota-anggotanya karena tidak ada konsekuensi terhadap para pelaku tawuran.
Bahkan sudah ribuan kali para pelaku yang diamankan hanya dikembalikan kepada orang tuanya dengan seremoni berpelukan dan berurai air mata belaka.
Baca juga: Polisi tangkap tiga remaja yang terlibat tawuran di Kalimalang
Bansos ini adalah keringat rakyat Jakarta. "Sebaiknya tidak diberikan kepada mereka yang tidak berpartisipasi menjadi warga Jakarta yang baik," katanya.
Sebelumnya, Kepolisian menggunakan gas air mata untuk membubarkan tawuran yang melibatkan warga Gang Tuyul RW 04 dan warga RW 012 di Terowongan Manggarai, Jalan Dr Soepomo, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat (2/1) sore sekitar pukul 15.00 WIB.
"Iya pakai gas air mata biar cepat bubar," kata Kasi Humas Polres Jakarta Selatan, AKBP Murodih.
Murodih mengatakan, tujuan penggunaan selain untuk membubarkan aksi tawuran, juga demi membuat situasi kondusif sehingga tidak mengganggu pengguna jalan. "Biar cepat bubar dan tidak mengganggu masyarakat pengguna jalan," katanya.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat meredam tawuran di Jakarta. "Tawuran ini adalah perilaku yang menular. Karena itu, setiap keluarga harus berperan aktif untuk memastikan anggotanya tidak menjadi pelaku tawuran," kata Justin di Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa awal tahun 2026 dibuka dengan gelombang tawuran yang terjadi di beberapa titik di Jakarta selama dua hari terakhir.
Tawuran terjadi di Manggarai, Klender dan Ciracas. Kejadian itu merupakan hasil dari ketidakpedulian keluarga dalam mendidik anak-anak atau anggota keluarganya agar tidak turut dalam kegiatan-kegiatan yang negatif.
Baca juga: Polisi gunakan gas air mata untuk bubarkan tawuran di Manggarai
Untuk itu, Justin mengusulkan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Sosial (Dinsos) mengevaluasi atau bilamana memungkinkan untuk mencabut bantuan-bantuan sosial (bansos) kepada keluarga yang anggotanya menjadi pelaku tawuran.
"Pemprov DKI perlu menunjukkan ketegasan. Masalah ini sudah terjadi berulangkali dan semakin larut tanpa adanya serangkaian solusi konkret yang bisa menyelesaikannya secara tuntas," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hingga saat ini terlalu banyak keluarga yang bersikap abai dengan perilaku anggota-anggotanya karena tidak ada konsekuensi terhadap para pelaku tawuran.
Bahkan sudah ribuan kali para pelaku yang diamankan hanya dikembalikan kepada orang tuanya dengan seremoni berpelukan dan berurai air mata belaka.
Baca juga: Polisi tangkap tiga remaja yang terlibat tawuran di Kalimalang
Bansos ini adalah keringat rakyat Jakarta. "Sebaiknya tidak diberikan kepada mereka yang tidak berpartisipasi menjadi warga Jakarta yang baik," katanya.
Sebelumnya, Kepolisian menggunakan gas air mata untuk membubarkan tawuran yang melibatkan warga Gang Tuyul RW 04 dan warga RW 012 di Terowongan Manggarai, Jalan Dr Soepomo, Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat (2/1) sore sekitar pukul 15.00 WIB.
"Iya pakai gas air mata biar cepat bubar," kata Kasi Humas Polres Jakarta Selatan, AKBP Murodih.
Murodih mengatakan, tujuan penggunaan selain untuk membubarkan aksi tawuran, juga demi membuat situasi kondusif sehingga tidak mengganggu pengguna jalan. "Biar cepat bubar dan tidak mengganggu masyarakat pengguna jalan," katanya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461791/original/037824000_1767445699-berita-john-_x600.jpg)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461711/original/057654700_1767432671-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_16.19.03.jpeg)