JAKARTA - Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terus dilakukan penegak hukum menuai kritik. Pasalnya, OTT yang melibatkan pejabat hingga aparat penegak hukum, seakan menandakan pengungkapan kasus korupsi telah menjadi agenda rutin di Tanah Air.
Pengamat hukum dan politik, Pieter C. Zulkifli mengatakan, fenomena OTT, peradilan, dan kekuasaan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan gejala dari krisis yang lebih dalam, yakni krisis integritas dan keberanian moral. Tanpa pejabat hukum yang takut kepada Tuhan, hukum mudah tergelincir menjadi sekadar ritual kekuasaan.
"Di negeri ini, operasi tangkap tangan sudah seperti agenda rutin. Hampir setiap tahun, bahkan hampir setiap bulan, selalu ada pejabat atau aparat penegak hukum yang kembali terjaring. Seolah korupsi adalah ritual tahunan," kata Pieter Zulkifli, Sabtu (3/1/2026).
“Polanya nyaris seragam: konferensi pers, borgol, janji bersih-bersih, lalu sunyi. Kita gaduh sesaat, lalu lupa. Korupsi pun berlanjut, seolah-olah negara ini rajin menangkap, tetapi malas mencegah,” timpalnya.
Mantan Ketua Komisi III DPR RI itu mengungkapkan, di tengah “siklus anomali” tersebut, Ketua Mahkamah Agung RI Prof. Dr. H. Sunarto mengucapkan kalimat sederhana namun menohok, yakni ‘percuma hakim pintar jika tidak takut kepada Tuhan’.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5462345/original/058502000_1767544921-1000735543.jpg)


