Pergumulan konsep-ide atau pun gagasan sangatlah memberikan ruang pembaharuan dan pemikiran sebagai lahirnya inovasi dan transformasi dari pelbagai sektor, termasuk Pendidikan. Saat ini, diketahui bahwa perkembangan teknologi memiliki hierarki yang masif, tidak dapat dikendalikan berdasarkan waktu usangnya.
Terlebih sifat kedinamisan teknologi itulah yang kemudian menyerap dan menggerakkan pelbagai pemerhati pendidikan, politik, bahkan pejabat pemerintah harus serta merta dapat bergegas memberikan hidangan yang baik dan mengasyikkan guna memberikan gizi dan vitamin sebagai manifestasi Sumber Daya Manusia yang unggul dan kompetitif di masa yang akan mendatang.
Sinergitas terhadap perubahan teknologi harus dijalin dengan baik, mengingat dunia pendidikan sekarang ini berada pada era industri 4.0 menuju era 5.0 atau era society sangatlah memiliki terobosan yang sejatinya harus dirasakan dampaknya dengan saksama (bagi seluruh elemen masyarakat). Oleh karena dengan adanya perkembangan pada bidang teknologi, setidaknya Insan Indonesia mengenal pelbagai alat tukar melalui dimensi transaksi dan peruntukkannya.
Salah satu literatur re-view mengenai hal tersebut seyogyanya dapat dilihat berdasarkan hasil Uji coba TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) Seperti Perbandingan Keunggulan Teknologi Otentifikasi (Kartu Debit, Bio Wajah, Bio Sidik Jari, SMS/E-Voucher, QR Code. dengan cakupan Indikator Infrastruktur Transaksi, Risiko/Kendala Transaksi, Perubahan Perilaku, Registrasi dan Pencairan) untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan masing-masing teknologi.
TNP2K menyimpulkan bahwa beberapa fasilitas teknologi tersebut di atas dapat diatasi dengan menerapkan pola transaksi keuangan dengan menggunakan biometrik sebagai mekanisme otentifikasinya. Dipadukan dengan layanan fintech, teknologi biometrik wajah dapat menjadi pilihan pemerintah untuk memperbaiki penyaluran program-program yang bersifat bantuan untuk kemudian dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat sevara efektif dan efisien, dengan kemudahan bertransaksi serta tingkat keamanan yang tinggi. (TNP2k, 2020).
Dari uraian teknologi Otentifikasi tersebut di atas, kiranya menyasar seluruh elemen pemangku kebijakan atau asosiasi-organisasi, dan hal ini harus dapat menunjukkan sikap terhadap perilaku teknologi untuk melakukan transaksi berdasar perkembangannya salah satunya melalui Teknologi Blockchain.
Diketahui bahwa teknologi blockchain ini merupakan teknologi yang pertama kali sukses digunakan dalam pengembangan cryptocurrency. Dalam implementasinya teknologi blockchain memungkinkan terjadinya suatu transaksi secara peers to peers (P2P) (Rekan-teman Ke Rekan-teman) secara aman, meskipun tanpa menggunakan perantara (bank/lembaga keuangan).
Tidak hanya dalam cryptocurrency, teknologi blockchain ini juga mengalami pengembangan sehingga dapat diaplikasikan ke berbagai sektor, mulai dari industri keuangan, hingga ke sistem pemerintahan. Teknologi blockchain ini kemudian dianggap sebagai suatu inovasi dan terobosan baru yang akan mendorong perubahan. Pemerintah perlu merespons terhadap perubahan/disrupsi yang mungkin ditimbulkan oleh sistem blockchain ini.
Selain itu, menurut Armai Arief, teknologi Blockchain ini dipastikan dapat menyasar kepada seluruh pergerakan Manajemen Pendidikan yang dapat memberikan dampak terjadinya revolusi industri dalam tataran pengelolaan sistem pendidikan yang terintegritas dan mendisrupsi model-model manajamen yang sebelumnya.
Dan inilah yang dinamakan revolusi untuk pembaharuan dan mengedepankan aspek pengelolaan pendidikan. Perihal tersebut dapat terlihat dari adanya perbedaan Blockhain bidang business mengarah pada mata uang (Crypto) dan pendidikan mengarah pada basis penyimpanan data.
Inisiasi Pendirian Institute Teknologi Blockchain Indonesia, diharapkan dapat memberikan kenyamanan, keterbukaan, dan pelayanan yang baik, serta mendapatkan apresiasi dari pemerintah, sebagai upaya merawat dan menjawab tantangan perkembangan zaman sebagai bentuk manifestasi Indonesia kedepannya. Dan mengentaskan pendidikan dijenjang perguruan tinggi bagi masyarakat yang tidak-kurang mampu dan berprestasi.
Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan pemerintah dalam ragam perkembangan teknologi Blockchain untuk pendidikan di antaranya: Pertama, pemerintah melakukan Pengkajian dengan melibatkan-mengundang para pakar (teknologi, keuangan, pendidikan, agama, dsb) sebagai rumusan awal; Kedua, Pemerintah memberikan Policy-Kebijakan bahwa teknologi Blockchain ini memiliki kebermanfaatan bagi perkembangan dipelbagai sektor (Industri,Keuangan, Pendidikan, Usaha, Pemerintah, kehidupan individu-kelompok); Ketiga, Instansi Pemerintah yang menangani Pendidikan bekerjasama antar Kementerian (Kemenag, dan Kemdikbud) untuk merumuskan pola dan pengejewantahan Kurikulum, Mata Kuliah yang dipandang perlu bahwa hal tersebut memang dibutuhkan berdasarkan kebutuhannya dan selanjutnya diundangkan; Keempat, tahapan Implementasi dari setiap tataran lembaga pendidikan khususnya Perguruan Tinggi atau bahkan tidak menutup kemungkinan pada tataran pendidikan Menengah Atas).
Catatan-catatan di atas merupakan bagian dari adanya legitimasi yang diharapkan dapat dikeluarkan oleh pemerintah guna mempercepat terobosan-terobosan baru teknologi dalam bidang pendidikan khususnya. Sebagai mana diketahui, Teknologi Blockhain yang selama ini dikenal melalui cryptocurrency, tidak sedikit menuai pergulatan dan spekulasi dalam perdebatannya.
Sehingga diharapkan ada titik temu dan legal-standing yang diputuskan. Berikut disajikan skema bagaimana alur transaksi pada Sistem Blockchain bidang Bussiness. Lantas, Akankah dapat diterapkan untuk Pendidikan? Kiranya dapat dipastikan bisa diterapkan.
Polemik yang selama ini terjadi dalam menyikapi peran serta cryptocurrency, banyak menuai perdebatan bahkan pandangan dalam hal ini para ulama melalui pelbagai organisasinya yang memberikan tanggapan bahwa hal tersebut dilarang bahkan diperbolehkan dengan syarat tertentu.
Tetapi kiranya, tidak sebegitu pelik bagi dunia pendidikan ketika teknologi Blockchain ini dilihat dalam sisi Pendidikan, maka sangatlah memberikan dampak positif dari dampak maju tidaknya pendidikan di Indonesia terutama dalam memodifikasi pada ranah tata kelola-manajemen pendidikan sebagai sektor yang memiliki andil dalam penyimpanan basis data.
Harapan besar adanya teknologi blockchain dalam dunia pendidikan dapat peningkatkan keamanan dan efisiensi bagi lembaga pendidikan dan stakeholder di dalamnya (Guru, Peserta Didik, dan Tenaga kependidikan).
Blockchain memiliki potensi untuk memastikan identitas, privasi, dan keamanan data. Dari potensi tersebut teknologi blockchain ini memiliki 3 Pilar di antaranya: pertama, desentralisasi; kedua, transparansi, dan; ketiga, kekal. Pertama, desentralisasi ini dimaksudkan untuk dapat melihat, me-record,dan memfasilitasi serta memberikan kewenangan pada daerah dalam hal pendidikan yang berada pada masing-masing daerahnya.
Kedua, transparansi, keterbukaan berbasis data pada pengelolaan akan dapat dilihat dan diketahui di mana pun dan kapan pun. dan Ketiga, Kekal. Memiliki data yang menunjukkan tingkat ke-validitas-an seseorang berdasarkan rekam jejak yang dapat menjamin keamanan bukti yang dimiliki dan tidak mudah dipalsukan. Sehingga sifat dari 3 pilar di atas yaitu: permanen, transparan, dan mudah ditelusuri.
Selanjutnya, ada beberapa sasaran penting dengan adanya teknologi Blockchain untuk pendidikan di antaranya; pertama, pengelolaan administrasi pendidikan; kedua, pengelolaan manajemen keuangan lembaga pendidikan; dan ketiga, pengelolaan program kegiatan penunjang lembaga pendidikan.
Dengan adanya Teknologi Blockchain pada pendidikan ini dapat memberikan dampak dari adanya perkembangan yang melahirkan berbagai ragam indikator berbasis data, informasi, pengetahuan dan Kebijaksanaan, yang semua cakupan indikator tersebut memiliki nila-nilai penunjang bagi keberlangsungan pendidikan di Indonesia.
Kalau lah di Luar Negeri berbagai sektor bisnis, perbankan, dsb. sudah menggunakannya, kenapa tidak Indonesia untuk mengungguli pada sektor Pendidikannya. Sehingga dapat menjadi cermin dan contoh bagi negara-negara lain. Sebagai mana pesan Ali bin Abi Thalib. Ajarilah Anak-anakmu berdasar pada perkembangan dan perubahan pada masa-zamannya. Hal tersebut senada dengan pernyataan penulis bahwa Indonesia juga harus memiliki keunggulan berteknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai Tradisional-konvensional.
Semoga dengan adanya Inisiasi Persiapan Pendirian Institut Teknologi Blockchain yang digagas oleh Yayasan Pengembangan Bisnis Manajemen (YPBM) bekerja sama dengan Batom Sosial Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) dapat segera terealisasi dengan baik dan dapat bermanfaat bagi generasi anak bangsa untuk menyongsong Indonesia Merdeka. Indonesia Jaya, Indonesia Nusantara, Indonesia bersatu.





