Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh pasukan elite Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyebut Maduro ditangkap atas tuduhan narkoba. Namun respons Trump soal pengolahan minyak di Venezuela usai penangkapan itu menimbulkan pertanyaan.
"Kita akan mengirimkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara tersebut," kata Trump pada Sabtu (3/1) waktu setempat.
Beberapa pihak menilai, penangkapan Maduro oleh Trump memang didasari oleh minyak, bukan narkoba seperti yang dituduhkan.
"Ini adalah pertumpahan darah demi minyak. Ini tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba," kata anggota DPR dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss, dikutip dari CNN, Minggu (4/1).
"Narkoba sebagian besar dikirim ke Eropa, dan kokain bukanlah narkoba yang membunuh warga Amerika. Itu adalah fentanyl yang berasal dari China,” tambahnya.
Lantas bagaimana sebenarnya kondisi industri minyak Venezuela yang disebut memiliki cadangan minyak terbesar di dunia? Berikut penjelasannya dikutip dari Reuters:
Cadangan Minyak TerbesarVenezuela memang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi produksi minyaknya masih rendah karena salah urus, kurangnya investasi, dan sanksi internasional.
Venezuela memiliki sekitar 17% cadangan global atau 303 miliar barel. Lebih tinggi dari milik Arab Saudi.
Cadangannya sebagian besar terdiri dari heavy oil di wilayah Orinoco di Venezuela tengah, sehingga minyak mentahnya mahal untuk diproduksi.
Produksi MinyakVenezuela adalah anggota pendiri OPEC bersama Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi.
Negara itu pernah memproduksi minyak sebanyak 3,5 juta barel per hari pada 1970-an. Jumlah tersebut saat itu mewakili lebih dari 7% produksi minyak global.
Namun produksi minyak Venezuela turun di bawah 2 juta barel per hari selama tahun 2010-an. Pada tahun lalu rata-rata produksinya sekitar 1,1 juta barel per hari atau hanya 1% dari produksi global.
"Jika perkembangan pada akhirnya mengarah pada perubahan rezim yang nyata, ini bahkan dapat menghasilkan lebih banyak minyak di pasar dari waktu ke waktu. Namun, dibutuhkan waktu agar produksi pulih sepenuhnya," kata Arne Lohmann Rasmussen dari Global Risk Management dikutip dari Reuters.
Jika perubahan rezim berhasil, ekspor Venezuela dapat tumbuh seiring dengan dicabutnya sanksi dan kembalinya investasi asing, kata analis MST Marquee, Saul Kavonic.
"Sejarah menunjukkan bahwa perubahan rezim yang dipaksakan jarang menstabilkan pasokan minyak dengan cepat, dengan Libya dan Irak menawarkan preseden yang jelas dan menyadarkan," kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy.
Usaha PatunganVenezuela menasionalisasi industri minyaknya pada 1970-an dengan membuat Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA).
Selama tahun 1990-an, Venezuela mengambil langkah-langkah untuk membuka sektor ini bagi investasi asing. Setelah terpilihnya Hugo Chavez pada tahun 1999, Venezuela mewajibkan kepemilikan mayoritas PDVSA atas semua proyek minyak.
PDVSA mendirikan usaha patungan dengan harapan meningkatkan produksi, termasuk dengan Chevron, China National Petroleum Corporation, ENI, Total, dan Rosneft Rusia.
AS Langganan Minyak VenezuelaAmerika Serikat dulunya merupakan pembeli utama minyak Venezuela. Tapi sejak diberlakukannya sanksi, Venezuela lebih banyak menjual minyaknya ke China dalam dekade terakhir.
Venezuela berutang sekitar $10 miliar kepada China setelah China menjadi pemberi pinjaman terbesar di bawah mendiang Presiden Hugo Chavez.
Venezuela membayar kembali pinjaman dengan minyak mentah yang diangkut dalam tiga kapal tanker minyak mentah super besar yang sebelumnya dimiliki bersama oleh Venezuela dan China.
Dua dari kapal tanker super tersebut sedang mendekati Venezuela pada bulan Desember ketika Trump mengumumkan blokade terhadap semua kapal tanker yang masuk dan keluar dari negara tersebut.
Menurut dokumen PDVSA dan data pengiriman, kapal-kapal tersebut kini menunggu instruksi, karena ekspor Venezuela sebagian besar telah dihentikan.
Trump mengatakan kepada Fox News pada hari Sabtu bahwa China akan mendapatkan minyak tersebut tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461571/original/004096100_1767421500-InShot_20260103_131347990.jpg)

