JAKARTA, KOMPAS — Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan menguat dalam sepekan ke depan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global dan dinamika politik Amerika Serikat.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, harga emas dunia pada penutupan perdagangan Sabtu (3/1/2026) pagi kemarin tercatat di level 4.332 dollar AS per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri ditutup di level Rp 2.488.000 per gram.
Angka tersebut menjadi titik awal proyeksi pergerakan harga emas dunia dan logam mulia sepanjang pekan perdagangan, mulai Senin hingga Jumat (5-9/1/2026).
Ibrahim menyebutkan, apabila pada awal pekan harga emas dunia melonjak dan menembus level 4.426 dollar AS per troy ounce, harga logam mulia di pasar domestik berpotensi naik ke sekitar Rp 2.518.000 per gram. Kenaikan tersebut dapat berlanjut apabila sentimen global tetap mendukung emas sebagai aset lindung nilai.
Sebaliknya, apabila pada awal pekan, khususnya Senin pagi besok, harga emas dunia mengalami koreksi dan bergerak turun ke level 4.258 dollar AS per troy ounce, maka harga logam mulia berpotensi turun menjadi sekitar Rp 2.458.000 per gram. Ada kemungkinan penurunan sekitar Rp 30.000 dari posisi penutupan sebelumnya.
Penurunan tersebut, lanjut dia, dapat berlanjut hingga akhir pekan apabila tekanan di pasar emas dunia semakin kuat. Jika harga emas dunia melemah hingga ke kisaran 4.196 dollar AS per troy ounce pada Jumat, harga logam mulia domestik berpotensi turun ke level Rp 2.400.000 per gram.
”Kondisi ini biasanya terjadi apabila nilai tukar rupiah menguat terhadap dollar AS sehingga menahan kenaikan harga logam mulia di dalam negeri,” ujar Ibrahim saat dikonfirmasi, Minggu (4/1/2026).
Selain emas, pergerakan indeks dollar AS juga menjadi perhatian pelaku pasar. Pada penutupan Sabtu pagi, indeks dollar berada di level 98,378. Jika indeks dollar melemah, level dukungan pertama berada pada kisaran 98,098 dan dukungan kedua pada kisaran 97,834.
Sebaliknya, jika indeks dollar menguat, level resistensi pertama berada pada kisaran 98,680 dan resistensi berikutnya pada kisaran 98,926.
Level dukungan (support) yaitu level harga di mana harga suatu aset cenderung berhenti jatuh dan bahkan mungkin melambung kembali ke atas. Hal ini terjadi karena pada harga yang lebih rendah, pembeli lebih cenderung masuk ke pasar dan meningkatkan permintaan sehingga mencegah harga untuk menurun lebih lanjut.
Sedangkan, level resistensi mencerminkan level harga di mana suatu aset cenderung menghentikan gerakannya ke atas dan berpotensi berbalik arah. Pada harga aset yang lebih tinggi, penjual lebih cenderung memasuki pasar dan menciptakan kelebihan pasokan yang dapat menghambat kenaikan harga lebih lanjut.
Ibrahim menegaskan, fluktuasi harga emas dunia tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global, terutama dari sisi geopolitik dan politik internasional. Dari sisi geopolitik, terjadi eskalasi konflik di Eropa Timur.
Serangan drone Ukraina yang ditujukan ke wilayah dekat rumah dinas Presiden Rusia Vladimir Putin, dibalas Rusia dengan operasi militer di wilayah Kherson, Ukraina, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan gedung-gedung tinggi.
Situasi ini terjadi bersamaan dengan pertemuan antara Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang membahas peluang perdamaian. Namun, serangan terhadap rumah dinas Putin justru membuat konflik Rusia-Ukraina semakin berkobar.
Ketegangan geopolitik juga meningkat di Timur Tengah, khususnya Iran. Situasi ekonomi dan pelemahan tajam mata uang Iran terhadap dollar AS memicu demonstrasi besar-besaran di sejumlah kota besar. Seperti diberitakan Kompas.id, hingga Jumat (2/1/2026), dikabarkan tujuh orang telah jatuh menjadi korban jiwa.
Inflasi meroket dan nilai tukar mata uang Iran, rial, atas dollar AS anjlok. Nilai tukar 1 dollar AS adalah 1,5 juta rial. Sebagai perbandingan, pada 2021, nilai tukar 1 dollar AS adalah 250.000 rial. Satu dasawarsa lalu, nilai tukar 1 dollar AS hanya 30.000 rial.
Sanksi ekonomi AS atas Iran membuat runyam perekonomian dan kesejahteraan rakyat Iran. Di bawah tekanan tersebut, warga Iran menyerukan pembenahan oleh negara. Namun, ketika hawa unjuk rasa memanas, lewat platform Truth Social, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru ”memantik api”.
”Kami sudah siap sedia untuk terjun langsung. Jika Iran membunuh para demonstran yang berunjuk rasa dengan damai, kami akan menolong mereka,” cuitnya.
“Pernyataan Amerika ini menciptakan ketegangan baru karena menyentuh urusan dalam negeri Iran yang sedang menghadapi permasalahan ekonomi, dimana mata uangnya terus mengalamai pelemahan yang cukup signifikan,” kata Ibrahim.
Di kawasan Amerika Latin, situasi geopolitik juga memanas. Langkah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang melancarkan operasi militer terhadap Venezuela.
Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya ditangkap dan diekstradisi ke Amerika Serikat. Langkah ini menuai kecaman dari sejumlah negara Amerika Latin, Eropa, dan Rusia. Aksi AS ini menunjukkan eskalasi geopolitik yang serius.
“Situasi geopolitik memang benar-benar membuat harga emas kemungkinan besar akan kembali mendorong kenaikan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Dari sisi politik domestik Amerika Serikat, tindakan Trump melakukan operasi militer tanpa persetujuan Kongres dinilai berpotensi memicu ketegangan internal. Ibrahim menilai, Partai Demokrat di Kongres berpeluang mengajukan mosi tidak percaya terhadap Trump.
Meski Trump menyatakan bahwa langkah tersebut bukan upaya mengganti kepemimpinan Venezuela, melainkan penegakan hukum terhadap Maduro yang dituduh terlibat penyelundupan narkoba, kontroversi tetap akan menguat.
“Biasanya, operasi semacam ini memerlukan persetujuan atau setidaknya pemberitahuan kepada Kongres. Dalam kasus Venezuela, prosedur itu tidak ditempuh,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, sentimen positif datang dari Asia, khususnya Tiongkok. Data ekonomi terbaru menunjukkan kondisi ekonomi Negeri Tirai Bambu mulai membaik, terutama di sektor infrastruktur menjelang akhir 2025. Perbaikan ini memberi harapan pemulihan ekonomi Asia setelah tertekan krisis sektor properti di Tiongkok.
Selain itu, kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memengaruhi prospek harga emas. Bank Sentral AS pada Januari kembali melanjutkan program pembelian obligasi pemerintah atau quantitative easing senilai sekitar 40 miliar dollar AS per bulan. Langkah ini dinilai berpotensi meningkatkan likuiditas global dan mendorong kenaikan harga emas.
Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, dinamika politik AS, serta stimulus moneter yang berlanjut, harga emas dunia berpeluang melonjak signifikan. Dampaknya, nilai tukar rupiah berpotensi melemah dan harga logam mulia di dalam negeri bisa kembali naik.
Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) konsentrat tembaga (Cu ≥ 15 persen) untuk periode pertama Januari 2026 sebesar USD 5.868,51 per Wet Metric Ton (WMT). Nilai tersebut naik 4,54 persen dibandingkan periode kedua Desember 2025 yang tercatat USD 5.613,83 per WMT.
Kenaikan juga dialami HPE emas yang menjadi USD 138.324,41 per kilogram dari USD 133.912,59 per kilogram. Selain itu, Harga Referensi (HR) emas naik menjadi USD 4.302,37 per troy ounce (t oz) dari USD 4.165,15 per t oz.
HR emas digunakan sebagai dasar penetapan tarif bea keluar emas. Sementara HPE emas digunakan sebagai acuan harga ekspor dalam pengenaan bea keluar ekspor emas.
Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kemendag) Nomor 2404 Tahun 2025 tentang Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar, yang berlaku efektif untuk periode 1–14 Januari 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Tommy Andana dalam siaran persnya mengatakan, penguatan HPE konsentrat tembaga didorong kenaikan harga seluruh mineral penyusunnya secara simultan.
“Selama periode pengumpulan data, harga tembaga (Cu) naik 5,75 persen, emas (Au) naik 3,29 persen, dan perak mencatatkan lonjakan tertinggi sebesar 16,46 persen. Sinergi kenaikan ketiga logam ini berdampak langsung pada nilai jual konsentrat tembaga di pasar ekspor,” jelasnya.
Tommy menegaskan, penetapan HPE dan HR didasarkan pada masukan teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengacu pada harga pasar internasional. Secara spesifik, harga tembaga merujuk pada London Metal Exchange (LME), sementara emas dan perak mengacu pada London Bullion Market Association (LBMA).
Proses ini dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, hingga Kementerian Perindustrian.
“Upaya kolaboratif ini memastikan penetapan harga dilakukan secara kredibel dan transparan untuk menjamin kepastian berusaha bagi para pelaku industri,” tambah Tommy.




