Oleh : Erdy Nasrul, Wartawan Republika, Mahasiswa Pascasarjana FISIPOL UMJ
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua sejati adalah mereka yang menanam doa jauh sebelum anak-anaknya tumbuh dewasa. Doa itu disiram dengan air kesabaran, dipupuk dengan laku spiritual, dan dijaga dengan keyakinan bahwa Allah tak pernah menyia-nyiakan munajat yang tulus.
Imam Hasan al-Bashri bahkan menganjurkan banyak istighfar agar anak dan keturunan menjadi orang-orang saleh. Dalam tradisi para ulama, masa depan anak tidak hanya dirancang lewat pendidikan dan kerja keras, tetapi juga lewat sujud panjang yang sunyi.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Obituarium Prof Amal: Sarjana Pejuang
- Gugur di Jalan Amanah: in Memoriam Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi
- Duka Mendikdasmen: Prof Amal Fathullah Ulama Pejuang Pesantren
Al-Faqih al-Muqaddam, salah seorang leluhur para habaib, pernah memohon tiga perkara kepada Allah untuk keturunannya: diselamatkan dari fitnah, dicukupkan rezekinya, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Doa itu tercatat dalam buku Ulama Dzuriyat Rasulullah karya Sayid Zen bin Smith.
Sementara Syekh Abu Bakar bin Salim memperbanyak tirakat, bermunajat di sepertiga malam, bahkan menjaga wudhu Isya hingga Shubuh, agar anak cucunya kelak menjadi hamba Allah yang bertakwa. Spirit inilah yang diwariskan lintas zaman, sebuah laku sunyi yang buahnya baru dipetik puluhan tahun kemudian.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Tradisi itulah yang diteruskan pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Imam Zarkasyi (1910–1985). Bagi Pak Zar, doa bukan sekadar ritual, melainkan napas perjuangan. Ia mendoakan anak-anaknya dengan sepenuh hati, termasuk Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi (1949–2026), yang kelak menjelma menjadi salah satu pilar penting dunia pesantren Indonesia.
Kisah ini bermula dari perjalanan Pak Zar ke Mesir pada 1957. Di negeri para nabi itu, putra bungsu KH Santoso Anom Besari dan Nyai Sudarmi bertemu dengan Menteri Pendidikan Mesir. Tujuannya strategis: memperjuangkan penyetaraan alumni Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Gontor dengan lulusan sekolah menengah atas di Mesir. Jika berhasil, jalan santri Gontor menuju perguruan tinggi Timur Tengah akan terbuka lebar.
Ikhtiar itu dikabulkan. Dari sana, Pak Zar mengutus kader-kader terbaiknya: Ustadz Dhomiri Fadhil, Ustadz Muhammad Ghufron, dan Ustadz Imam Subakir, yang kelak memimpin Institut Studi Islam Darussalam (kini UNIDA) Gontor. Mereka menyerap dzauq bahasa Arab Mesir, lalu pulang membawa mata air linguistik yang mengaliri seluruh santri Gontor pada masa itu.
Namun perjuangan belum selesai. Pada 1972, Pak Zar kembali ke Mesir untuk menghadiri Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Universitas al-Azhar. Ia ingin menyetarakan sarjana muda Institut Pendidikan Darussalam (IPD) dengan gelar Licence (Lc) Mesir. Upaya itu belum berhasil. Tetapi bagi seorang pejuang, kegagalan hanyalah jeda, bukan akhir.
Atas prakarsa KH Abdullah Syukri, kakak tertua Amal, dan restu Pak Zar, Amal Fathullah berangkat ke Mesir. Ia tidak sekadar menjadi mahasiswa. Di Darul Ulum, Amal melanjutkan studi magister, sembari membangun komunikasi dengan para pemangku kepentingan pendidikan tinggi. Perlahan, satu demi satu pintu terbuka, hingga akhirnya penyetaraan sarjana muda IPD dengan Lc Universitas Darul Ulum dan al-Azhar berhasil diwujudkan. “Teks muadalah itu saya kirimkan ke beliau (Pak Zar),” tulis Amal dalam Biografi KH Imam Zarkasyi terbitan 1996.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5429073/original/001791400_1764572941-John_Herdman.jpg)