MODEL pemberdayaan masyarakat yang telah dirancang dan dilaksanakan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) perlu dipikirkan pengembangannya ke depan. Pasalnya, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief menyebut, pemberdayaan masyarakat membutuhkan pemikiran yang terus menerus untuk bisa dikembangkan agar lebih baik.
"Dalam hal ini bagaimana arah baru dari pemberdayaan masyarakat yang akan dilakukan Muhammadiyah ke depan,” terang Hilman saat membuka Outlook 2026 di Gedoeng Moehammadijah, Kota Yogyakarta, Sabtu (3/6).
Pengembangan pemberdayaan masyarakat diperlukan untuk menjawab pertanyaan, sampai kapan pola gerakan pemberdayaan menggunakan basis pendanaan dari filantropi Islam akan terus bisa dijalankan?
Hilman mengatakan, pemberdayaan masyarakat berdasarkan filantropi sekaligus kewirausahaan atau bisa disebut sebagai philantropreneurship akan menjadi pengembangan pemberdayaan masyarakat ke depan..
Guru Besar Filantropi Islam ini memandang selama ini yang dilakukan oleh MPM adalah development sekaligus empowerment. Artinya, Muhammadiyah telah membangun fasilitas yang disediakan bagi masyarakat sekaligus memberikan kekuatan, memberikan kemampuan, menambah tenaga kepada masyarakat agar lebih mandiri tidak tergantung pada entitas eksternal.
Merujuk beberapa literatur, lanjut dia, masa depan pemberdayaan masyarkat adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi baru dalam rangka memperkuat masyarakat untuk mentransformasi masa depannya.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin mengatakan, tema agenda MPM Outlook 2026 adalah “Masyarakat Berdaya, Indonesia Berjaya”. Agenda ini dihadiri internal MPM PP Muhammadiyah dan berbagai media.
MPM Outlook 2026 merupakan bagian agenda rutinan yang dilakukan oleh MPM PP Muhammadiyah – dengan kemasan berbeda. Sebab sebelum-sebelumnya diselenggarakan berbentuk Rapat Konsolidasi.
Usaha MPM melihat tahun 2026 dilakukan atas kesadaran waktu, Yamin menjelaskan, kehidupan manusia terbagi ke dalam tiga waktu, yakni kemarin, sekarang, dan masa depan.
“Dalam persiapan melangkah ke depan – dalam konsolidasi itu kita tidak boleh takut melakukan repositioning, bahkan melakukan replacement kalau diperlukan. Karena dinamika sosial terus berjalan secara distributif,” ungkap Yamin.
Namun demikian, seluruh gerak langkah yang dilakukan MPM menjadi satu tarikan nafas dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah – khususnya dalam program prioritas yang dihasilkan di Muktamar 48 itu.
Dari delapan program prioritas Muktamar 48, MPM fokus pada nomor tiga yaitu memperkuat dan memperluas basis umat di akar rumput dalam kesatuan langkah Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah, Dakwah Kultural, dan Dakwah Komunitas. (E-2)





