Prospek 8 Emiten EBT di 2026: PGEO, ARKO, ADRO hingga BREN, Intip Katalisnya

katadata.co.id
2 hari lalu
Cover Berita

Arah bisnis emiten di Bursa Efek Indonesia kian condong ke energi baru terbarukan (EBT). Sejumlah korporasi lintas sektor mulai dari tambang, energi, hingga industri kompak mempercepat ekspansi ke energi hijau, seiring peluang pertumbuhan yang makin terbuka dan tekanan dekarbonisasi global yang kian menguat.

Momentum ini juga ditopang rencana Danantara Investment Management (DIM) yang menjajaki peluang investasi pada proyek-proyek listrik berbasis EBT. Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong bauran energi nasional, sekaligus membuka ruang pembiayaan baru bagi pengembangan energi bersih di dalam negeri.

Mirae Asset Sekuritas dalam riset terbaru menyebutkan salah satu pendorong laju pertumbuhan emiten berbasis EBT pada 2026 ini adalah Langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang mendorong transsi energi. Keberadaan Danantara diyakini menjadi katalis dalam perkembangan energi hijau. 

Meurut Mirae, pada 2026 BPI Danantara menetapkan fokus investasi pada dua sektor utama dalam enam bulan ke depan, yaitu mineral dan energi. Untuk sektor energi, cakupannya sangat luas, mulai dari energi baru dan terbarukan, minyak dan gas bumi, hingga petrokimia. 

"Langkah ini menjadi angin segar bagi para emiten EBT yang selama ini mengembangkan teknologi dan kapasitas pembangkit energi bersih di Tanah Air," tulis Mirae dalam riset yang dikutip Senin (5/1). 

Hal lain yang menjadi perhatian Mirae adalah  integrasi teknologi digital dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi operasional. Seiring meningkatnya investasi dan pengembangan kapasitas pembangkit, penggunaan teknologi digital seperti smart grid, sistem pemantauan real-time, dan analitik data besar semakin diterapkan oleh perusahaan-perusahaan EBT.

Kolaborasi antara emiten EBT dengan startup teknologi atau perusahaan teknologi energi turut mempercepat proses transformasi ini. Selain itu integrasi teknologi canggih memungkinkan pemantauan kualitas energi dan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya yang ramah lingkungan.

Dari lantai bursa, geliat ini tercermin pada strategi dan kinerja saham delapan emiten EBT, yakni TOBA, ADRO, ARKO, BREN, ARCI, DSSA, dan CDIA. Berikut peta bisnis dan prospek masing-masing emiten.

Geliat 8 Emiten EBT di Pasar Modal PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)

Sebagai salah satu emiten unggulan di sektor energi panas bumi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus memperkuat posisinya di industri energi baru terbarukan. Terbaru, perseroan menjalin kerja sama strategis dengan Danantara dalam proyek yang masuk kategori investasi prioritas nasional, membuka ruang ekspansi jangka menengah.

Dalam keterbukaan informasi terbaru, manajemen PGEO menyampaikan komitmen memperluas pemanfaatan energi bersih dengan mengembangkan green data center berbasis energi panas bumi. Langkah ini diperkuat melalui kolaborasi strategis dengan Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Kesepakatan ini akan menjadi fondasi teknis dan komersial bagi peta jalan pengembangan infrastruktur green data center, yang selanjutnya jadi dasar untuk masuk ke tahap implementasi. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Edwil Suzandi menjelaskan terobosan ini merupakan langkah strategis untuk membuka peluang baru industri digital beremisi rendah di Indonesia.  Terlebih, saat ini Indonesia tengah memasuki era transformasi digital yang mendorong lonjakan kebutuhan data center.

Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat bahwa tren ini ditopang oleh lebih dari 212 juta pengguna internet serta fasilitas data center yang diperkirakan terus bertambah hingga 2029 - 2030. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan konsumsi kelistrikan di industri, hampir 26% didorong oleh pertumbuhan data center. Kapasitas data center nasional diproyeksikan naik dari 520 megawatt (MW) pada 2025 menjadi 1,8 gigawatt (GW) pada 2030.

"Hal ini membuka peluang bagi PGE untuk terlibat lebih jauh dalam sektor digital rendah karbon. PGE ingin menjadi bagian dari perjalanan ini, memastikan bahwa pertumbuhan digital Indonesia dibangun dengan bertanggung jawab dan berkelanjutan," ujar Edwil

Dari sisi kinerja keuangan, laba PGEO pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran US$132 juta hingga US$138 juta, atau sekitar Rp2,25 triliun. Dengan prospek pertumbuhan yang solid dan target harga saham yang relatif atraktif, PGEO dipandang berpotensi menjadi salah satu emiten EBT dengan kinerja menonjol di pasar modal.

Transformasi Hijau TOBA

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) tengah memasuki fase penting transformasi bisnis. Perusahaan ini menggeser fokus dari batu bara menuju energi hijau dan ekonomi sirkular, sebagai bagian dari peta jalan dekarbonisasi TBS2030. TOBA menargetkan keluar sepenuhnya dari bisnis batu bara sebelum 2030.

Manajemen menyebut cadangan batu bara perseroan diproyeksikan habis dalam dua tahun ke depan, sehingga fase transisi dipercepat. TOBA mengalokasikan belanja modal hingga US$600 juta dalam lima tahun untuk mengembangkan tiga pilar bisnis baru, termasuk pengelolaan limbah dan energi hijau regional.

Secara pasar, saham TOBA ditutup di Rp740 dengan kapitalisasi Rp6,11 triliun. Kinerja year to date (YTD) saham ini masih melonjak 85,93%, meski terkoreksi dalam sebulan terakhir.

ADRO Fokus Mineral dan EBT

Setelah memisahkan bisnis batu baranya ke PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) kini memusatkan perhatian pada bisnis mineral dan energi terbarukan. Pengembangan EBT dijalankan melalui PT Alamtri Renewables Indonesia, dengan proyek PLTS di Kalimantan Tengah serta PLTA di kawasan industri Kalimantan Utara.

Namun, dari sisi saham, ADRO masih berada dalam tekanan. Harga sahamnya berada di Rp1.810 dengan kapitalisasi Rp53,20 triliun, sementara kinerja YTD tercatat turun 25,51%.

Lonjakan ARKO dari PLTA

Berbeda dengan ADRO, PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) justru menjadi salah satu bintang di sektor EBT. Emiten afiliasi Grup Astra ini mencatatkan lonjakan harga saham 546,74% YTD, seiring agresivitas pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

ARKO tengah membangun PLTA Kukusan II di Lampung dan proyek Tomoni di Sulawesi Selatan, serta menyiapkan proyek Pongbembe di Tana Toraja yang disebut akan menjadi proyek terbesar perseroan. Saham ARKO kini berada di Rp5.950 dengan kapitalisasi pasar Rp17,42 triliun.

BREN Perkuat Geothermal dan Angin

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten EBT milik Prajogo Pangestu, tetap fokus memperkuat portofolio geothermal dan wind farm. Perseroan menargetkan total kapasitas pembangkit mencapai 2.300 MW pada 2032, dengan sejumlah proyek strategis yang rampung bertahap hingga 2026.

Saat ini BREN mengoperasikan tiga aset panas bumi utama—Wayang Windu, Salak, dan Darajat—dengan total kapasitas 710 MW, menjadikannya pemimpin nasional di sektor panas bumi. Saham BREN ditutup di Rp9.700 dengan kapitalisasi jumbo Rp1.297 triliun.

ARCI Masuk Bisnis Panas Bumi

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga mulai merambah energi panas bumi melalui pembentukan perusahaan patungan PT Toka Tindung Geothermal (TTG) bersama Ormat Geothermal Indonesia. Proyek panas bumi di Bitung, Sulawesi Utara, menargetkan kapasitas 40 MW dan telah mengantongi izin panas bumi.

Langkah ini membuka sumber pendapatan baru di luar bisnis emas dan perak. Saham ARCI berada di Rp1.620 dengan kapitalisasi Rp40,88 triliun, dan melonjak 553,23% YTD.

DSSA Bangun Rantai Pasok EBT

Emiten Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), mengembangkan portofolio EBT dari hulu ke hilir. Selain panas bumi dengan potensi awal 440 MW, DSSA juga membangun pabrik sel dan panel surya berkapasitas 1 GW per tahun di Kawasan Industri Kendal. Saham DSSA ditutup di Rp101.000 dengan kapitalisasi Rp778,26 triliun, dan mencatatkan kenaikan 172,97% YTD.

CDIA Dorong PLTS Kawasan Industri

Sementara itu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melalui anak usaha PT Krakatau Chandra Energi mengoperasikan PLTS baru berkapasitas 4,7 MWp di Kawasan Industri Krakatau, Cilegon. Proyek ini meningkatkan total kapasitas terpasang CDI Group menjadi 11 MWp dan mendukung target bauran energi nasional. Saham CDIA berada di Rp1.670 dengan kapitalisasi Rp208,47 triliun, sementara kinerja YTD belum tercatat.





Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PDIP dan Sikap Penolakan Pilkada via DPRD
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Rombongan Guru Asal Jakarta yang Kecelakaan di Tol Ungaran Ternyata Mau Melayat
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Penampakan Markas Scam Internasional di Sleman: Kantor 24 Jam, Izin 'Siluman' dari Jabar
• 22 jam lalusuara.com
thumb
Cara Bisnis Ditemukan di Mesin Pencari & Media Sosial Lewat Konsep "Topical Authority"
• 15 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Kejati NTT Selamatkan Rp16,7 Miliar dari 83 Perkara Korupsi Sepanjang 2025
• 3 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.