Viral Video Keluarga Kades di Garut Intimidasi Warga, Dedi Mulyadi Beri Tanggapan sampai Sebut Bukan Zamannya

grid.id
2 hari lalu
Cover Berita

Grid.IDSebuah video soal keluarga Kades di Garut intimidasi warga kini menjadi sorotan. Dedi Mulyadi beri tanggapan sampai sebut bukan zamannya.

Viral video keluarga kepala desa di Desa Panggalih, Garut, melakukan intimidasi dan kekerasan fisik terhadap warga bernama Holis Muhlisin. Korban mengkritik pembangunan di desa melalui media sosial, yang memicu kemarahan keluarga kades.

Video keluarga Kades di Garut intimidasi warga viral di sosial media. Dedi Mulyadi beri tanggapan sampai sebut bukan zamannya.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, akhirnya angkat bicara terkait beredarnya video yang memperlihatkan dugaan intimidasi terhadap warga oleh keluarga kepala desa di Garut.

Rekaman tersebut ramai diperbincangkan setelah tersebar luas di berbagai platform media sosial. Insiden itu diketahui terjadi di Kampung Babakangadoh RT01 RW06, Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 27 Oktober 2025.

Dalam video yang beredar, tampak beberapa orang melontarkan perkataan bernada keras kepada seorang pria yang terlihat menunduk sambil bersandar di pagar.

"Kamu mau bagaimana? Mau tenar? Mau sok jago di media sosial?" ucap seorang pria bertopi kepada korban.

Tak hanya itu, pria lain terlihat menarik bagian leher jaket korban sebelum mendorongnya. Sementara itu, seorang perempuan mendekati korban sambil merekam dengan ponselnya dan mengeluarkan umpatan kasar.

Korban diketahui bernama Holis Muhlisin (38), warga Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Ia diduga mendapat tekanan dari keluarga kepala desa usai mengunggah video kondisi jalan rusak. Peristiwa tersebut terjadi pada 27 Oktober 2025.

Menanggapi kejadian itu, Dedi Mulyadi mengingatkan seluruh aparatur desa, mulai dari RT, RW, kepala dusun, hingga perangkat desa lainnya, agar tidak bersikap represif terhadap warga.

Ia menegaskan bahwa kritik dari masyarakat, termasuk unggahan mengenai pembangunan yang belum merata, kerusakan jalan, drainase, saluran air, hingga kondisi rumah warga kurang mampu, tidak boleh dibalas dengan ancaman atau intimidasi.

 

"Manakala ada orang melakukan kritik, memposting pembangunan yang belum berkeadilan, jalan rusak, drainase rusak, saluran air rusak, rumah rakyat miskin tidak ada yang peduli, jangan pernah melakukan intimidasi atau pengancaman," kata Dedi Mulyadi, dikutip dari TikTok pribadinya, Sabtu (3/1/2026).

"Dalam dunia yang semakin terbuka, kita nih aparat kalau ada warga yang menceritakan jeleknya pembangunan, harus menerima dengan lapang dada. Selanjutnya, kita berusaha untuk melakukan perubahan dan perbaikan.

Menurut Dedi Mulyadi, caci maki adalah bagian dari konsekuensi seorang pemimpin yang harus dihadapi ketika terpilih.

"Sudah bukan musimnya lagi kita anti kritik dan mencaci maki orang yang mengkritik," tutur Dedi Mulyadi.

"Bahkan, kita harus tahan terhadap caci maki, karena bisa jadi kita jadi pemimpin, salah satu hal yang harus kita alami adalah dicaci maki," bebernya.

Mantan Bupati Purwakarta itu pun berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi dan meminta kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Garut untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut.

"Semoga peristiwa itu tidak terulang lagi. Saya minta ke seluruh jajaran masyarakat, kepala desa yang ada di sana, melakukan rekonsiliasi dan perbaikan pembangunan," ujar Dedi Mulyadi.

"Kepada bupati untuk segera menanganinya, jangan membiarkan ada tindakan-tindakan intimidatif terhadap kritik," tutupnya.

Kronologi Peristiwa

Insiden dugaan intimidasi yang dilakukan keluarga kepala desa di Garut dialami oleh seorang warga bernama Holis Muhlisin (31).

"Iya betul itu adalah saya, kejadiannya tanggal 27 Oktober 2025, kemudian saya posting di Facebook 31 Desember 2025," ujarnya melalui sambungan telepon, dikutip dari TribunJabar.id.

 

Holis menjelaskan, kejadian tersebut bermula ketika dirinya berniat menemui seseorang di wilayah desanya untuk membahas persoalan terkait akun Facebook. Namun, pertemuan itu ternyata berlangsung di halaman rumah kepala desa yang berada di Kampung Pasircamat.

"Padahal urusan saya dengan teman soal akun Facebook palsu sudah selesai, tapi tiba-tiba ada beberapa keluarga kepala desa yang mengintimidasi saya," ungkapnya.

Menurut pengakuannya, tindakan intimidasi tersebut melibatkan empat orang, yakni istri kepala desa, anak, menantu, serta keponakan kepala desa. Ia juga mengaku mengalami kekerasan fisik berupa cekikan di bagian leher serta pukulan di punggung.

"Saya sebagai korban tidak enak, digituin sama orang lain. Saya melakukan (posting video) untuk kemajuan desa," ucapnya.

Dalam video yang ia unggah, terlihat Holis menjadi sasaran makian dari keluarga kepala desa. Beberapa di antaranya bahkan melontarkan kata-kata bernada merendahkan. Sementara Holis tampak hanya terdiam, dua pria dan satu perempuan terus melontarkan cacian kepadanya.

"Sebetulnya saya juga takut pas upload, tapi saya ingat kata Pak Gubernur agar mengunggah pembangunan di desa," tandasnya.

Tribunjabar.id telah mencoba melakukan konfirmasi terkait peristiwa tersebut melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga Minggu malam yang bersangkutan belum memberikan respons. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Bangsa Merdeka Harus Menjamin Makan Rakyatnya
• 12 jam laluokezone.com
thumb
16 Orang Tewas Akibat Banjir Bandang di Sitaro, Tiga Lainnya Dilaporkan Hilang
• 20 jam laludisway.id
thumb
Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Dibongkar Pekan Depan
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Catat Tiga Titik Demo di Jakarta Hari Ini
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Cari Pelatih Interim, Manchester United Dekati Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick
• 6 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.