Saham-saham milik Grup Bakrie kembali mencuri perhatian pasar. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melonjak di tengah derasnya aksi beli asing, seiring masuknya Grup Salim yang memicu optimisme baru investor di 2026.
Transformasi BUMI mulai terlihat sejak Mach Energy Hongkong Limited yang merupakan afiliasi Grup Salim menguasai hampir setengah saham perusahaan. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Desember 2025, Mach Energy menggenggam 45,78% saham BUMI atau setara 170 miliar saham. Sementara entitas lain yang juga terafiliasi Salim Group, Treasure Global Investments Limited, memiliki 8,08% saham.
Masuknya Salim Group tidak berdiri sendiri. Investor institusional global seperti China Investment Corporation (CIC) melalui Chengdong Investment, serta nama-nama besar seperti UBS, Vanguard, dan Dimensional Fund Advisors, turut memperkuat struktur pemegang saham BUMI. Kombinasi modal domestik dan global ini mengubah persepsi pasar terhadap BUMI, dari emiten batu bara konvensional menjadi pemain energi regional dengan diversifikasi bisnis.
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai kinerja emiten Grup Bakrie pada 2026 masih positif, namun investor perlu bersikap selektif. Menurut dia, perbaikan fundamental perusahaan didorong oleh proses restrukturisasi utang dan masuknya mitra strategis sepanjang 2025.
Selain itu, Wafi berpandangan, bangkitnya saham-saham Bakrie setelah terpuruk beberapa tahun ke belakang terjadi karena masuknya salim, yang disebut sebagai “Salim Effect” ke beberapa perusahaan Bakrie sehingga menjadi usaha kongsi. Misalnya adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
“Outlook 2026 Grup Bakrie tetap oke tapi selektif. Fundamental membaik drastis karena "Salim Effect" dan bersih-bersih utang di 2025,” kata Wafi kepada Katadata.co.id seperti dikutip Senin (5/1).
Wafi menyebut BRMS sebagai saham yang paling menarik baginya. Sebab telah memasuki fase produksi emas dengan kapasitas penuh. Di saat yang sama, harga emas global masih berada dalam tren bullish. Adapun BUMI, kata dia, kini lebih berperan sebagai cash cow dengan fokus pada efisiensi dan pembagian dividen, meski ruang kenaikan harga sahamnya relatif terbatas akibat tekanan harga batu bara.
Pada perdagangan perdana 2026, Jumat (2/1), investor asing mencatatkan net buy Rp 1,06 triliun di pasar saham. Dari total transaksi tersebut, BUMI menjadi salah satu tujuan utama. Secara mingguan, harga saham BUMI melesat 16,02%, sekaligus menyumbang sekitar 15 poin terhadap penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
BUMI juga mencatatkan likuiditas tertinggi di bursa. Nilai transaksinya mencapai Rp 7,81 triliun dengan volume perdagangan 20,35 miliar saham dalam sepekan. Pada Jumat (2/1), investor asing memborong saham BUMI senilai Rp 889 miliar, menjadikannya pembelian asing terbesar hari itu.
Minat investor institusional tercermin dari pergerakan sekuritas global. JP Morgan membeli saham BUMI di harga rata-rata Rp 407 sebanyak 6 juta saham, sementara UBS Sekuritas memborong 16,4 juta saham di kisaran Rp 402. Saham BUMI kemudian ditutup menguat di level Rp 420.
Tak hanya BUMI, saham BRMS juga mencatatkan kinerja solid dengan kenaikan 8,76% dalam sepekan dan nilai transaksi mencapai Rp 1,19 triliun. Penguatan BRMS berkontribusi hampir 14 poin terhadap IHSG.
Sementara itu, saham Bakrie lainnya, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), ikut terseret arus minat investor pada sektor energi. Meski tak masuk jajaran saham dengan nilai transaksi terbesar, ENRG tetap mencatatkan perdagangan aktif seiring lonjakan indeks sektor energi yang naik 6,40% sepanjang pekan.
Kilas Balik Kinerja Saham Bakrie dan Prospek di 2026Sepanjang 2025, saham-saham Grup Bakrie menunjukkan performa mencolok. Dari 12 emiten terafiliasi, sebagian besar mencatatkan kenaikan harga ratusan persen. ENRG melesat hampir 596%, DEWA naik lebih dari 503%, sementara BRMS dan BUMI masing-masing menguat di atas 200%.
Lonjakan ini ditopang oleh berbagai aksi korporasi, mulai dari restrukturisasi utang, diversifikasi bisnis, hingga ekspansi ke sektor emas, migas, dan energi baru. BRMS, misalnya, mulai menuai sentimen positif setelah masuk indeks MSCI dan memulai produksi emas di tambang Palu.
Di sisi lain, BUMI mempercepat diversifikasi dengan menerbitkan obligasi jumbo untuk mengakuisisi tambang emas di Australia. ENRG juga menyiapkan penerbitan obligasi dan belanja modal besar guna memperluas portofolio migas.
Korea Investment & Sekuritas Indonesia berpandangan perbaikan fundamental emiten Bakrie didorong oleh restrukturisasi utang dan masuknya mitra strategis sepanjang 2025. Tak hanya BUMI dan BRMS, saham grup Bakrie lainnya juga dinilai masih memiliki peluang.
Wafi menjelaskan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) misalnya dinilai menarik sebagai saham turnaround. Sedangkan saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) masih tergolong spekulatif. Penurunan suku bunga global berpotensi menjadi katalis tambahan melalui penurunan beban utang.
Pandangan senada disampaikan Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta. Ia menilai masuknya BUMI dan BRMS ke indeks global meningkatkan peluang aliran dana asing. Namun, ia mengingatkan volatilitas harga komoditas dan struktur utang masih menjadi tantangan utama.
“Sebagian saham Grup Bakrie bukan blue chip. Kapitalisasinya besar, tapi volatilitas tetap tinggi. Investor perlu mencermati risiko ini,” kata Nafan.




